Berita

Angela Merkel/Net

Jaya Suprana

Bahaya Laten Nazisme Jerman

SELASA, 26 SEPTEMBER 2017 | 07:21 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MESKI bukan warga negara Jerman namun saya memiliki keterkaitan emosional dengan Jerman sebab sempat satu dasawarsa bermukim, menimba ilmu, mencari nafkah dan mengajar di Jerman. Kebetulan saya juga pengagum Angela Merkel sebagai kanselir Jerman yang berjaya membawa negara, bangsa dan rakyat Jerman pasca Perang Dunia II berperan sebagai pemeran utama di panggung politik negara-negara Eropa.

Di bawah kekanseliran Angela Merkel, Jerman memegang peran utama di gelanggang percaturan ekonomi dan politik planet bumi awal abad XXI tanpa menggunakan kekuatan militer seperti zaman baja dan darah Otto von Bismarck dan Adolf Hitler di masa lalu. Angela Merkel membuktikan kepada dunia bahwa kekuasaan tidak perlu dipaksakan melalui kekerasan. Alangkah indahnya dunia ini apabila Donald Trump belajar tentang kekuasaan bukan dari Hitler tetapi dari Merkel.

Partai AfD
Saya ikut merasa bangga bahwa pada pemilihan umum Jerman pada hari Minggu 24 September 2017, Angela Merkel sebagai kanselir Jerman perempuan pertama kembali mengukir sejarah Jerman pasca Perang Dunia II dengan membuktikan kedigdayaan kepemimpinan yang berhasil kembali memenangkan pemilu Jerman untuk ke empat kali. Namun kemenangan Merkel kali ini  dibayang-bayangi awan kelabu. Juga untuk pertama kali setelah Perang Dunia II selama lebih dari 60 tahun, partai sayap ultra kanan yang merupakan kelanjutan partai Nazi era Hitler berhasil merebut kursi di parlemen Jerman. Partai AfD (Alternative fuer Deutschland) berhasil meraih 13 persen dari keseluruhan suara pada pemilu 2017 yang berarti meningkat tiga kali lipat dari 4,7 persen pada pemilu 2013. Keberhasilan partai AfD secara signifikan meningkatkan penolakan bahkan perlawanan terhadap kebijakan imigran dan pluralisme yang konsisten dan konsekuen ditatalaksanakan oleh Angela Merkel. Keberhasilan partai AfD masuk parlemen mengindikasikan bahwa mashab sosial-nasionalisme Adolf Hitler yang sempat menyeret Jerman terjerembab jatuh ke jurang keaiban pada Perang Dunia II kini mengalami masa kebangkitan kembali di Jerman.

Saya ikut merasa bangga bahwa pada pemilihan umum Jerman pada hari Minggu 24 September 2017, Angela Merkel sebagai kanselir Jerman perempuan pertama kembali mengukir sejarah Jerman pasca Perang Dunia II dengan membuktikan kedigdayaan kepemimpinan yang berhasil kembali memenangkan pemilu Jerman untuk ke empat kali. Namun kemenangan Merkel kali ini  dibayang-bayangi awan kelabu. Juga untuk pertama kali setelah Perang Dunia II selama lebih dari 60 tahun, partai sayap ultra kanan yang merupakan kelanjutan partai Nazi era Hitler berhasil merebut kursi di parlemen Jerman. Partai AfD (Alternative fuer Deutschland) berhasil meraih 13 persen dari keseluruhan suara pada pemilu 2017 yang berarti meningkat tiga kali lipat dari 4,7 persen pada pemilu 2013. Keberhasilan partai AfD secara signifikan meningkatkan penolakan bahkan perlawanan terhadap kebijakan imigran dan pluralisme yang konsisten dan konsekuen ditatalaksanakan oleh Angela Merkel. Keberhasilan partai AfD masuk parlemen mengindikasikan bahwa mashab sosial-nasionalisme Adolf Hitler yang sempat menyeret Jerman terjerembab jatuh ke jurang keaiban pada Perang Dunia II kini mengalami masa kebangkitan kembali di Jerman.

Bahaya Laten Nazisme
Angela Merkel cukup peka untuk menyadari ancaman bahaya laten Nazisme di Jerman maka berjanji akan terus berupaya menjalin dialog dengan para pimpinan partai AfD agar mereka jangan sampai kebablasan menyeret Jerman kembali ke angkara murka ideologi Nazisme Adolf Hitler yang telah terukir di lembaran terhitam sejarah peradaban umat manusia terburuk di planet bumi ini. Kebangkitan sayap ultra kanan yang kini disebut sebagai aliran populisme juga menghantui Italia, Perancis dan Inggeris.   Anggota partai AfD, Burkhard Schroeder dari Duesselsdorf benar-benar anti Merkel maka bersorak-sorai "Kita di sini euforia merayakan kemenangan besar kita dan kekalahan besar Angela Merkel!."

Sementara tokoh pimpian AfD, Alexander Gauland sesumbar "Mari kita rebut kembali negeri kita! Kini kita masuk ke parlemen maka kita akan merubah Jerman!." [***] 

Penulis adalah pembelajar geopolitik dunia masa kini

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Malaysia Fair 2026 Jadi Ajang Perluasan Pasar Medical Tourism di Indonesia

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:12

CFD Rasuna Said Kembali Digelar, Ini Lokasi Parkir dan Rute Transportasi Umumnya

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:10

Begini Spek Bangunan SPPG di Daerah 3T yang Dibangun Kementerian PU

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:47

Sambut Nanik Deyang, APJI Minta Juknis Dapur MBG Dibenahi

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:01

Menteri PU Rampungkan 222 SPPG di Daerah 3T

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:48

KPK Panggil Motivator Ary Ginanjar Agustian di Kasus Gratifikasi IUP Kukar

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:45

Akulaku Finance Dukung Proses Hukum pada Tindakan Kecurangan

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:36

Mubes Kosgoro 1957: Berkas La Ode Beres, Sari Yuliati Belum Bayar Administrasi

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:18

Awas Kolesterol Naik! Ini 5 Tips Sehat Mengolah Daging Kurban ala Ahli Gizi UNS

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:57

AS Buka Jalur untuk 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:33

Selengkapnya