Berita

Foto/Net

Bisnis

Kemudahan Perizinan & Pajak Malah Anjlok

Ranking Ease of Doing Business Naik 19 Peringkat
KAMIS, 02 NOVEMBER 2017 | 09:58 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

The World Bank (Bank Dunia) merilis peringkat Ease of Doing Business (EoDB) terbaru­nya, untuk tahun 2018, Selasa (31/10). Posisi Indonesia cu­kup mengembirakan, berada di peringkat ke-72 dari 190 negara yang disurvei. Posisi tersebut naik 19 peringkat dibandingkan tahun lalu yang berada di urutan ke-91.

Posisi Indonesia ini cukup baik, lebih tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya seperti Afrika Selatan (82), India (100), Filipina (113), dan Brazil (125). Pada tahun ini, posisi Indonesia berhasil me­lewati China yang berada pada peringkat ke-78.

Namun, posisi Indonesia masih kalah bila bandingkan 5 negara tetangga. Yakni Singapura (2), Malaysia (24), Thailand (26), Brunei Darussalam (56), dan Vietnam (68).


Dalam laporannya, Bank Dunia menaikkan peringkat EoBD karena menilai Indonesia sebagai 10 negara terbaik yang melakukan reformasi kemuda­han bisnis selama 15 tahun terakhir. Beberapa reformasi yang telah dilakukan untuk mencapai kenaikan peringkat tersebut, antara lain biaya memulai usaha dibuat lebih rendah dari 19,4 persen ke 10,9 persen.

Biaya mendapatkan sambungan listrik dibuat lebih mu­rah dengan mengurangi biaya sambungan dan sertifikasi kabel, yaitu 276 persen dari pendapatan per kapita turun dari sebelumnya 357 persen. Kemudian, akses perkreditan mengalami kenai­kan dengan hadirnya biro kredit baru. Perdagangan lintas negara semakin baik dengan adanya penagihan elektronik untuk pa­jak, bea cukai, serta pendapatan bukan pajak.

Selain itu, pendaftaran properti dibuat mudah dengan pengurangan pajak sehingga mengurangi biaya keseluruhan dari 10,8 persen menjadi 8,3 persen dari nilai properti. Hak pemegang saham minoritas juga diperkuat dengan adanya pengangkatan hak, peningkatan peran mereka dalam keputusan perusahaan besar, dan pening­katan transparansi perusahaan.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati bangga dengan kenaikan peringkat ke­mudahan bisnis Indonesia.

"Pencapaian ini merupakan pengakuan dunia terhadap per­baikan yang sedang dilaku­kan pemerintah. Peningkatan kepercayaan pihak eksternal, termasuk investor dan lembaga pemeringkat terhadap potensi perekonomian Indonesia, men­jadi modal penting bagi pe­merintah untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi," kata Sri Mulyani.

Sri berjanji akan terus berupaya mendorong perkembangan iklim usaha melalui perbaikan regulasi baik di level pusat maupun daerah.

Jangan Cepat Puas


Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengapresiasi capaian tersebut. Hal tersebut, menurutnya, dapat mendorong investasi masuk ke Indonesia.

"Pertumbuhan investasi lang­sung dapat meningkat di atas 5,7 persen tahun ini seiring kepercayaan investor global," kata Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Untuk jangka pendek, lanjut­nya, akan memberikan pengaruh positif terhadap investasi por­tofolio saham dan surat utang. Sedangkan investasi langsung, baru terasa pasca pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pemilihan presiden (pilpres).

Bhima mengingatkan jajaran Kabinet Kerja untuk tidak cepat puas. Sebab, target Presiden Jokowi, Indonesia berada di­peringkat ke 40. Selain itu, meskipun peringkat mengalami kenaikan, ada pekerjaan rumah (PR) yang penting yang harus diselesaikan.

"Dalam rilis Bank Dunia, walau peringkat Indonesia naik, tapi untuk peringkat terkait perizinannya berada di peringkat 144 dari 190," ungkap Bhima.

Selain perizinan, Bhima menyoroti masalah perbaikan perpajakan. Sebab, ranking perpajakan turun dari 104 men­jadi 114. Level itu menunjukkan bahwa prosedur pembayaran pajak baik di pusat maupun darah masih menyulitkan pelaku usaha.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menilai, kenaikan peringkat itu menjadi tantangan berat bagi pemerintah untuk membuktikan bahwa kenaikan peringkat tersebut sejalan den­gan fakta di lapangan.

"Bank Dunia hanya mengam­bil sampel dari dua daerah, Ja­karta dan Surabaya. Kedua kota ini memang sudah mengalami perbaikan. Tapi bagaimana den­gan kota lain, terutama daerah kecil, tentu tidak bisa dipungkiri banyak investor menghadapi kendala," ujar Hariyadi. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya