Berita

Nusantara

Larangan Penggunaan Elpiji Gubernur DKI Teladan Pelayanan Publik

KAMIS, 05 OKTOBER 2017 | 21:44 WIB | LAPORAN:

Larangan Gubernur DKI terkait penggunaan elpiji bersubsidi dinilai menjadi teladan pelayan publik. Perlu gerakan moral bersama bagi masyarakat mampu tidak lagi menggunakan elpiji bersubsidi.

Seruan Gubernur DKI Jakarta 6/2017 didukung penuh oleh Asosiasi Pengusaha Elpiji yang tergabung dalam Hiswana Migas DKI. Sosialisasi Seruan Gubernur DKI ini di 44 Kecamatan seluruh Jakarta.

Seruan Gubernur DKI Jakarta 6/2017 berisi Pelarangan bagi PNS/CPNS serta masyarakat mampu di wilayah DKI Jakarta menggunakan Elpiji bersubsidi yang peruntukkan nya bagi rakyat miskin dan dananya disubsidi APBN.

"Seruan Gubernur ini tidak hanya langkah yang berani tapi juga menjadikan pelayan publik (PNS DKI Jakarta) teladan di masyarakat. Karena semangat pelarangan menggunakan elpiji bersubsidi berarti secara langsung Pak Gubernur Djarot memberi kesempatan warga miskin mendapatkan kesempatan lebih besar untuk menerima subsidi elpiji,” ujar Brando Susanto yang juga Narasumber Sosialisasi ini serta Korwil Pengusaha Elpiji di rayon DKI Jakarta, Kamis.(5/10).

Dia menjelaskan, pengaturan distribusi Elpiji Bersubsidi (melon 3kg) di wilayah memang tidak mudah. Sebab, Pemerintah Pusat memang hanya berniat mengganti konsumsi Minyak Tanah di masyarakat sehingga lebih ramah lingkungan dan tentu saja lebih murah.

Terbukti, sambung Brando, program ini cukup sukses setelah 10 tahun berjalan pasca konversi. Walaupun kini masalah baru muncul dengan quota subsidi yang yang diperkirakan menembus Rp 40 Triliun dalam realisasi APBN 2017.

Problem keterbatasan kuota dan anggaran subsidi APBN, masih ditambah lagi belum diperbaharuinya Permen ESDM No.26/2009, khususnya terkait harga jual Pertamina dan peruntukan masyarakat yang berhak menerima subsidi.

"Terkait Permen ESDM ini banyak pihak menyarankan agar disparitas harga elpiji bersubsidi dengan non subsidi jangan terlalu jauh," katanya.

Brando menjelaskan, banyak pelaku usaha dan kalangan masyarakat khususnya perkotaan meminta Pemerintah berani mengambil langkah tidak populis dengan menaikkan harga elpiji yang artinya mengurangi subsidi. Pilihan ini dianggap paling rasional, sekaligus menutup celah penyimpangan yang selama ini jadi momok saat terjadi kelangkaan gas di masyarakat.

"Tingkat penyimpangan penggunaan elpiji di masyarakat akan selalu besar bila perbedaan harga terlalu besar antara yang Subsidi dan Non Subsidi. Idealnya harga di masyarakat utk yg 3kg itu 25.000-30.000, mendekati harga per kg untuk kemasan non subsidi 5.5kg dan 12kg," tambah Donny Arnaldi Wakil Ketua Hiswana Migas DKI Jakarta bidang Elpiji.

Turut mendampingi acara sosialisasi Seruan Gubernur ini juga perwakilan PT. Pertamina - Roby C Djasmi, yang menawarkan solusi produk Bright Gas 5.5kg yang baru, aman dan enteng untuk ibu-ibu rumah tangga. Selain menjelaskan Bright Gas, Pertamina juga memberikan penjelasan tips keselamatan untuk penggunaan elpiji di rumah.

Tokoh Masyarakat Tingkat Kecamatan dan Kelurahan serta RW cukup antusias mengikuti sosialisasi ini. Para peserta diharapkan bisa menjadi juru bicara bagi warga disekitarnya, khususnya masyarakat mampu agar tidak menggunakan elpiji 3kg bersubsidi serta mengedepankan keselamatan saat menggunakan Elpiji di rumahnya masing-masing.

Brando Susanto juga mengingatkan bahwa Elpiji bersubsidi melon 3kg bukan dihapus atau dihilangkan. Namun perlu Gerakan Moral bersama bagi masyarakat mampu tidak lagi menggunakan elpiji bersubsidi," tutupnya. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya