Berita

Jaya Suprana

Nglurug Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake

MINGGU, 08 OKTOBER 2017 | 06:50 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PERANG caci maki antara Donald Trump lawan Kim Jong Un memuncak sampai mencapai titik kritis yang potensial meledakkan Perang Dunia III . Trump menghujat Kim sebagai "orang gila", Kim menghujat Trump  "sakit mental".  Sehari setelah Kim mengancam akan melakukan ujicoba bom hidrogen di kawasan samudera Pasifik, langsung Trump memerintahkan demonstrasi kekuatan militer dengan menerbangkan pesawat-pesawat bomber termutakhir AS lalu lalang melintas di langit pesisir Korea Utara .

Kanak-Kanak
Tampaknya kedua kepala negara memang sengaja berperangai tidak jauh beda dari dua anak sedang bertengkar mulut sebelum berkelahi saling pukul. Hanya saja kedua anak yang sedang bertengkar sebenarnya merupakan dua kepala negara yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap perdamaian dunia. Sayang, baik Trump mau pun Kim bukan berasal dari negara yang menganut paham musyawarah-mufakat yang tersurat dan tersirat di dalam falsafah Pancasila. Kebetulan Trump dan Kim juga bukan orang Jawa maka tidak paham makna budi pekerti mengalah yang terkandung dalam falsafah "Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake." Sebagai pihak yang pada kenyataan lebih memiliki keunggulan militer, politik mau pun ekonomi, sebenarnya Donald Trump mampu kalau mau bersikap mengalah terhadap Kim Jong Un yang kebetulan juga lebih muda usia ketimbang Trump. Ibarat bersaudara, dalam ukuran usia mau pun potensi militer, Trump adalah sang kakak sementara Kim adalah sang adik maka upaya mengalah pada hakikatnya lebih berada pada diri sang kakak ketimbang sang adik.

Jajak Pendapat

Jajak Pendapat
Berdasar jajak pendapat berbagai lembaga polling USA , mayoritas rakyat USA masa kini tidak setuju dengan sikap agresif provokatif presiden Donald Trump terhadap Korea Utara. Tidak kurang dari menteri pertahanan AS, James Norman Matis serta menteri luar  negeri AS, Rex Wayne Tillerson beserta para pejabat tinggi kepemerintahan Trump lain-lainnya secara resmi menegaskan bahwa pendekatan diplomatik terhadap Korea Utara jauh lebih bijak ketimbang pendekatan cacimaki apalagi aksi militer. Jim Matis memang siap melakukan  bela negara secara dahsyat terhadap serangan terhadap sekutu Amerika Serikat apalagi Amerika Serikat sendiri namun tidak mendukung serangan cacimaki  yang dilakukan secara bombastis oleh Donald Trump sebagai boss Matis. Hanya 23 % rakyat USA termasuk 4 dari 10 anggota partai Republik setuju USA segera menyerang Korea Utara sementara 67 persen termasuk 6 dari 10 Republikawan  menyatakan setuju dengan menteri pertahanan yaitu aksi militer USA hanya dilakukan apabila terlebih dahulu Korea Utara menyerang Korea Selatan atau Jepang apalagi Amerika Serikat .  

Jenuh Kekerasan
Tampaknya tanpa menghayati Pancasila atau falsafah Jawa , rakyat USA masa kini sudah merasa tidak nyaman dengan perang cacimaki serta pamer kekuasaan politik dan militer yang sedang digelorakan oleh Donald Trump bukan hanya terhadap Korea Utara namun kepada seluruh negara-negara bukan sekutu Amerika Serikat di planet bumi yang sudah jenuh dengan kekerasan. Ketika Agustus 2017 berada di Pyongyang untuk menjalin persahabatan kebudayaan Korea Utara-Indonesia, saya juga memperoleh kesan bahwa sebenarnya rakyat Korea Utara lebih bergairah membangun negerinya ketimbang meladeni provokasi Trump akibat rakyat Korea sudah jenuh kekerasan. Insya Allah, Donald Trump dan Kim Jong Un segera menghentikan perang caci maki antara mereka berdua yang jelas lebih banyak mudarat ketimbang manfaat bagi kedua negara mau pun segenap umat manusia di planet bumi masa kini. [***]  

(Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan maka mendambakan perdamaian dunia)

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Sita Rp106,3 Miliar dari OTT BPN, Uang Disimpan di Rumah Tangan Kanan Nusron

Selasa, 15 September 2026 | 20:26

Bapera Hormati Proses Hukum Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 20:24

Homecoming Festival IKA Unpad 2026 Jahit Harmoni Lintas Generasi

Selasa, 15 September 2026 | 20:11

BNI-Pajakind Integrasikan Layanan Perbankan-Perpajakan Digital untuk UMKM

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

Ini Identitas 19 Orang Terjaring OTT KPK di Kasus Kementerian ATR/BPN

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

KPK Tahan 8 Tersangka Kasus Suap ATR/BPN, Tangan Kanan Nusron hingga Bos Summarecon

Selasa, 15 September 2026 | 19:58

UOB: Indonesia Punya Tameng Hadapi Guncangan Global, Apa Itu?

Selasa, 15 September 2026 | 19:37

KUHP-KUHAP Baru Perkuat Peran Advokat Dampingi Klien

Selasa, 15 September 2026 | 19:28

Purbaya Terlempar dari Kabinet Diduga Gegara Whoosh

Selasa, 15 September 2026 | 19:17

Pejabat ATR/BPN Terjaring OTT KPK, Wamen Ossy Minta Publik Tak Berspekulasi

Selasa, 15 September 2026 | 19:01

Selengkapnya