Berita

Rini Soemarno/Net

Bisnis

Menteri Rini Sindir Pertamina Tak Pernah Order Kapal Dalam Negeri

SENIN, 02 OKTOBER 2017 | 09:18 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kementerian BUMN (Ba­dan Usaha Milik Negara) mem­inta PT Pertamina (Persero) turut melibatkan perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor industri alat berat dan perkapalan dalam membuat dan merawat kapal-kapal yang dioperasikan perusahaan. Meski Menteri BUMN, Rini M Soemarno me­nyadari, BUMN industri alat be­rat dan perkapalan ini memiliki pengalaman dan kualitas yang belum baik.

"Tapi, BUMN sekarang sudah banyak berubah. Pertamina ban­yak order kapal (ke luar negeri), tapi kok nggak pernah ke Dok-dok kita atau ke Barata. Saya sadari, pengalaman (BUMN) be­lum baik, jadi itu saya minta agar BUMN perkapalan ini tolong konsentrasi memperbaiki diri," ujarnya, di Jakarta, (29/9).

Rini mengingatkan kepada BUMN perkapalan dan alat berat untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitasnya. Sehingga, kerja sama dengan pihak lain bisa dilakukan ter­masuk dengan Pertamina.


Hal ini seiring dengan telah dilakukannya penandatangan­an perjanjian kerjasama pembua­tan kapal baru antara Pertamina dengan National Shipbuilding & Heavy Industry (NSHI) seperti PT PAL Indonesia (Persero), PT Djakarta Lloyd (Persero), PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero), PTDok Koja Bahari (Persero), PT Industri Kapal In­donesia (Persero) dan PT Barata Indonesia (Persero).

Menanggapi hal tersebut, Direk­tur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina, Gigih Prakoso mengutarakan, sebelum melakukan order kapal, akan lebih dulu melakukan check­ing assessment terhadap fasilitas galangan kapal BUMN.

Bahkan, pihaknya bisa mem­berikan coaching (pelatihan) atau pun guidance (petunjuk) bagaimana standarisasi yang dibutuhkan. Karenanya, ada beberapa hal yang perlu diting­katkan galangan kapal BUMN.

"Yang perlu ditingkat­kan itu dalam hal delivery time maupun quality. Sehingga da­lam kerjasama yang dilakukan hari ini Pertamina bisa mem­berikan kepastian," katanya.

Ia menerangkan, pada 2018 pihaknya telah menganggarkan 200 juta dolar AS untuk pem­buatan kapal-kapal baru guna menunjang operasional peru­sahaan lebih efektif dan efisien.

"Yang paling besar untuk pembangunan kapal baru. Be­lum tahu ya berapa unit. Kalau harga satu unit itu 20 juta sampai 30 juta dolar AS, ya mungkin enam sampai tujuh," katanya.

Bangun Kapal Tanker

Direktur Utama PAL Indo­nesia, Budiman Saleh menam­bahkan, melalui kerja sama ini, pihaknya akan membangun ka­pal tanker hingga ukuran 30.000 DWT, repair kapal dan non kapal seperti SPM, kilang, dan sebagainya.

Ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Pertamina dalam melaksanakan overhaul SPM (single point mooning) sebanyak 16 kali sejak Tahun 2009 dengan cara penunjukkan langsung kepada PT PAL.

"Kerja sama ini dapat menin­gkatkan kontribusi aktif BUMN perkapalan dan industri berat dalam tiga aspek pembangu­nan di Indonesia, Kemandirian Nasional, yaitu kemandirian sektor maritim dan perhubun­gan, kemandirian energi, dan kedaulatan pangan," katanya.

Di sisi lain, dengan adanya PMN (Penyertaan Modal Neg­ara) yang diberikan pemerintah kepada BUMN perkapalan dan industri berat, telah memberikan dampak peningkatan kapasitas produksi dan peningkatan ke­mampuan SDM. Sehingga sudah terlihat adanya perbaikan terh­adap delivery time dan kualitas produk yang dihasilkan.

"Dengan modal yang kami mi­liki tersebut, kami lebih percaya diri untuk mensupport Pertamina memenuhi kebutuhan perkapalan seperti kapal-kapal Tanker, LNG carrier, LNG Feeder dan FSRU. Serta perbaikan dan pemeli­haraan baik kapal maupun non kapal dengan mengutamakan aspek quality, cost, dan on time delivery serta mengedepankan asas Good Corporate Gover­nance," katanya.

Ia berharap, terjalinnya antara Pertamina dan NSHI bisa mem­berikan nilai tambah ke masing-masing perusahaan dan secara langsung memberikan multiflier efek terhadap kemajuan industri perkapalan di Indonesia.

"Sebab telah memberikan ke­naikan sales BUMN perkapalan dan industri berat, peningkatan kemampuan desain, dan dampak positif dalam penghematan de­visa negara," tandasnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya