Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) terlibat dalam pendirian posko pengungsian ternak milik korban bencana erupsi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali.
"Keselamatan ternak menjadi bagian tak terpisahkan dari keselamatan manusianya. Karena itu, Fapet UGM terpanggil untuk berperan melalui posko bersama," ujar Dekan Fapet UGM Prof. Ali Agus dalam siaran persnya, Selasa (3/10).
Menurutnya, bencana alam adalah hal yang tidak pernah diharapkan. Namun, jika masyarakat dihadapkan pada fenomena tersebut maka perlu upaya agar dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, Gunung Agung dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan aktivitas dan sudah sampai status Awas.
Pemerintah menetapkan daerah di bawah radius kurang dari 12 kilometer sebagai kawasan rawan bencana (KRB) satu dan dua untuk dikosongkan. Dan diperkirakan sekitar 70 ribu penduduk akan berpindah ke tempat pengungsian.
Fapet UGM mendirikan posko penyelamatan ternak bersama lembaga lain seperti ISPI, FPPTI, AINI, Gapuspindo, dan Persepsi.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fapet UGM Bambang Suwignyo menambahkan, para pengungsi adalah peternak yang rela mengambil resiko masuk kawasan rawan bencana untuk tetap memantau dan memberi pakan ternak-ternaknya.
"Namun di sisi lain, ada saja oknum yang memanfaatkan kesempatan membeli ternak penduduk dengan harga murah, hingga separuh harga normal," paparnya.
Oleh karena itu, selain posko pengungsian manusia juga diperlukan posko pengungsian ternak. Posko sendiri didirikan di Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Karangasem.
"Bahwa saat ini ada 40 titik lokasi ternak disiapkan. Sebanyak tiga ribu ekor sapi sudah dievakuasi dari 20 ribu ekor yang ada. Sedangkan jumlah pengungsi sudah mencapai 144 ribu orang dari perkiraan hanya 70 ribu," papar Bambang.
Lanjut Bambang, posko bersama selain bersiap dengan stok pakan konsentrat juga menawarkan program edukasi pengurangan resiko bencana bagi para peternak.
"Kami usulkan program membuat pakan fermentasi dengan melibatkan para pengungsi. Pakan fermentasi dapat disimpan dalam waktu lama dengan tidak rusak, sehingga dapat untuk antisipasi stok andai erupsi berlangsung lama," ujarnya.
[wah]