Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Nusantara

Ribuan Perangkat Desa Gigit Jari, Jokowi Dicap Ingkar Janji

Nggak Diangkat Jadi PNS
KAMIS, 26 OKTOBER 2017 | 11:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Janji adalah utang. Ketika tak dibayar, tentu membuat kecewa.
Begitulah yang dialami ribuan perangkat desa yang tergabung dalam Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI), dan Putra Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Puja Kessuma) selaku "kakak angkat" PPDI, ketika Presiden Joko Widodo tidak menepati jan­jinya untuk mengangkat perang­kat desa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), kini Aparatur Sipil Negara (ASN).

"Kami kecewa, Pak Jokowi yang selama ini kami dukung ternyata ingkar janji," kata Ketua Umum Puja Kessuma, Suhendra Hadi Kuntono, di sela upayanya bersama Ketua Umum PPDI Mujito menenangkan massa yang kecewa di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa (24/10) lalu, usai massa PPDIditemui Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Hadi Prabowo.

Sedianya, massa PPDI yang menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Negara hendak menemui Presiden Jokowi. Tapi apa daya, mereka hanya bisa diterima Plt Sekjen Kemdagri, karena Mendagri Tjahjo Kumolo pun menghadiri Rapat Paripurna DPR RI dengan agenda penge­sahan Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Ormas menjadi undang-undang.

Sedianya, massa PPDI yang menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Negara hendak menemui Presiden Jokowi. Tapi apa daya, mereka hanya bisa diterima Plt Sekjen Kemdagri, karena Mendagri Tjahjo Kumolo pun menghadiri Rapat Paripurna DPR RI dengan agenda penge­sahan Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Ormas menjadi undang-undang.

Ribuan massa yang datang dengan 562 bus dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Bali, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Lampung, dan sejumlah daerah lain itu membubarkan diri setelah Hadi Prabowo berjanji akan membahas penyetaraan peng­hasilan perangkat desa setara dengan ASN golongan II A dengan Mendagri.

"Artinya, janji akan mem-PNS-kan perangkat desa belum ditepati Pak Jokowi. Ini menjadi utang yang akan terus ditagih," tegas Suhendra.

Janji perangkat desa diang­kat menjadi PNS disampaikan Jokowi bersama Jusuf Kalla da­lam konferensi pers di Bandung, 3 Juli 2014 atau enam hari menjelang Piplres 2014. Saat itu, sebagai calon presiden-wakil presiden, Jokowi-JK berjanji untuk menyejahterakan desa dengan mengalokasikan dana rata-rata Rp1,4 miliar per desa, dan mengangkat para perangkat desa menjadi PNS.

Jumlah desa di seluruh Indonesia lebih dari 74 ribu. Bila satu desa rata-rata ada 10 perangkat desa, maka jumlah perangkatdesa sebanyak 740 ribu. Ditambah dengan keluarganya, kata Suhendra, perangkat desa men­jadi potensi dukungan politik yang signifikan bagi Jokowi bila hendak maju kembali pada Pilpres 2019.

"Dana desa sudah terealisasi. Yang belum, pengangkatan perangkat desa menjadi PNS. Perangkat desa PNS, dua periode beres," jelas bekas Ketua Kelompok Kerja Perancangan Formulasi Peraturan Daerah Nasional 2016, bentukan Kementerian Hukum dan HAM yang merupakan inisiatif Puja Kessuma menyikapi moratorium dari Presiden Jokowi terkait ribuan perda bermasalah.

Bila tak memenuhi janjinya, menurut Suhendra, Jokowi akan kembali kehilangan dukungan akar rumput, yakni perangkat desa dan Puja Kessuma, setelah para nelayan di sektor maritim mencabut dukungannya.

"Keberadaan perangkat desa sangat strategis, mereka mengu­rus bayi baru lahir hingga orang meninggal. Mereka bisa menjadi ujung tombak Jokowi dalam meraup dukungan masyarakat," paparnya.

Tanpa bermaksud menggu­rui, ujar Suhendra, dia mengingatkan Jokowi selaku orang Jawa yang juga seorang presi­den, untuk berpegang teguh pada falsafah Jawa, yakni "Sabda pandhita ratu tan kena wola-wali". Perkataan seorang guru dan pemimpin tak boleh mencla-mencle.

"Kalau sudah berjanji, harus ditepati. Kalau mengingkari, ke depan tidak akan dipercaya lagi. Kami tidak yakin dengan yang disampaikan Kemdagri. Apalagi Pak Jokowi bukan tipe pemimpin yang suka ingkar janji," tegasnya. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya