. Kopi merupakan kearifan lokal yang dimiliki negara ini. Kopi dengan mudah kita temukan di warung biasa di desa sampai kafe di pusat perbelajaan kota. 'Dunia terasa hambar kalau belum meneguk segelas Kopi', mengutip para penggemar Kopi.
Menjawab tantangan pasar tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan melalui Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja mengadakan pelatihan yang khusus terkait profesi di bidang kopi ini atau lebih di kenal dengan 'Barista'.
Pelatihan untuk para penggiat kopi ini, dipusatkan di Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Kementerian Ketenagakerjaan, Lembang, Jawa Barat, akhir September kemarin.
Kepala Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Kementerian Ketenagakerjaan, Nana Mulyana menjelaskan, pelatihan Barista menjadi pilihan pelatihan, karena profesi ini masih sangat dibutuhkaan. Seiring mewabahnya kafe dan kedai kopi di Indonesia.
“Mewabahnya kafe memberi peluang kerja bagi Barista. Sebuah profesi baru yang cukup menjanjikan," katanya.
Tak hanya itu, lanjutnya, dengan munculnya barista-barista baru memungkikan mereka membuka kafe atau kedai kopi baru. Ini, diharapkan akan memberi efek baik bagi terserapnya pasar kerja baru. Setidaknya, jika satu barista mendirikan kafe, maka akan menarik dua pekerja baru untuk mengelolanya.
Menurut Nana, tahun ini, Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja membuka 30 angkatan pelatihan barista. Tiap angkatan terdiri 20 peserta. Secara keseluruhan tahun ini terdapat 600 peserta yang berasal dari hampir seluruh daerah di Indonesia.
"Sampai September ini, sudah terlaksana 15 angkatan pelatihan. Sebelumnya, tahun lalu, program ini telah diujicobakan dengan melibatkan 100 peserta," katanya.
Pelatihan selama empat hari ini menghadirkan instruktur yang berasal dari Barista profesional, seperti beberapa Barista dari
East Indische Koffie Jakarta. Materi pelatihan 70 persen diantaranya adalah praktik.
Nana menambahkan, saat ini pihaknya juga tengah menyiapkan pelatihan untuk para roaster kopi dan owner kafe atau kedai kopi. Roaster dilatih cara memanggang biji kopi yang berkualitas, sedangkan para pemilik kafe dilatih manajemen bisnis yang baik.
Salah satu instruktur pelatihan, Vickto Betaliano menjelaskan, materi pelatihan terdiri dari
coffee knowledhe, cupping, manual brew, espresso based, cappuccino serta latte art. “Meski hanya dalam waktu empat hari, karena materi pelatihan dominan praktik, maka setelah ikut pelatihan, 90 persen peserta bisa menjadi Barista. Selanjutnya tinggal memperkaya jam terbang. Tiap pelatihan selalu ditutup dengan lomba meracik dan menyajikan kopi yang diikuti oleh seluruh peserta,†tambah Vickto.
Agus Surono, salah satu peserta dari Klaten mengaku, pelatihan ini makin menguatkan kepercayaan dirinya untuk membuka kedai kopi.
“Setelah menguasai teknik dasar meracik kopi, sekarang saya berani membuka kedai kopi,†akunya.
Peserta asal Semarang, Adiansyah Harjunantio, mengatakan, selain mendapatkan modul dan praktik, pelatihan ini membekali Barista tentang bagaimana cara mengedukasi masyarakat tentang sejarah, manfaat dan citarasa kopi nusantara.
[wid]