Ilustrasi/RM
Ilustrasi/RM
Menurutnya, bukan hanya partai politik saja yang memiliki kepentingan agar buruh tetap terpecah belah. Namun, mulai dari pemerintahan di eksekutif, lembaga-lembaga pengusaha, para aktivis yang disusupi, aparat penegak hukum bahkan tokoh-tokoh dan lembaga-lembaga keagamaan dipecah belah agar buruh tidak bisa bersatu.
"Sampai sekarang, kekuatan buruh dipecah-pecah. Sehingga hanya mampu bergerak secara parsial. Buruh lebih banyak dimanfaatkan untuk mendulang suara dalam proses-proses pemilihan politik seperti di Pilkada, Pilgub bakan Pilpres dan Pileg, setelah si calon terpilih ya buruh ditinggalkan begitu saja. Masih selalu begitu saja hingga kini,†tutur Nining di Jakarta, Selasa (21/11).
Populer
Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15
Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11
Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16
Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33
Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07
Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11
Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04
UPDATE
Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56
Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30
Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04
Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40
Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20
Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05
Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41
Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14
Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52
Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27