Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (56)

Mendalami 'Persatuan Indonesia'

KAMIS, 28 SEPTEMBER 2017 | 08:36 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

HETEROGENITAS dan plu­ralitas bagian dari Sunnatul­lah. Jika dicermati kitab suci paling banyak membahas tol­eransi dan pluralisme ialah Al- Qur'an. Sepertinya Al-Qur'an penuh percaya diri dan seka­ligus mendeklarasikan dirinya sebagai agama terbuka un­tuk berbagai paham dan pe­mikiran. Mungkin itulah hikmah Al-Qur'an sebagai kitab suci akhir zaman yang bersedia berdialog dengan tuntutn zamannya. Jika Al-Qur'an sudah membuka diri sedemikian lebar terhadap perbe­daan dan pluralitas, maka semestinya umatnya juga menempuh sikap yang sama: terbuka dan penuh kelapangan dada menerima pluralitas dan heterogenitas masyarakat.

Di antara dalal-dalil agama yang penting untuk dicerna ialah sebagai berikut: "Dan di antara tan­da-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasamu dan warna kulit­mu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui" (Q.S. al-Rum/30: 22). Ayat lain dika­takan: Lakum dinukum wa liyadin (Untukmu ag­amamu dan untukku agamaku). Hai manusia, ses­ungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supa­ya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Q.S. A-Hujurat/49:13). Dalam ayat lain ditegas­kan lagi: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, ten­tulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memak­sa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Q.S. Yunus/10:99). Se­sungguhnya kamu tidak akan dapat memberi pe­tunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehenda­ki-Nya, (Q.S. al-Qashash/28:56).

Pluralisme dalam pandangan ulama tasawuf juga mencerminkan nama-nama indah Tuhan (al- Asma' al-husna'). Dalam 99 nama di dalamnya ter­dapat sejumlah nama-namanya yang berbeda satu sama lain. Di antara nama-nama tersebut da yang kontradiktif satu sama lain. Ada Yang Maha Awal (al-Awwal) tetapi ada Yang Maha Akhir (al-Akhir), ada Yang Maha Dhair (al-Dhahir), ada Yang maha Menghidupkan (al-Hayy) dan ada Yang Maha Me­matikan (al-Mumit). Ada Yang Maha Pemberi Petun­juk (al-Hadi) dan ada Yang Maha Membingunkan (al- Mudhil), dan ada Yang Maha Lahiria (al-Dhahir) dan ada Yang Maha Mematikan (al-Mumit), dan seterus­nya. Makhluknya juga berbed-beda satu sama lain. Meskipun berbeda-beda tetapi keseluruhan nama-nama tersebut tetap di bawa bingkai Lafz al-Jalalah, ALLAH. Dalam kehidupan kita di level bawah juga ada Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya menyeru­pai konsep Al-Asma' al-Husna.


Di dalam ayat lain Allah Swt lebih tegas meneka­nkan bahwa perbedaan setiap umat sudah diran­cang sedemikian rupa: "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan". (Q.S. al-Maidah/5:48). Dalam ayat lain Allah Swt mem­berikan suatu pernyataan indah: "Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain". (Q.S. Yusuf/12:67).

Selain ayat-ayat tersebut di atas, terdapat juga sejumlah hadis dan pengalaman Nabi Muhammad Saw. Di antaranya yang sangat penting ialah Nabi sangat respek terhadap tokoh-tokoh agama lain. Nabi sering dikunjungi tokoh lintas agama di rumah­nya (Raudhah) dan ia sendiri langsung menjamu mereka di masjidnya. Nabi juga selalu mewanti-wan­ti kepada para prajuritnya sebelum berangkat ke me­dan perang agar jangan mengganggu anak-anak, kaum perempuan, para orang tua bangka, dan jan­gan mengganggu pohon dan tamannya rang tua.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya