Berita

Foto/Net

Bisnis

Bank Didesak Segera Wujudkan Suku Bunga Kredit Single Digit

Repo Rate Kembali Dipangkas Menjadi 4,25%
SENIN, 25 SEPTEMBER 2017 | 09:04 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penurunan kembali suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 Day Reverse Repo Rate (repo rate) 25 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen, menumbuhkan harapan kuat suku bunga single digit di perbankan.

 Diakui banyak pihak, seka­rang ini memang eranya suku bunga rendah, di mana per­mintaan masyarakat akan kredit cenderung lemah. Untuk itu penurunan suku bunga acuan oleh BI seharusnya segera direspons industri perbankan, agar penyerapan kredit kian gesit.

Analis Senior Binaartha Seku­ritas Reza Priyambada menilai, langkah BI yang kembali me­mangkas suku bunga acuan merupakan langkah yang berani, di mana pada Desember nanti justru Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) bakal menaikan suku bunganya (Fed Fund Rate/FFR).


"Namun perlu dipastikan, apakah langkah BIini murni sebagai upaya mengakomodir kondisi makro ekonomi ke depannya, atau memang seba­gai upaya antisipasi The Fed di Desember nanti," ucapnya kepada Rakyat Merdeka.

Menurut Reza, turunnya repo rate memang sebaiknya harus direspons cepat oleh perbankan guna memberikan stimulus moneter. "Sehingga, laju per­ekonomian bisa terjaga den­gan meningkatnya konsumsi masyarakat," tutur Reza.

Ia melihat BI memang perlu mengakomodir kondisi makro ekonomi saat ini, di mana stimu­lus moneter akan menjaga per­tumbuhan, terutama dari tingkat konsumsi masyarakat. Sekali­gus, diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi pasar ekuitas, meskipun di sisi lain pergerakan pasar valas terutama rupiah belum tentu akan ikut menguat.

"Yang paling terasa ada di pertumbuhan ekonomi, seperti peningkatan penyaluran kredit dan consumer spending," im­buhnya.

Asisten Gubernur Kepala De­partemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo menjelaskan, meski Bank Sentral telah menurunkan suku bunga acuannya sebanyak 175 bps sejak awal 2016 hingga September 2017, namun hingga kini perbankan baru menurunkan suku bunga kreditnya sebanyak 115 bps.

"Suku bunga kredit telah turun 115 bps, sedangkan suku bunga acuan sudah turun 175 bps. Maka ini masih ada room bagi pelonggaran suku bunga perbankan," ujar Dody saat mengumumkan keputusan Ra­pat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Jumat (22/9).

Untuk itu ia menyerukan perbankan segera merespons pe­longgaran kebijakan BI dengan cara menurunkan suku bunga kreditnya.

"Kami lihat intermediasi ini akan jalan melalui kebijakan suku bunga kredit. Intermediasi perbankan belum menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan kredit Juli 2017 masih rendah yaitu tercatat 8,2 persen (year on year/ yoy), meskipun membaik dari bulan sebelumnya 7,8 persen (yoy)," ucapnya.

Di tempat yang sama, epala Departemen Kebijakan Makro­prudensial BI Filianingsih Hen­darta menambahkan, masih lam­batnya penurunan suku bunga kredit oleh perbankan lantaran bank lebih memilih untuk me­nyehatkan kredit bermasalahnya (Non Performing Loan/NPL) ketimbang menurunkan bunga kredit.

"Semoga bank-bank bisa segera tuntaskan konsolidasinya lebih efektif dan efisien dalam pembiayaan, sehingga suku bunga kredit bisa turun," tegas wanita yang akrab disapa Fili ini.

Nantinya, kata Fili, dengan penurunan suku bunga acuan yang sudah sebanyak 175 bps ini maka cost of fund (COF) perbankan juga akan turun. Den­gan demikian, penurunan COF ini akan diikuti oleh penurunan suku bunga operasi moneter dan juga deposito, yang nantinya akan mendorong suku bunga kredit perbankan untuk ikut turun.

"Kami harap ini menjadi salah satu faktor utk mendorong in­termediasi perbankan. Tapi ini tergantung intermediasi dari masing-masing bank, karena ada komponen biayanya berapa, tenaga kerja berapa, CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) berapa?" tutupnya.

Dari sisi perbankan, Corpo­rate Secretary PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ryan Kiryanto mengaku siap menu­runkan suku bunganya. Namun pihaknya tak bisa memastikan apakah akan menuju single digit atau tidak.

Saat ini suku bunga dasar kredit BNI untuk korporasi sebe­sar 10,25 persen, dan kredit ritel 9,95 persen. Sedangkan untuk suku bunga kredit konsumsi, KPR sebesar 10,5 persen, dan non KPR sebesar 12,5 persen.

"Tentunya kami tengah mem­pertimbangkan peluang untuk menurunkan suku bunga kredit," tuturnya.

Menurut Ryan, turunnya bunga kredit tidak harus mengacu pada turunnya bunga acuan BI, tetapi lebih pada kebijakan internal BNI dengan mempertimbangkan beberapa hal. Mulai dari kondisi likuiditas, porsi CASA (current account saving account) atau dana murah, serta bunga sim­panan yang ditetapkan.

"Penurunan bunga kredit BNI juga mempertimbangkan bunga kredit di pasar atau industri perbankan pada umumnya. Dengan strategi itu, BNI mampu menjaga level NIM (net interest margin/margin bunga bersih) berkisar 5,5-6 persen," ucap Ryan. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya