Berita

Nusantara

Langkah Penambang Tinggalkan Merkuri Mendapat Apresiasi

KAMIS, 05 OKTOBER 2017 | 00:09 WIB | LAPORAN:

Perubahan pola perilaku masyarakat penambang di Kabupaten Poboya, Palu yang tidak lagi memakai merkuri diapresiasi banyak pihak.

Termasuk sejumlah akademisi yang pernah meneliti pencemaran merkuri di lokasi penambangan emas tersebut. Mereka yakin kesadaran masyarakat telah memberi dampak signifikan bagi perbaikan lingkungan di Poboya dan sekitarnya.

Dosen Agroteknologi Universitas Tadulako Isrun Muh Nur mengatakan, bila warga bersepakat tidak lagi menggunakan merkuri di area penambangan emas maka diyakini kondisi lingkungan akan membaik.


Isrun menceritakan saat dirinya melakukan penelitian bersama peneliti asal Jepang tahun 2013, mayoritas penambang emas tradisional di Poboya masih punya kebiasaan menggunakan bahan merkuri. Kala itu, penelitian yang menggunakan empat media tanah, tanaman, air, dan udara memperoleh hasil kalau pencemaran limbah kerap terjadi lewat sekitar belasan ribu mesin tromol atau gelundung yang setiap digunakan masing-masing memakai hingga 150 mililiter bahan merkuri.

"Jadi kalau tidak ada lagi penggunaan merkuri maka akan signifikan penurunan pencemarannya. Sebab tadi pencemarannya setiap hari mencapai 150 mililiter dikali 17 ribu sekian tromol dikali penggunaan tiga kali sehari. Jadi penghentian pemakaian merkuri ini dampaknya besar sekali," jelas Isrun dalam keterangannya, Rabu (4/10).

Sementara, area yang telah tercemar butuh proses yang tidak dapat diprediksi. Bukan tidak mungkin kondisinya dapat terus menurun di masa mendatang.

"Bahan merkuri dapat menguap dalam temperatur panas. Kondisi lingkungan dengan demikian bisa kembali baik," beber Isrun.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Satya Widya Yudha menyambut baik kesadaran warga yang telah meninggalkan penggunaan merkuri dalam kegiatan penambangan. Di sisi lain, dia memastikan terdapat sanksi terhadap penggunaan merkuri. Apalagi Indonesia telah meratifikasi Konvensi Minamata di Jenewa ke dalam UU 11/2017 tentang Pengesahan Minamata Convention on Mercury pada 13 September 2017 lalu.

Menurutnya, ratifikasi itu telah jadi alat dan payung hukum bagi aparatur negara untuk melakukan penindakan jika ada penyalahgunaan merkuri.

"Dengan demikian ada satu tools aparat untuk menindak apabila itu terjadi perdagangan merkuri ataupun penggunaan merkuri untuk tujuan-tujuan penambangan. Karena pemakaiannya dibatasi terutama untuk kepentingan kesehatan. Jumlah beredar pun diatur dan dibatasi," jelas Satya.

Lanjutnya, untuk kepentingan pertambangan saat ini, sianida dapat digunakan sebagai pengganti merkuri. Hal itu berdasarkan pernyataan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII beberapa waktu lalu. Sianidasi Emas yang juga dikenal sebagai proses sianida atau proses MacArthur-Forrest adalah teknik metalurgi untuk mengekstraksi emas dari bijih kadar rendah dengan mengubah emas ke kompleks koordinasi yang larut dalam air. Proses inilah yang paling umum digunakan untuk ekstraksi emas.

"Dengan digunakannya sianida sebagai alternatif diharapkan tak ada lagi pertambangan baik dikelola secara tradisional oleh rakyat, perusahaan besar atau menengah yang menggunakan merkuri," demikian Satya. [wah]

Langkah Meninggalkan Merkuri Peroleh Apresiasi

RMOL. Perubahan pola perilaku masyarakat penambang di Kabupaten Poboya, Palu yang tidak lagi memakai merkuri diapresiasi banyak pihak. Termasuk sejumlah akademisi yang pernah meneliti pencemaran merkuri di lokasi penambangan emas tersebut. Mereka yakin kesadaran masyarakat telah memberi dampak signifikan bagi perbaikan lingkungan di Poboya dan sekitarnya.

Dosen Agroteknologi Universitas Tadulako Isrun Muh Nur mengatakan, bila warga bersepakat tidak lagi menggunakan merkuri di area penambangan emas maka diyakini kondisi lingkungan akan membaik.

Isrun menceritakan saat dirinya melakukan penelitian bersama peneliti asal Jepang tahun 2013, mayoritas penambang emas tradisional di Poboya masih punya kebiasaan menggunakan bahan merkuri. Kala itu, penelitian yang menggunakan empat media tanah, tanaman, air, dan udara memperoleh hasil kalau pencemaran limbah kerap terjadi lewat sekitar belasan ribu mesin tromol atau gelundung yang setiap digunakan masing-masing memakai hingga 150 mililiter bahan merkuri.

"Jadi kalau tidak ada lagi penggunaan merkuri maka akan signifikan penurunan pencemarannya. Sebab tadi pencemarannya setiap hari mencapai 150 mililiter dikali 17 ribu sekian tromol dikali penggunaan tiga kali sehari. Jadi penghentian pemakaian merkuri ini dampaknya besar sekali," jelas Isrun dalam keterangannya, Rabu (4/10).

Sementara, area yang telah tercemar butuh proses yang tidak dapat diprediksi. Bukan tidak mungkin kondisinya dapat terus menurun di masa mendatang.

"Bahan merkuri dapat menguap dalam temperatur panas. Kondisi lingkungan dengan demikian bisa kembali baik," beber Isrun.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Satya Widya Yudha menyambut baik kesadaran warga yang telah meninggalkan penggunaan merkuri dalam kegiatan penambangan. Di sisi lain, dia memastikan terdapat sanksi terhadap penggunaan merkuri. Apalagi Indonesia telah meratifikasi Konvensi Minamata di Jenewa ke dalam UU 11/2017 tentang Pengesahan Minamata Convention on Mercury pada 13 September 2017 lalu.

Menurutnya, ratifikasi itu telah jadi alat dan payung hukum bagi aparatur negara untuk melakukan penindakan jika ada penyalahgunaan merkuri.

"Dengan demikian ada satu tools aparat untuk menindak apabila itu terjadi perdagangan merkuri ataupun penggunaan merkuri untuk tujuan-tujuan penambangan. Karena pemakaiannya dibatasi terutama untuk kepentingan kesehatan. Jumlah beredar pun diatur dan dibatasi," jelas Satya.

Lanjutnya, untuk kepentingan pertambangan saat ini, sianida dapat digunakan sebagai pengganti merkuri. Hal itu berdasarkan pernyataan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII beberapa waktu lalu.

Sianidasi Emas yang juga dikenal sebagai proses sianida atau proses MacArthur-Forrest adalah teknik metalurgi untuk mengekstraksi emas dari bijih kadar rendah dengan mengubah emas ke kompleks koordinasi yang larut dalam air. Proses inilah yang paling umum digunakan untuk ekstraksi emas.

"Dengan digunakannya sianida sebagai alternatif diharapkan tak ada lagi pertambangan baik dikelola secara tradisional oleh rakyat, perusahaan besar atau menengah yang menggunakan merkuri," demikian Satya. [wah]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya