Berita

Foto/Net

Bisnis

Syaratnya, Bentuk Dulu Bank Syariah BUMN

Pangsa Pasar Diyakini Bisa Tembus 15 Persen
JUMAT, 29 SEPTEMBER 2017 | 09:33 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pangsa pasar perbankan sya­riah sebenarnya mampu menem­bus 15 persen atau lebih tinggi dari posisi saat ini, yang baru menyentuh 5,3 persen. Salah satu upayanya adalah dengan membentuk bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menurut Wakil Ketua Umum Masyrakat Ekonomi Syariah (MES) Firdaus Djaelani, kon­disi perbankan syariah yang saat ini naik turun, lantaran masih kurangnya skala ekonomi per­bankan syariah.

"Untuk itu diperlukan berbagai upaya agar dapat mendorong per­tumbuhan perbankan syariah da­lam industri perbankan nasional. Salah satu upaya yang diusulkan oleh MES kepada pemerintah, yakni dengan membentuk bank syariah BUMN," ujarnya di Jakarta, kemarin.


Firdaus bilang, dulu pernah ada wacana pemerintah melakukan merger antara bank syariah anak usaha BUMN, seperti Mandiri Syariah, BNI Syariah, BRI Sya­riah serta Unit Usaha Syariah BTN. Meski begitu, hingga saat ini usulan tersebut belum di­jalankan oleh pemerintah.

"Bisa saja merger bank BUMN Syariah. Kalau digabung, misal­nya bisa mencapai ekuitas Rp 15 triliun, lalu ditambahkan lagi modalnya supaya bisa masuk kelas BUKU (bank umum kegiatan usaha) IV," kata Firdaus.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Juli 2017 total aset perbankan sya­riah sudah mencapai Rp 388,65 triliun, atau berkontribusi 5,46 persen terhadap aset perbankan nasional.

"Kalau sekarang kan masih 5,3 persen. Jadi akan mencapai skala ekonomi kalau pangsa pasar sudah mencapai 15 persen seperti Malaysia. Artinya, kalau sudah segitu, mulai efisien," imbuhnya.

Firdaus melanjutkan, dengan menjadi bank syariah di kelas BUKU IV, maka bank tersebut dapat memperluas bisnis dengan menjadi bank persepsi, bank penyaluran APBN, serta bisnis lainnya seperti asuransi, multi­finance, sekuritas dan lain seba­gainya. Karena bisnis tersebut tidak bisa dilakukan oleh bank yang memiliki modal di bawah Rp 30 triliun.

Dengan permodalan dan ka­pasitas besar, imbuhnya, di­harapkan perbankan syariah bisa tumbuh besar pangsa pasarnya. Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga perlu dilakukan. Karena bukan rahasia lagi, saat ini pemimpin bank-bank syariah berasal dari bank konvensional. Ia berharap, dengan banyaknya perguruan tinggi ekonomi sya­riah, nantinya SDM perbankan syariah akan berasal dari ilmu ekonomi syariah.

Deputi Komisioner Penga­wasan Perbankan OJK Sukarela Batunanggar menilai, perlu ada standardisasi khusus untuk perbankan syariah, agar dapat mendorong kualitas SDM per­bankan syariah. Tren perkem­bangan perbankan syariah harus didukung kualitas SDM.

"Terdapat 147 perguruan tinggi yang memiliki program ekonomi syariah, tapi belum terstan­dardisasi. Tantangan berikutnya bagaimana membuat standari­sasi, sehingga kualitas menjadi lebih baik," ujar Sukarela.

Untuk mendorong SDM per­bankan syariah, kata Sukarela, OJK memiliki beberapa inisiatif untuk dikembangkan. Pertama, perlu ada program vokasi untuk program studi syariah. Kedua, perlu ada pusat penelitian dan pengembangan SDM keuangan syariah berkelas dunia.

Ketiga, sinergi keuangan sya­riah yang didukung dengan peresmian Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Ke­empat, standardisasi kurikulum. Kelima, integrasi yang lebih mendalam antara ilmu syariah dan ilmu ekonomi modern.

Dalam hal sinergi, Sukarela mengkritik kurangnya sinergi antara stakeholder. Meskipun berada di bawah naungan Aso­siasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), sinergi antara bank syariah dinilai masih kurang.

"Dalam pelaksanaannya masih sendiri-sendiri. Harapannya bisa lebih bersinergi. Walaupun bersa­ing dalam bisnis tapi harus beker­jasama juga," kata Sukarela.

Sebab menurutnya, skala ekonomi bank syariah yang masih kecil, yakni dengan pangsa pasar baru sekitar 5,3 persen, perlu disiasati dengan sinergi. Ia juga berharap adanya sinergi melalui satu common platform untuk bank syariah di Indonesia, yang di dalamnya terdapat teknologi informasi, SDM, marketing, sosialisasi dan sebagainya.

"Logo iB (islamic banking) itu belum menjadi jaminan pe­layanan, jaminan kenyamanan, dan lainnya. Jadi skala ekonomi yang kecil itu disiasati dengan sinergi, agar menciptakan trust nasabah kepada iB ini," kata Sukarela. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya