Berita

Rini Soemarno/Net

Bisnis

Rini Soemarno: Relawan Jadi Komisaris Bukan Balas Jasa

KAMIS, 26 OKTOBER 2017 | 10:16 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno meminta masyarakat tidak mengaitkan pemilihan komisaris di perusahaan BUMN sebagai bentuk balas jasa dalam pemenangan pasangan Jokowi-Kalla pada Pilpres 2014. Rini mengklaim, cuma kebetulan mereka terpilih jadi komisaris.

 Hal ini menjawab banyaknya posisi komisaris yang diisi ak­tivis yang menjadi relawan saat kampanye Pemilihan Presiden pada 2014. Berdasarkan data yang dirilis situs detik.com, ada 21 relawan yang saat ini menduduki kursi komisaris di perusahaan pelat merah.

"Terpilihnya relawan Pak Presiden hanya kebetulan saja. Kita tahu, relawannya jumlah­nya banyak sekali. Jadi kebetu­lan terpilih (jadi komisaris)," klaim Rini di Jakarta.


Rini menjelaskan, pada dasarnya, Kementerian BUMN melihat bahwa jabatan komisaris dibutuhkan dari berbagai kalangan profesi.

Namun dalam setiap pemi­lihannya, Kementerian lebih dulu melakukan uji kelayakan. Selain itu, pihaknya juga mengultimatum jajaran komisaris BUMN untuk selalu menjaga independensi, profesionalisme, dan nilai etika.

Kementerian BUMN juga melakukan assesment dalam memilih komisaris, namun tidak menggunakan penilai independen seperti pada pemilihan direksi.

"Komisaris sebagai penga­was dan mewakili pemegang saham dalam melakukan penga­wasan dari perusahaan. Mereka juga mengawasi direksi dalam melakukan aktivitasnya setiap hari, makanya dewan komisaris itu datang dari berbagai kalangan dan profesi," kata Rini.

Staf Khusus Bidang Media Kementerian BUMN Devy Wil­dasari Adjiningsih menambah­kan, Kementerian BUMN terus meningkatkan profesionalisme di BUMN, termasuk dalam pemilihan Dewan Komisaris.

"Tidak ada unsur balas jasa dan tentunya dipilih sesuai dengan kebutuhan BUMN-nya. Kalau sudah ada calon yang pas, dilakukan assesment dan me­lengkapi administrasinya. Kalau sesuai kriteria, ya ditempatkan di BUMN," kata Devy.

Saat ini ada beberapa bekas relawan yang duduk di kursi Komisaris BUMN, seperti An­drinof Chaniago (BRI), Alexan­der Lay (Pertamina), dan Andi Widjajanto (Angkasa Pura I). Kemudian Paiman Rahardjo (PGN), Fadjroel Rachman (PT Adhi Karya), dan Refly Harun (Jasa Marga).

Harus Dievaluasi


Pengamat BUMN dari Ru­mah Amanah Rakyat Ferdinand Hutahaean mengatakan, sampai saat ini komisaris yang dipilih dari relawan Jokowi melem­pem, atau belum menunjukkan kinerja yang memuaskan dalam membawa BUMN memberi sumbangan signifikan untuk pendapatan negara.

"Nyatanya, masih ada BUMN yang rugi hingga direksinya tersandung korupsi. Ini kerja komisarisnya apa?" kata Ferdi­nand kepada Rakyat Merdeka.

Menurut Ferdinand, Kemen­terian BUMN harus melakukan evaluasi terhadap kinerja para komisaris BUMN, terutama yang berasal dari politisi maupun rela­wan. Semua harus dinilai ulang dengan standar profesionalisme yang baik dan terukur.

"Misalnya, latar belakang pekerjaan, kegiatan profesional­ismenya, latar belakang pendidi­kan. Jangan karena relawan atau dari partai pendukung tiba-tiba di­angkat jadi direksi atau komisaris. Terlebih jika latar belakangnya tidak memenuhi atau tidak menguasai bidang usaha BUMN yang dipegangnya," ujar Ferdinand.

Menurutnya, sekarang ini banyak sekali BUMN yang mengalami penurunan kinerja, rugi dan kesulitan finansial.

"Ini akibat apa? Tentu salah satu penyebabnya adalah kega­galan direksi dan komisaris. Ke­napa gagal? Ya itu dia, dikasih ngurus BUMN tapi yang ngurus tidak punya latar belakang disa­na," tegas Ferdinand. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya