Berita

Gus Dur-Jaya/Net

OPINI JAYA SUPRANA

Belajar Menanggulangi Dendam

SABTU, 21 OKTOBER 2017 | 18:40 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

APA yang disebut sebagai kehidupan merupakan proses belajar tanpa henti. Satu di antara sekian banyak perihal yang paling perlu dipelajari oleh manusia adalah bagaimana mengatasi berbagai perasaan bersifat buruk. Satu di antara sekian banyak perasaan bersifat negatif bahkan destruktif adalah dendam.

Bahkan dapat dikatakan bahwa dendam merupakan perasaan yang terburuk bagi peradaban umat manusia. Rasa dendam menyebabkan sesama manusia tidak segan melakukan angkara murka saling menghujat, memfitnah, mengkriminalisasi, menyelakakan, menganiaya bahkan saling membinasakan.

Mubazir


Ayah kandung saya adalah seorang pengusaha yang melakukan usaha di bidang grosir bahan pangan di pulau Bali. Sebagai seorang pengusaha beliau fokus pada kegiatan usahanya maka sama sekali tidak melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis.

Pada bulan Oktober 1965 di tengah kemelut prahara pertumpahan darah pasca G30S, mendadak pada suatu malam hari ayah kandung saya diculik oleh segerombolan oknum tak dikenal. Segenap anggota keluarga yang ditinggalkan merasa kecewa, sedih, prihatin dalam skala duka yang bukan alang kepalang. Wajar bahwa timbul perasaan dendam.

Namun dalam perjalanan waktu, lambat laun perasaan dendam tersebut berkurang, terutama akibat kami tidak tahu terhadap siapa kami harus melampiaskan dendam.

Tidak pernah jelas mengenai siapa sebenarnya yang melakukan penculikan mau pun memberikan instruksi penculikan ayah kandung kami yang memang mustahil mampu dibuktikan sehingga lambat laun akhirnya rasa dendam memudar lalu hilang lenyap dengan sendirinya.

Sampai kini memang saya masih merasa prihatin dan duka apabila teringat pada peristiwa penculikan ayah kandung kami pasca G30S.

Namun rasa dendam telah teratasi akibat sadar atas kemubaziran bahkan kemustahilan rasa dendam terhadap pihak yang sama sekali tidak dapat dibuktikan telah melakukan penculikan terhadap ayah kandung tercinta kami.

Dendam lenyap digantikan harapan bahwa di masa mendatang tidak ada lagi ayah kandung siapa pun jatuh menjadi korban kemelut politik di Tanah Air Angkasa tercinta.

Gus Dur

Di masa Gus Dur menjabat presiden IV Republik Indonesia, saya beruntung nyaris setiap pagi berkesempatan mendampingi Gus Dur jalan pagi mengelilingi halaman di antara Istana Negara dan Istana Merdeka.

Akibat kalah daya tahan berjalan kaki melawan Gus Dur, akhirnya saya berlaku curang yaitu hanya mendampingi di saat makan pagi setelah Gus Dur usai jalan pagi.

Ketika Gus Dur dilengserkan oleh MPR di bawah pimpinan Amien Rais, saya merasa kecewa, sedih, prihatin yang kemudian memuncak menjadi rasa dendam.

Ketika saya mencoba berperan sebagai Sengkuni menghasut Gus Dur melakukan balas dendam, Gus Dur menolak sambil  tertawa dan seperti biasa nyeletuk "Gitu Aja Kok Repot!".

Lalu Gus Dur menyejukkan dendam yang membara membakar lubuk sanubari saya dengan memberikan pelajaran cara berdamai dengan diri sendiri dengan menghayati ayat-ayat Al Quran antara lain sebagai berikut: "Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah" atau "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi sesuatu yang menyakitkan perasaan yang menerima".

Bahkan Gus Dur yang sangat memahami agama Kristen juga mengingatkan saya kepada makna keadiluhuran pengampunan yang tersirat di dalam sabda Yesus Kristus di tiang salib: "Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan".

Dari Gus Dur saya belajar menanggulangi dendam. [***]

Penulis adalah cantrik Gus Dur dan pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Pimpinan Baru OJK Perlu Perkuat Pengawasan Fintech Syariah

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:25

Barang Ilegal Lolos Lewat Blueray Cargo, Begini Alurnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:59

Legitimasi Adies Kadir sebagai Hakim MK Tidak Bisa Diganggu Gugat

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:36

Uang Dolar Hingga Emas Disita KPK dari OTT Pejabat Bea Cukai

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:18

Pemda Harus Gencar Sosialisasi Beasiswa Otsus untuk Anak Muda Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:50

KPK Ultimatum Pemilik Blueray Cargo John Field Serahkan Diri

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:28

Ini Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:08

KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Pejabat Bea Cukai, 1 Masih Buron

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:45

Pengamat: Wibawa Negara Lahir dari Ketenangan Pemimpin

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:24

Selengkapnya