Berita

Foto/Net

Jaya Suprana

OPINI JAYA SUPRANA

Perdamaian Korea Oleh Korea Untuk Korea

SELASA, 10 OKTOBER 2017 | 09:55 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DI dalam buku berjudul "Human Acts", novelis terkemukaa Korea Selatan, Han Kang berkisah tentang tragedi Gwangju yang terjadi pada tahun 1980 di mana pemerintah resim militer Korea Selatan membantai para mahasiswa yang turun ke jalan demi memprotes kebijakan rezim militer. UNESCO menyebut peristiwa berdarah tersebut sebagai Pergerakan Demokratisasi Gwangju.

Pada saat presiden Park Chung-hee terbunuh pada tahun 1979, Jenderal Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo mengambil alih kursi kekuasaan mengakibatkan kekecewaan rakyat Korea Selatan yang menginginkan transisi yang demokratis. Pada tanggal 18 Mei 1980, para mahasiswa kota Gwangju di provinsi Jeolla Selatan,  turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi.

Polisi bersenjata melakukan aksi brutal bahkan melepas tembakan untuk meredam para demonstran yang awalnya melakukan aksi damai. Walau para demonstran yang tak bersenjata ditekan secara anarkis, mereka tetap melakukan upaya protes. Warga Gwangju berusaha mendirikan pertahanan dan bernegosiasi damai namun ditolak pasukan pemerintah. Nyaris tujuh ratus demonstran tewas dalam tragedi Gwangju.


Subhuman

Di dalam artikel yang alih bahasa ke Inggeris dimuat New York Times 7 Oktober 2017 dengan judul berjudul "While the U.S. Talks of War, South Korea Shudders", Han Kang menegaskan bahwa dalam peperangan tidak ada pihak yang menang.

Han Kang mengingatkan kita semua pada Perang Dunia II, Perang Korea 1950, Perang Saudara Spanyol, Perang Saudara Bosnia mau pun pembantaian massal sistematis yang dilakukan terhadap penduduk asli benua Amerika.

Han Kang mengajak kita semua untuk tidak pernah kehilangan nurani kemanusiaan dalam menghadapi kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia. Kekeliruan terparah dalam peradaban umat manusia adalah manusia yang menganggap sesama manusia yang beda ras, etnis, ideologi, agama sebagai subhuman alias mahluk yang lebih rendah seperti yang dilakukan Donald Trump terhadap  kaum imigran, kaum Muslim, warga Korea Utara.

Han Kang menganggap Perang Korea sebagai perang-proksi di semenanjung Korea yang diprovokasi oleh kekuatan militer dan politik dari luar Korea. Han Kang menampilkan contoh tragedi No Gun Ri pada tahun 1950, di mana tentara Amerika Serikat ganas membantai warga Korea mayoritas perempuan dan anak-anak yang hanya bisa terjadi akibat para warga Korea yang dibantai dianggap manusia berharkat-martabat lebih rendah.

Kini setiap hari Han Kang terpaksa menghadapi badai berita yang berdatangan dari Amerika Serikat "Kami memiliki berbagai skenario untuk menang perang", "Apabila perang meletus di Korea maka 20.000 warga Korea Selatan akan mati setiap hari" dan yang paling menyakitkan "Jangan kuatir, perang tidak akan terjadi di bumi Amerika sebab hanya akan terjadi di semenanjung Korea".

Harapan

Pada akhir naskahnya, Han Kang sebagai warga Korea yang kini disebut sebagai Korea Selatan secara mengharukan mengungkap harapan dari lubuk terdalam sanubari dirinya "We only wanted to change society through the quiet and peaceful tool of candlelight, and those who eventually made that into a reality - no, the tens of millions of human beings who have dignity, simply through having been born into this world as lives, weak and unsullied - carry on opening the doors of cafes and teahouses and hospitals and schools every day, going forward together one step at a time for the sake of a future that surges up afresh every moment. Who will speak, to them, of any scenario other than peace?".

Insya Allah, Donald Trump berkenan mendengar, menghormati dan menghargai harapan Han Kang sehingga berkenan menyerahkan proses perdamaian di Korea untuk diurus oleh bangsa Korea untuk bangsa Korea sendiri. [***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Malaysia Fair 2026 Jadi Ajang Perluasan Pasar Medical Tourism di Indonesia

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:12

CFD Rasuna Said Kembali Digelar, Ini Lokasi Parkir dan Rute Transportasi Umumnya

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:10

Begini Spek Bangunan SPPG di Daerah 3T yang Dibangun Kementerian PU

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:47

Sambut Nanik Deyang, APJI Minta Juknis Dapur MBG Dibenahi

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:01

Menteri PU Rampungkan 222 SPPG di Daerah 3T

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:48

KPK Panggil Motivator Ary Ginanjar Agustian di Kasus Gratifikasi IUP Kukar

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:45

Akulaku Finance Dukung Proses Hukum pada Tindakan Kecurangan

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:36

Mubes Kosgoro 1957: Berkas La Ode Beres, Sari Yuliati Belum Bayar Administrasi

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:18

Awas Kolesterol Naik! Ini 5 Tips Sehat Mengolah Daging Kurban ala Ahli Gizi UNS

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:57

AS Buka Jalur untuk 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:33

Selengkapnya