Berita

Khofifah Indar Parawansa/Net

Nusantara

Mensos: Dukungan Ulama Diperlukan Untuk Bersama Bela Negara

KAMIS, 26 OKTOBER 2017 | 20:20 WIB | LAPORAN:

Pemerintah melalui Kementerian Sosial mengajak mengajak para ulama, terutama pengasuh pondok pesantren memaksimalkan modal sosial dalam rangka meningkatkan upaya bela negara.

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa menekankan, NKRI harus dijaga dari berbagai sisi. Bela Negara juga harus dilakukan dari berbagai lini dan segenap elemen.

”Pemerintah tak dapat bekerja sendiri, diperlukan dukungan para ulama dan segenap elemen bangsa lainnya untuk bergerak bersama bela negara sesuai bidang dan profesi masing-masing," tutur Mensos saat menghadiri Pertemuan Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan, Gerakan Dakwah ASWAJA Bela Negara bertempat di Pondok Pesantren Al Hikam Depok, Jawa Barat, Rabu (25/10).

Pertemuan ini merupakan agenda tahunan yang dihelat Pondok Pesantren Al Hikam. Pesertanya, berasal dari Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Maluku, Papua, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Jawa Barat, DKI dan Banten. Total peserta sebanyak 200 orang.

Khofifah menerangkan, ulama berperan besar dalam rangka Bela Negara. Misalnya saja, perjuangan Laskar Jihad Hisbullah mengusir penjajah Belanda dan Jepang. Gerakan Laskar yang dipimpin para ulama dan beranggotakan santri-santri di Surabaya pada Oktober 1945 ini merupakan kekuatan bela negara untuk menjaga kemerdekaan yang telah diumumkan pada 17 Agustus 1945.

"Kini di masa kemerdekaan, peran para ulama juga makin signifikan. Sebagai sosok panutan yang setiap perkataan dan nasihatnya menjadi teladan bagi masyarakat, maka mereka memberi andil besar dalam menjaga stabilitas negara," tambah Khofifah yang juga Ketua Umum Muslimat NU ini.

Peran para ulama dalam bela negara, lanjut Mensos, signifikan mengingat bangsa ini tengah menghadapi banyak persoalan. Mulai dari Radikalisme, narkoba, kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, bencana alam, hingga bencana sosial yang menuntut kerja bersama untuk mengatasinya.

"Para ulama adalah suri tauladan bagi masyarakat di dalam sebuah wilayah. Kekuatan spiritual mereka sangat penting untuk menopang stabilitas bangsa," ucapnya serius.

Dalam acara ini, Mensos juga memaparkan mengenai peran Kemensos dalam mengoptimalkan kekuatan sosial. Kata dia, dalam tiga tahun terakhir telah lahir inisiatif dan program-program di bidang perlindungan sosial.

"Fokus kami adalah pencegahan. Jadi kami yang jemput bola turun ke masyarakat. Misalnya melalui Kampung Keserasian Sosial," katanya.

Kampung Keserasian Sosial adalah program pencegahan konflik yang bertujuan membangun dan memperkuat kerukunan warga untuk menciptakan harmonisasi sosial di masyarakat pada daerah rawan konflik di Indonesia. Bantuan diberikan senilai Rp. 109.000.000,- per kampung.

Produk Kampung Keserasian Sosial adalah terbentuknya Forum Keserasian Sosial yang diharapkan menjadi media penyampai pesan dan aktivitas perdamaian di masyarakat.

Jumlah Kampung Keserasian Sosial terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015 sebanyak 500 kampung, dan menjadi 675 kampung pada tahun 2016. Tahun 2017 target hingga akhir tahun adalah 835 kampung.

Upaya pencegahan konflik sosial lainnya adalah melalui Kelompok Penguatan Kearifan Lokal yang merupakan upaya membangun nilai-nilai budaya lokal sebagai media dalam pencegahan konflik sosial di masyarakat.

"Bantuan yang diberikan sejumlah Rp50 juta per kelompok masyarakat yang mengampanyekan perdamaian melalui seni atau budaya," jelas Khofifah.

Pada awalnya program ini hanya mencakup 100 kelompok di tahun 2015. Setahun kemudian jumlahnya meningkat menjadi 145 kelompok. Kini pada tahun 2017 terdapat 170 Kelompok Kearifan Lokal. Dua di antaranya adalah Desa Margomulyo Kota Malang dan Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.

"Selain itu juga ada program rehabilitasi korban penyalahgunaan NAPZA dimana tahun 2017 telah merehabilitasi 17.821 jiwa. Serta program rehabilitasi mantan narapidana terorisme dan upaya deradikalisasi dimana Kementerian Sosial menyalurkan bantuan Usaha Ekonomi Produktif kepada eks narapidana teroris yang bernaung dalam Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di Lamongan," demikian Khofifah. [sam]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya