Menteri satu ini benar-benar membuktikan kinerja bukan janji. Dia adalah Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman.
Di tangannya selama tiga tahun terakhir, ada empat komoditas yang tidak lagi impor. Yaitu, beras, jagung, bawang merah dan cabai segar.
Untuk sisa dua tahun terakhir bersama pemrintahan Jokowi-JK, Menteri Amran akan fokus menggenjot rempah-rempah nusantara.
"Kami ini di pangan, boleh dikatakan signifikan, lumayan. Artinya luar biasa lompatannya. Dulu, kita berjayah karena rempah-rempah, 5 ratus tahun yang lalu. (Sekarang) Bapak Presiden minta, kami angkat kembali kejayaan rempah-rempah Indonesia," kata dia di sela-sela kunjungan kerja di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, Senin (23/10).
Diceritakannya, pada masa lalu, orang Belanda, Eropa dan Inggris datang ke Indonesia karena rempah-rempah, bukan karena tambang dan termasuk komoditas lain.
"Ini kami kembalikan. Mulai sekarang, dan sudah mulai dilakukan, diberikan bibit-bibit unggul, lada, cengkeh dan seterusnya. Kami berikan secara gratis. Totalnya tahun ini 30 juta batang seluruh Indonesia," tukas Menteri Amran.
Di kesempatan lain beberapa waktu lalu, Menteri Amran optimis program Rempah Indonesia Berjaya di Dunia akan tercapai. Indikasinya tercermin dari peningkatan produksi dan ekspor, serta impor komoditas lada yang menurun. Alhasil, devisa yang dihasilkan dari ekspor lada di tahun 2016 mencapai 431,14 juta dolar AS.
Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Suwandi mengungkapkan bahwa produksi lada tahun 2016 mencapai 82,17 ribu ton. Besarnya produksi ini naik 0,82 persen dari produksi tahun 2015 yang hanya mencapai 81,50 ribu ton. Sementara produksi lada di tahun 2017, diperkirakan meningkat 0,97 persen ata 82,96 ribu ton dari tahun 2016.
"Dari besarnya produksi tersebut, di tahun 2016 total ekspor lada Indonesia 53,10 ribu ton. Ekspor lada pada periode Januari hingga Agustus 2017 mencapai 27,46 ribu ton atau naik 16,57 persen dibanding pada periode yang sama di tahun 2016 yang hanya 23,56 ribu ton," ungkap Suwandi pada akhir September lalu.
Karena itu, pejabat yang merangkap sebagai pelaksana tugas (Plt) Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan ini menegaskan bahwa sesuai kebijakan pengendalian impor dan upaya mendorong ekspor, hasilnya sudah terlihat dari peningkatan volume ekspor tersebut diikuti dengan penurunan volume impor.
Impor lada pada periode Januari hingga Agustus 2017 hanya 690 ton, sedangkan impor lada pada yang sama tahun 2016 tinggi, yakni 2.663 ton.
"Artinya volume impor lada menurun signifikan, yaitu 74 persen. Ini membuktikan kondisi pertanaman lada Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga bisa berjaya lagi seperti waktu 500 tahun lalu," sebutnya.
Suwandi menyebutkan, terdapat lima provinsi penghasil komoditas lada yaitu Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Lampung merupakan penghasil utama lada dengan kontribusinya terhadap produksi nasional sebesar 58,32 persen.
"Sementara Provinsi Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan kontribusinya terhadap produksi nasional sebesar 41,68 persen," sebut dia.
Adapun potensi pasar ekspor lada Indonesia ke luar negeri cukup besar. Pasalnya terdapat negara-negara yang volume impornya sangat tinggi. Seperti, Amerika Serikat, Jerman, Vietnam, India, Thailand, Spanyol, dan Jepang.
[san]