Berita

Politik

GMPG: Masih Ada Waktu Golkar Tarik Diri Dari Pansus KPK

JUMAT, 29 SEPTEMBER 2017 | 18:01 WIB | LAPORAN:

Masih ada waktu bagi Partai Golkar untuk segera menarik diri dari Panitia Khusus DPR RI untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansus KPK).

Tidak ditemukan manfaat elektoral maupun manfaat politik bagi Golkar bila tetap mempertahankan diri berada di Pansus KPK. Sebaiknya, Golkar segera menarik diri dan menyatakan pekerjaan Pansus sudah cukup.

Menurut Inisiator Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG), Mirwan Bz. Vauly, kepada wartawan, desakan Golkar mundur dari Pansus seturut dengan keinginan DPP Partai Golkar yang akan mengevaluasi keberadaannya di Pansus KPK dalam Rakornis II Partai Golkar di Hotel Peninsula, Jakarta.


"Bagus sekali, masih ada waktu DPP Partai Golkar segera menarik diri, jika bisa sesegera mungkin. Ini bukan hanya soal elektoral, namun Golkar tentu punya cara yang lebih strategis memperbaiki kinerja KPK dalam tugas pemberantasan korupsi, " lanjut Mirwan.

Hampir semua partai pendukung pemerintah mendorong perpanjangan masa kerja Pansus KPK. Hanya Partai Amanat Nasional (PAN) yang berbeda sikap dan menyatakan tidak sepakat masa kerja Pansus diperpanjang.

Sementara, partai politik koalisi pemerintah lainnya, yakni PDI Perjuangan, Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Nasdem, Hanura, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) justru menjadi motor Pansus KPK.

Senada dengan Mirwan, aktivis GMPG, Muhammad Ikhsan, menyatakan salah satu penyebab penurunan elektabilitas Partai Golkar adalah keberadaannya sebagai motor Pansus KPK.

"Dengan menarik Partai Golkar keluar dari Pansus KPK, ibaratnya seperti melepas sebagian belenggu yang menghalangi elektabilitas partai," ujar Ikhsan.

Ikhsan juga berharap suara keras dari para petinggi DPP Partai Golkar untuk menonaktifkan Setya Novanto bisa jadi jalan keluar dari kemerosotan elektabilitas partai.

"Kami melihat langkah para senior untuk menonaktifkan Setya Novanto karena kasus E-KTP merupakan kunci utama untuk rebound-nya elektabilitas Partai Golkar," jelasnya. [ald]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Demi Penataan Kawasan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59

Lahan Huntap Korban Bencana Harus Segera Dituntaskan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52

Ini Identitas Delapan Orang dan Barbuk OTT Pejabat Pajak Jakut

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12

Larangan Tambang Emas Rakyat, Kegagalan Baca Realitas

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58

Pelapor Pandji Dianggap Klaim Sepihak dan Mencatut Nama NU

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30

Romantisme Demokrasi Elektoral dan Keliru Baca Kedaulatan

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08

Invasi AS ke Venezuela Bisa Bikin Biaya Logistik Internasional Bengkak

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45

Khofifah Ajak Pramuka Jatim Sukseskan Ketahanan Pangan dan MBG

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Klok Dkk Siap Melumat Persija Demi Amankan Posisi

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40

Selengkapnya