Berita

Presiden Jokowi dan Rizal Ramli/Net

Politik

Rizal Ramli Sempat Dibully Soal PLN, Tapi Kini Kritiknya Terbukti

KAMIS, 28 SEPTEMBER 2017 | 03:36 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Satu persatu kritik yang pernah dilontarkan mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli menemui kebenaran. Presiden Jokowi pun diminta mengangkat kembali Rizal sebagai 'pembantunya' di kabinet.

"Kali ini kritik Rizal Ramli yang terbukti adalah kondisi PLN yang terlilit utang hingga Rp 299 triliun yang diantaranya diakibatkan proyek listrik 35.000 MW. Maka langkah yang tepat dilakukan oleh Presiden Jokowi adalah menarik kembali Rizal Ramli ke dalam Kabinet Kerja," ujar Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Sya'roni melalui sambungan telepon kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (27/9).

Sejak awal Rizal mengkritik proyek pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW yang dikatakannya hanya akan merugikan PLN. Sekarang terbukti kondisi keuangan PLN mengkhawatirkan dimana salah satunya, seperti disorot Menteri Keuangan Sri Mulyani, adalah beban PLN dalam investasi proyek listrik 35.000 MW.


Rizal bahkan sempat 'mengepret' soal target pengerjaan proyek yang disebutnya tidak realistis dan terlalu ambisius. Tapi Rizal yang ketika itu mengatakan proyek listrik 35.000 MW tidak bisa diselesaikan dalam lima tahun (2014-2019) malah "dibully" tak paham soal kelistrikan oleh Jusuf Kalla.

Namun pandangan Rizal kini terbukti benar. Menteri ESDM Ignasius Jonan sebagai orang yang paling bertanggung jawab di bidang energi setidaknya sudah dua kali menjelaskan ke publik bahwa program pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW baru akan selesai tahun 2025. Dalam tiga tahun ke depan yang dapat dikejar menurut Jonan hanya 20.000 MW.

Dan bahkan Presiden Jokowi menyebut megaproyek ini mangkrak karena progres pembangunannya amat lambat. Ucapan Jokowi beralasan karena hingga 24 November 2016 yang berhasil dieksekusi hanya 36 persen dari target kumulatif tahun 2016.

"Dengan kembali terbuktinya kritik yang dilontarkan oleh Rizal Ramli maka sudah seharusnya Presiden Jokowi mengapresiasi gagasan dan pemikiran dia," imbuh Sya'roni.

Ada banyak kepretan Rizal yang terbukti benar. Contoh lainnya terkait rencana pembelian pesawat Airbus A350 sebanyak 30 unit oleh Garuda Indonesia. Ketika menjabat Menko Maritim, Rizal mengatakan rencana pembelian pesawat dengan pinjaman 44,5 miliar dolar AS dari China Aviation Bank ini harus dibatalkan karena hanya pemborosan dan malah bisa menggerogoti keuangan maskapai pelat merah itu.

Menurut Rizal yang menjabat Menko Perekonomian di era Pemerintahan Gus Dur, pesawat Airbus A350 hanya cocok digunakan untuk rute Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa. Sementara pengalaman Garuda terbang untuk rute Jakarta-Amsterdam serta Jakarta-London tingkat keterisiannya hanya mencapai 30 persen, kalah bersaing dari maskapai negara lain. Kondisi ini menurut hemat Rizal membuat Garuda merugi terus-menerus.

Kritik Rizal yang pernah dipercaya sebagai anggota penasehat ekonomi PBB pun menjadi kenyataan. Laba bersih Garuda Indonesia dari tahun ke tahun selama periode Pemerintahan Jokowi terus anjlok. Laba bersih Garuda sepanjang tahun 2016 hanya 8,06 juta dolar AS menurun tajam 89,42 persen dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 76,48 juta dolar AS.

Pada medio Maret 2017 Dirut Garuda Indonesia Arif Wibowo mengakui penurunan laba bersih ini disebabkan persaingan bisnis aviasi yang ketat salah satunya persaingan harga tiket antar maskapai. Ketatnya jalur penerbangan dalam dan luar negeri sangat mempengaruhi sehingga mengalami penurunan pendapatan setiap kursi terisi per kilometer atau yield sebesar 9 persen.

Adapun sepanjang 2014 kinerja Garuda mencetak rugi bersih senilai 371,97 juta dolar AS padahal pada 2013 mampu meraup laba bersih 13,58 juta dolar AS.

Karena sangat menguasai permasalahan makro dan mikro ekonomi, menurut Sya'roni, Rizal pantas diberi kepercayaan untuk mengurus bidang ekonomi. Dia yakin sosok Rizal yang kaya terobosan dalam mengatasi berbagai persoalan bisa menghadirkan perubahan dan perbaikan terkait kinerja Presiden Jokowi dalam upaya mewujudkan Nawacita di bidang ekonomi di dua tahun sisa masa pemerintahannya.

"Saat ini tim ekonomi sangat kedodoran mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka sangat tepat kiranya bila Rizal Ramli diberikan tanggung jawab sebagai nahkoda tim ekonomi," tukas Sya'roni. [ian]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya