Berita

Jajang C Noer/Net

Wawancara

WAWANCARA

Jajang C Noer: Riset Film G30S-PKI Sangat Teliti, Kalau Presiden Mau Bikin Baru, Tentu Kami Senang Sekali

SENIN, 25 SEPTEMBER 2017 | 08:27 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jajang masih ingat betul prosespembuatan film G30S-PKI. Dia mengungkapkan, se­lama proses pembuatan pemerintah sama sekali tidak mengintervensi. Sayangnya, memang diakui Jajang, dalam proses riset, suaminya kesulitan untuk mendapatkan data dari keluarga atau pun pihak-pihak yang terkait dengan PKI. Dia bilang, saat itu para pelaku seja­rah dari unsur PKI tak ada yang berani mengungkapnya. Berikut penuturan lengkap Jajang C Noer;

Tanggapan Anda terkait pe­mutaran kembali film G30S-PKI karya almarhum suami Anda?
Tentunya saya senang sekali, karena memang target film itu, mesti saya tekankan sekali lagi supaya kita mengerti bahwa PKI tidak benar. Ya, kalau mau dikatakan jahat. Supaya kita membenci PKI karena apa yang telah mereka lakukan.

Tapi keluarga dan pelaku sejarah eks PKI banyak yang menilai isi film itu tidak be­nar?

Tapi keluarga dan pelaku sejarah eks PKI banyak yang menilai isi film itu tidak be­nar?
Untuk membuat film ini, Mas Arifin melakukan riset yang men­dalam. Syutingnya saja hampir 2 tahun, kami alami dua kali leba­ran, mulai dari casting sampai riset. Untuk membuat film ini biaya yang dihabiskan itu sampai Rp 800 juta, dan itu bukan jumlah yang kecil pada saat itu.

Produksinya lama sekali, karena apa itu?

Karena riset dan castingnya. Sulit mencari yang mau men­jelaskan situasi sesungguhnya saat itu. Lalu untuk mendapat­kan para pemain yang berperan dalam filmnya juga butuh waktu lama. Sampai-sampai kami menyiapkan asisten yang setiap hari Jumat menunggu di masjid, dan ada juga asisten yang setiap hari Minggu menunggu di gereja untuk mendapatkan pemeran yang tepat.

Bagaimana sih awal ceri­tanya sehingga suami Anda memiliki ide untuk membuat film itu?
Awalnya itu G Dwipayana (pimpinan Perusahaan Film Nasional/PFN), mau mem­bangkitkan PFN menjadi pusat produksi film nasional. Dia tanya sama Mas Gun (Goenawan Muhammad), siapa sutradara andal. Mas Gun jawab, Arifin C Noer dan Teguh Karya.

Saat itu, belum tercetus film G30S/PKI, tetapi film Harmonika itu film untuk anak-anak. Lalu ke­mudian berubah jadi film G30S/PKI itu. Awalnya ya tidak setuju, karena film sejarah itu selalu berat dan harus detail. Tapi ke­mudian karena cintanya kepada bangsa, dia pun bersedia. Dia mau film ini jadi data sejarah bagi generasi selanjutnya.

Lalu?
Karena ini film sejarah, maka direkrutlah sejarawan Nugroho Notosusanto. Setelah itu data di­kumpulkan, dan dibuat skenario awal. Mas Arifin lalu mengolah dan buat skenario, semua pure berdasarkan data yang kami kumpulkan saat itu.

Saya perlu tekankan demiki­an, ada data yang mengatakan penyiksaaan kepada jenderal seperti mata dicungkil, (maaf) penis dipotong, tapi karena Mas Arifin tak percaya, ya dia hanya buat itu menjadi berdarah-darah. Kemudian jadilah film yang ada saat ini.

Dalam pembuatannya sem­pat ada intervensi dari pemerintah?
Tidak ada. Dia itu orang yang tidak bisa diatur, jadi tidak ada intervensi sama sekali. Begitu skenario selesai dan dibaca Pak Harto, Mas Arifin jalan sendiri. Secara estetis dia tidak ada diatur siapapun. Kalau ada tentara di sekitar kami itu untuk amankan kami. Karena ini kan proyek negara dan masalah sensitif.

Meski Anda mengatakan tidak ada intervensi, tapi ban­yak yang menganggap film ini sebagai alat propaganda Orba?
Bahwa itu dikatakan propa­ganda Soeharto, ya apa boleh buat. Kan itu memang dia ada di situ, dan bahkan dia yang danai film itu juga kan. Yang dia (Arifin) tidak sangka adalah akan ada pemutaran setiap 30 September dan menjadi film wa­jib untuk anak sekolah. Soalnya sepengetahuan dia film ini hanya akan jadi arsip nasional.

Presiden minta film ini dibuat ulang?

Senang dong, biar jangan nyalahin film saya terus. Setiap tahun saya dihadapkan ada yang bilang Mas Arifin bohong, Mas Arifin penghianat bang­sa. Padahal film yang Mas Arifin buat sudah berdasarkan pada penelusuran dan wawancara anggota PKI. Jadi kalau ada film baru saya terbebas kan. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya