Jokowi dan Jusuf Kalla/Net
Wapres Jusuf Kalla bercerita mengapa nama Indonesia tidak direken alias diperhatikan negara-negara top dunia. JK menganalisa, untuk menjadi negara yang diperhatikan dunia ada dua syarat, yakni kaya dan nakal. Nah, menurut JK, kepemimpinan Jokowi kurang nakal.
"Saya bilang ke Jokowi, kita musti keras sedikit supaya kelihatan nakal kan?" ujar JK dalam sambutannya di acara Pidato Peradaban (Lecture on Civilization) -Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) di kantor Wapres, Jakarta, kemarin.
JK menjelaskan, kata nakal di sini adalah bersikap keras ketika merespons permasalahan dunia di pertemuan-pertemuan internasional. Jika itu dilakukan, maka Indonesia menggaung di dunia karena menjadi hal yang menarik untuk diliput media internasional.
Eks ketua umum Partai Golkar ini bercerita tentang pengalamannya menjadi delegasi semasa menjadi Wakil Presiden di era Presiden SBY, dan sekarang di pemeritahan Presiden Jokowi. Menurutnya, setiap berkunjung, pemberitaan di negara penerima sangat sedikit. Soalnya Indonesia bukanlah negara yang kaya dan nakal. "Di dunia ini hanya ada dua negara yang diperhitungkan, diperhatikan jika negara kaya atau negara nakal. Kita tidak kaya, tidak nakal juga," ujarnya.
JK membandingkan ketika wakil China, Iran, maupun Venezuela mendatangi sebuah negara. Para pemimpinnya langsung diburu awak media karena dianggap menarik. Ketiga negara ini dianggap nakal karena kerap berseberangan dengan Amerika.
"Coba kalau China datang, langsung live CNN itu Xi Jinping, Fu Jin Tao, atau (yang) datang Iran, Chavez dari Venezuela di New York, ngamuk-ngamuk di New York. Diperhatikan. Kalau kita pidato, ya headline di Indonesia saja," katanya.
Menurut dia, Indonesia pernah menjadi sorotan dunia internasional. Tepatnya, semasa kepemimpinan Presiden Soekarno. Pendapat-pendapat Indonesia selalu diperhatikan dunia. "Presiden Indonesia yang diperhatikan Bung Karno yang diingat karena dia punya pendirian. Kita pakai kopiah, yang terkenal kopiah Soekarno. Karena dia punya prinsip yang kadang mengejutkan dunia," ucapnya.
Untuk kembali dapat perhatikan di dunia, JK mengatakan Indonesia harus dapat tumbuh menjadi negara kaya dan makmur. Sudah saatnya Indonesia menjadi negara 'pemberi', bukan lagi negara 'penerima'. "Ya, buat negara ini kaya makmur bertumbuh dan tentu berpengaruh Indonesia harus tangan di atas bukan tangan di bawah. Hampir semua masih berpikir tangan di bawah," pungkasnya.
Sebenarnya, Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi bukan tidak dipandang dunia. Berkali-kali, kebijakan inernasional mantan Walikota Solo ini menjadi sorotan dunia. Misalnya, masalah kemanusiaan yang menimpa etnis muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar.
Sekjen PBB Antonio Guterres mengapresiasi Indonesia yang aktif menciptakan perdamaian di Rakhine. Termasuk, memberikan bantuan langsung kepada imigran Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh.
Indonesia merupakan satu-satunya negara yang disetujui militer Myanmar mengirimkan bantuan untuk etnis Rohingya. Pun dengan Rohingya, menganggap bantuan dari Indonesia tanpa pamrih. Apresiasi dari PBB itu disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat berjumpa dengan Sejken PBB Antonio Guterres, di Markas Besar PBB, New York, Selasa (26/9).
Apresiasi juga sempat disampaikan Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, ihwal keterpihakan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina. Pernyataan itu disampaikan ketika Menlu Retno melakukan pertemuan di Yordan, Rabu (4/10). Dalam pertemuan itu Retno menekankan pentingnya untuk terus menempatkan isu kemerdekaan Palestina dalam agenda utama masyarakat internasional. Baik Retno, atau Safadi sepakat, tidak ada solusi lain dalam penyelesaian isu Palestina, kecuali solusi dua negara.
Pengamat politik dari Universitas Parahyangan Bandung, Prof Asep Warlan Yusuf sepakat dengan JK bahwa Indonesia harus menonjol di politik internasional. Menurutnya, politik bebas aktif Indonesia bisa dimaksimalkan kembali. "Tapi tidak harus nakal juga," ujar Asep kepada
Rakyat Merdeka. Menurut Asep, Jokowi sudah melakukan perannya dengan baik untuk dunia internasional. Misalnya, aktif memberikan bantuan dan bersuara untuk etnis muslim Rohingya di Myanmar. Langkah awal pemerintah untuk dikenal dunia bisa dibuktikan di tingkat ASEAN. Seperti diketahui, masalah ASEAN sudah menjadi perhatian dunia. Selain masalah kemanusiaan di Myanmar, masalah pemberontakan pro ISIS di Thailand juga sudah mendunia. "Kalau kita bisa muncul dan memberikan bantuan dan solusi, pasti menggaung di dunia," pungkasnya. ***