RMOL. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengapresiasi Festival Fulan Fehan di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Dalam festival ini ditampilkan Likurai, yang merupakan nama tarian perang asal Kabupaten Belu, NTT. Dalam aksi ini, di bawah lereng, lebih dari enam ribu orang berjajar. Kemudian tiba-tiba puluhan orang berkuda keluar dari balik bukit seakan mengejar musuh di bawah sana.
Di bawah lereng, para pria menari sambil membawa pedang. Sementara para wanita beserta anak-anak menari sambil menabuh tihar (kendang kecil), seakan membakar semangat dalam perang.
Tarian kolosal yang dikoreograferi Prof. Eko Supriyanto ini berhasil menyabet penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) karena dilakukan lebih dari 6.000 orang.
Hadir dalam acara ini, selain Mendagri Tjahjo Kumolo, juga anggota DPR dari NTT, Herman Hery, Bupati Belu Willybrodus Lay dan ribuan warga setempat. Sebelum tarian kolosal ini digelar, dilaksanakan juga upacara di atas bukit yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.
"Saya apresiasi Bapak Bupati, Bapak Herman Hery dan seluruh masyarakat Belu yang telah bergotong-royong memperingati Sumpah Pemuda, meski di tengah terik matahari seperti ini,†kata Mendagri.
Herman Hery mengatakan, Festival Fulan Fehan ini bukan saja sebagai peringatan Sumpah Pemuda. "Tetapi bagian memperlihatkan, mempertontonkan kejayaan Indonesia di beranda terdepan Negara Republik Indonesia.
Politikus PDI Perjuangan ini mengatakan Festival Fulan Fehan merupakan wujud komitmen masyarakat Belu dan pemerintahan daerah setempat.
“Bahwa harga diri bangsa yaitu NKRI sedang kita pertontonkan kepada dunia internasional dan kepada semua pihak," tegas Herman.
[ysa]