Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (73)

Mendalami 'Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab': Memelihara Jiwa

SENIN, 16 OKTOBER 2017 | 10:59 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

MEMELIHARA jiwa atau nyawa (al-muhafadhah 'ala al-nafs) salah satu dasar dari perinsip sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Suatu negara tidak bisa disebut negara yang berprikemanusiaan jika nyawa gampang melayang seolah tiada artinya. Dalam Islam jiwa atau nyawa amat penting artinya. Begitu penting arti nyawa maka sanksi bagi para pembunuh juga adalah harus dibunuh untuk memberikan efek jera terhadap orang lain. Dalam Al-Qur’an ditegaskan: "Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa". (Al- Baqarah/2:179).

Begitu pentingnya arti sebuah nyawa, Allah Swt menyatakan: Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (mem­bunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Q.S. al-Maidah/5:32).

Meskipun ada pembenaran untuk membunuh orang jika antara lain ia dengan sengaja membunuh saudaranya sendiri, namun ketika akan menjalankan qishash itu dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Selain harus ada upaya untuk mengganti qishash dengan hukum lain setelah ada pengampunan dari keluarga yang dibunuh juga harus hadir saksi-saksi yang amat lengkap guna menghindari terjadinya pembunu­han yang tidak perlu. Dalam ayat ditegaskan: Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara lalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melam­paui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. (Q.S. al-Isra'/17:33).


Hukum acara ayat-ayat kriminal berat (hudud) dalam Islam dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian dan kedisiplinan. Kalaupun nyata-nyata terjadi dan ada pengakuan dari pihak yang ber­sangkutan, tetap harus dilengkapi bukti-bukti lain. Jika semuanya sudah jelas terbukti masih ada cela hukum bisa dilewati buna menyelamatkan yang bersangkutan, yaitu memohon pengam­punan dari keluarga korban atau kepemimpin tertinggi/raja. Jika semuanya sudah memenuhi persyaratan maka dapat dipastikan pelaksanaan eksekusi itu dilakukan.

Al-Qur’an sangat mencela terjadinya pembunuhan orang-orang yang tidak berdosa, seperti anak-anak miskin ditolerir untuk dibunuh pada zaman Jahiliyah. Begitu rezim berganti dan Nabi Muhammad Saw menjadi Kepala Negara di Madinah maka hukum pancung betul-betul sangat diperketat. Al-Qur'an juga telah mengisyr­atkan hal yang sema sebagai berikut: Dan jan­ganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Q.S. Al-Isra'/17:31). Termasuk pembunuhan di sni ialah pembunuhan karakter seseorang. Saat ini semakin marak pengguna sosial media dan semakin marak pula isu nega­tive yang membebani pikiran umat warga bangsa liannya. Padahal memfitnah adalah lebih keji dari pada pembunuhan. 

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya