Berita

Foto/Net

Nusantara

Perbanyak Proyek-proyek Padat Karya & Tekan Inflasi

Arahan Jokowi Ke Kepala Daerah Untuk Kerek Daya Beli
RABU, 25 OKTOBER 2017 | 08:57 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Presiden memberikan perhatian khusus terhadap masalah kesejahteraan saat memberikan arahan kepada kepala daerah se-Indonesia. Mantan gubernur DKI Jakarta itu menyerukan agar memperbanyak proyek padat karya dan menekan inflasi untuk mendongkrak daya beli masyarakat.

 Jokowi mengungkapkan, sek­tor padat karya bisa menyerap banyak tenaga kerja. Dengan demikian, makin banyak masyarakat memiliki penghasilan sehingga bisa digunakan untuk membeli barang dan jasa.

"Untuk meningkatkan daya beli, meningkatkan konsumsi masyarakat, perbanyak proyek-proyek, program padat karya. Tolong APBD (Anggaran Penda­patan Dan Belanja Daerah) bisa mengakomodirnya," seru Jokowi kepada gubernur, bupati, dan walikota seluruh Indone­sia, di Istana Negara, Jakarta, kemarin.


Jokowi memastikan akan menginstrusikan hal yang sama di pemerintah pusat. Jokowi yakin bila program padat karya digalakkan, hasilnya akan ter­lihat. Namun dengan catatan, pembayaran kepada para pekerja disegerakan. "Kalau pembayaran diberikan harian tentu lebih baik. Jika tidak, setidaknya per satu minggu. Nanti tingkat konsumsi di daerah bapak dan ibu pasti akan kelihatan kenaikannya," terangnya.

Selain itu, Jokowi meminta, kepala daerah untuk terus berupaya menekan inflasi. Karena, dengan inflasi yang rendah, masyarakat akan lebih mudah dalam mendapatkan barang dan jasa.

Jokowi menuturkan, laju in­flasi tiga tahun belakangan ini relatif rendah. Pada 2015 inflasi tercatat 3,3 persen, 2016 turun sampai 3,02 persen dan 2017 diperkirakan akan sedikit lebih tinggi, yaitu berkisar 3,7 sampai 3,8 persen. Menurutnya, rendah­nya inflasi tersebut antara lain andil dari kinerja pemerintah daerah (pemda).

"Oleh karena itu peran pemda sangat dibutuhkan. Target kita nanti ya semakin ke sana se­makin turun, kita injak terus agar masyarakat yang beli sesuatu itu mudah," ajaknya.

Pada kesempatan ini, Jokowi kembali mengingatkan kepala daerah agar bisa mengguna­kan anggaran dengan semak­simal mungkin. Karena, realisasi anggaran merupakan kunci penting untuk menggerakkan roda perekonomian.

"Saya tahu masih banyak dana APBD yang parkir di Bank Pembangunan Daerah (BPD)," cetus Jokowi.

Jokowi menuturkan, dana yang ditransfer pemerintah pusat ke daerah berasal dari penerimaan pajak. Dan, untuk mendapatkan dana tersebut tidak mudah. "Ini carinya sulit, kita kirim, malah diparkir di bank. Seharusnya digunakan," katanya.

Jokowi mengharapkan kepala daerah agar membimbing para kepala dinasnya agar bisa den­gan cepat merealisasikan be­lanja. Khususnya belanja yang berkaitan dengan masyarakat umum.

Dana Ngendap Capai Rp 226 T


Kementerian Keuangan (Ke­menkeu) mencatat dana pemda yang mengendap di perbankan meningkat. Kemenkeu mencatat hingga akhir September 2017, dana Pemda yang mengendap mencapai Rp 226,6 triliun. Jumlah tersebut naik 9,6 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2016 sebesar Rp 206,75 triliun. Selain itu, jumlah tersebut juga naik 7,3 persen jika dibanding akhir Agustus 2017 yang sebesar Rp 211,3 triliun.

Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kemen­keu Boediarso Teguh Widodo mengatakan, dana mengendap pada pemerintah provinsi lebih tinggi dibandingkan pemerintah kabupaten dan kota.

"Jumlah agregat dana sim­panan pemerintah provinsi di perbankan hingga akhir Sep­tember sebesar Rp 83,5 triliun. Jumlah tersebut lebih tinggi 49,4 persen dari posisi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dan lebih tinggi 4,4 persen dari posisi akhir Agustus 2017," ujar Bediarso dalam keterangan resminya, kemarin.

Sementara itu, jumlah agregat dana simpanan pemda kabu­paten di perbankan hingga akhir September sebesar Rp 108,58 triliun atau naik 6,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dan, nilai tersebut juga naik 9,4 persen dibanding posisi akhir bulan sebelumnya.

Sedangkan jumlah agregat dana simpanan pemerintah kota di perbankan hingga September 2017 mencapai Rp 34,56 triliun, naik 0,7 persen dibandingkan pe­riode yang sama tahun lalu. Dan, naik 7,8 persen dibanding akhir Agustus 2017. Peningkatan dana endapan di bank ini mencer­minkan realisasi pembangunan di daerah yang turun. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya