Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (62)

Mendalami Persatuan Indonesia: Bahasa Indonesia Sebagai Melting Pot

KAMIS, 05 OKTOBER 2017 | 09:20 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

SIAPAPUN tidak bisa meng­ingkari bahwa bahasa In­donesia adalah salah satu kekuatan bangsa Indone­sia yang amat tangguh dan sangat fungsional. Bahasa Indonesia mampu memper­satukan warga bangsa Indo­nesia dari ujung Timur Sa­bang, Sumatera sampai ke ujung Barat Merauke, Papua. Luas dan panjang wilayah kesatuan tidak lagi terasa dengan had­irnya bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga memberikan kekuatan psikologis tersendiri bagi bangsa yang dipadati nilai-nilai etnik, budaya, dan agama. Tanpa bahasa Indonesia, rasanya terlalu sulit untuk memerintah banga Indonesia tanpa kekuatan bahasa Indonesia sebagai ba­hasa pemersatu.

Dipilihnya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bukannya tanpa alasan. Mengapa bu­kan bahasa Jawa atau bahasa Sunda sebagai bahasa yang paling banyak penuturnya di negeri ini? Mengapa justru bahasa Melayu yang dipi­lih? Bukankah bahasa ini juga banyak diguna­kan negeri jiran kita seperti Malaysia, Brunai, dan Singapura? Justru di situlah kekuatan baha­sa Indonesia, bahasa ini bukan hanya bisa dipa­hami oleh warga bangsa Indonesia, tetapi juga negara-negara di kawasan Asia tenggara rata-rata bisa memahami bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia betul-betul tampil sebagai kekuatan perekat (melting pot), bukan hanya di Indonesia tetapi juga di kawasan negeri serumpun. Selain itu struktur bahasa Indonesia selain lebih simple dan praktis juga lebih egalitarian. Bandingkan dengan bahasa Jawa yang terkesan lebih ber­struktur. Ada bahasa khusus untuk orang awam, kelas menengah, dan bahasa khusus untuk kelas elite. Bahasa-bahasa lokal lainnya memi­liki vocabulary lebih terbatas.

Bahasa Indonesia dipahami dan dapat digu­nakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat bangsa Indonesia. Kehadiran bahasa Indone­sia sebagai bahasa nasional juga terbukti tidak menggusur bahasa lokal. Bahkan bahasa-ba­hasa lokal ikut memberikan kekayaan kosa kata di dalam bahasa Indonesia. Semakin hari se­makin berkembang bahasa lokal di dalam ba­hasa ndonesia. Wajar kalau negara-negara tet­angga merasakan bahasa Indonesia semakin banyak yang bisa dipahami oleh warga negeri serumpun Melayu di Asia Tenggara. Itu disebab­kan karena bahasa Indonesia bersedia memberi ruang kepada bahasa lokal dan bahasa interna­sional sebagai bagian pengembangan bahasa Indonesia. Bahasa Arab dan bahasa Inggris, dua bahasa ini juga sangat banyak memberi warna bahasa Indonesia. Ini juga tidak masalah sepan­jang melalui proses yang wajar, yakni mendapat­kan legitimasi formal dari Balai Bahasa Indonsia. Jika sebuah kosa kata asing, baik asing karena berasal dari bahasa lokal maupun asing karena berasal dari bahasa internasional, sudah masuk di dalam perbendaharaan kosa kata Indonesia yang ditandai terakomodasinya kosa kata itu ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka dengan demikian resmilah kosa kata itu menjadi bahasa Indonesia.


Kekuatan bahasa Indonesia saat ini bukan hanya tampil sebagai bahasa pemersatu bang­sa Indonesia, tetapi juga sudah mendapatkan pengakuan sebagai bahasa akademik, bahasa diplomatik, bahasa budaya, dan bahasa spiritu­al. Dahulu ketika penulis masih di McGill Univer­sity, Montreal Canada, sebuah gagasan muncul dan belakangan mendapatkan persetujuan, bah­wa bahasa Indonesia yang dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang kenapa tidak bisa diakui se­bagai bahasa internasional. Mahasiswa Indone­sia yang akan mengambil program PhD di McGill University harus menguasai minimum tiga baha­sa internasional, tidak termasuk bahasa Indone­sia. Mahasiswa Indonesia lebih banyak memilih bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahsa Pran­cis. Sekarang bahasa Indonesia sudah diakui sebagai bahasa academik internasional di uni­versitas itu.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya