Berita

Net

Nusantara

Pemerintah Dinilai Tidak Konsisten Wujudkan Swasembada Pangan

SELASA, 10 OKTOBER 2017 | 16:59 WIB | LAPORAN:

Pemerintah dinilai tidak konsisten dalam mewujudkan swasembada 11 komoditas pangan, sebagaimana yang menjadi program Nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Swasembada pangan adalah program pemerintah yang digadang sejak awal. Namun sampai saat ini tiga tahun pemerintahan Jokowi, swasembada pangan belum juga terwujud. Parahnya, beberapa waktu lalu kita harus impor garam," ujar anggota Komisi VI DPR Bambang Haryo di Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (10/10).

Dia membeberkan, salah satu bukti pemerintah tidak konsisten membangun swasembada pangan ialah banyaknya lahan produktif yang dialihfungsikan menjadi pemukiman dan industri. Sebab, lahan pertanian dinilai tidak lagi menjadi prioritas.


"Seperti sekarang ini kita tahu bahwa program Meikarta itu menghabisi lahan pertanian produktif kita. Sesuai undang-undang, harusnya tanah produktif tidak alih fungsikan. Regulasi tata ruangnya sudah ada tetapi banyak sekali dilanggar pemerintah," kata Bambang.

Seharusnya pemerintah mencontoh negara Belanda yang memiliki luas lahan pertanian terbatas namun mampu mencukupi kebutuhan pangan rakyat.

"Jadi ini harus betul-betul dijalankan tata ruangnya. Tidak dilakukan perubahan-perubahan, seperti di Belanda ada daerah yang hanya berjarak 15 kilometer dari ibu kota namun tetap dipertahankan untuk lahan pertanian dan peternakan demi kepentingan pangan," terang Bambang.

Di sisi lain, pemerintah masih saja beriorientasi pada impor pangan. Di saat petani mau panen, selalu saja muncul kebijakan impor.

"Ini yang harus dihindari agar petani tetap melakukan usahanya di bidang pertanian dan mengusahakan pertaniannya menjadi komoditi yang swasembada," beber Bambang.

"Belum lagi, SDM-nya kurang dibina dan seolah-olah dibiarkan beralih ke profesi lain. Jadi, hal-hal ini pemerintah harus ada satu ketegasan untuk memperhatikan permasalahan yang berhubungan dengan swasembada pangan," imbuhnya. [wah]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya