Berita

Foto/Net

Bisnis

Indonesia Power Incar Dana Rp 4 T

Luncurkan Sekuritisasi Efek Beragun Aset
JUMAT, 22 SEPTEMBER 2017 | 08:41 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

PT Indonesia Power (IP) melaku­kan pencatatan perdana sekuriti­sasi Efek Beragun Aset (EBA) dengan nama EBA Danareksa Indonesia Power PLN 1-Piu­tang Usaha (EBA DIPP1). Anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini menargetkan bisa kantongi dana Segar Rp 4 triliun.

Direktur Utama Indonesia Power Sripeni Inten Cahyani mengatakan, pada tahap pertama ini, perseroan mengumpulkan dana Rp 4 triliun. Hal ini sesuai dengan nilai EBA yang ditawar­kan. "Nilai EBA yang ditawar­kan sebesar Rp 4 triliun dengan aset dasar disekuritisasi adalah aset keuangan yang merupakan bagian dari piutang penjualan ketenagalistrikan PLTU (Pem­bangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya unit 1-4," kata Sri di Gedung Bursa Efek Indo­nesia, Jakarta, Rabu (20/9).

Hadir dalam acara tersebut Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, Direktur Utama BEI Tito Sulistio, dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir.


Penerbitan EBA DIPP1 ini seiring dengan rencana strategis perseroan untuk melakukan sekuritisasi EBA sebanyak-banyaknya Rp 10 triliun, dan akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2018. Dana dari hasil sekuritisasi tersebut guna menutupi kebutuhan pembangu­nan PLTU Suralaya dengan ka­pasitas 2x1000 mega watt (MW) yang diperkirakan mencapai Rp 43 triliun. Jika dihitung maka kebutuhan ekuitas atas proyek tersebut sekitar Rp 12 triliun.

"Sementara kami 51 persen­nya, jadi butuh Rp 6 triliunan. Tapi (sekuritisasi KIK EBA) kita ambil bertahap, Rp 4 triliun dulu, karena ini proyek multiyears," tuturnya.

Untuk KIK EBA DIPP1 aset dasar yang disekuritisasikan adalah aset keuangan yang merupakan bagian piutang penjualan ketenagalistrikan PLTU Suralaya 1-4 yang sudah beroperasi. Sementara untuk tahap selanjutnya, Sripeni telah menyiapkan beberapa piutang yang akan disekuritisasikan. Seperti dari PLTU Mulut Tam­bang di Sulawesi 2x100 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di wilayah Sulawesi sebesar 30 MW. "Itu untuk KIK EBA sisanya, yang Rp 6 triliun," tukasnya.

Sri menjelaskan, penawaran yang berlangsung pada 4-11 September 2017 itu mendapat sambutan positif dari investor. Sekuritisasi aset keuangan IP mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 2,7 kali, yaitu mencapai Rp 10,05 triliun dari target Rp 4 triliun yang terdiri dari penawaran umum EBA Kelas A Rp 3,688 triIiun dan penawaran terbatas EBA Kelas B Rp 312 miliar.

Sri mengungkapkan, ke­berhasilan ini tidak lepas dari dukungan PT PLN selaku pemegang saham Indonesia Power dan sinergi dengan ber­bagai pihak, yaitu Danareksa Investment Management sebagai Manajer-Investasi, Bank BRI se­bagai bank kustodian, Danareksa Sekuritas sebagai Lead Arranger dan Selling Agent.

Selain itu, para agen penjual lainnya PT Bahana Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, PT BCA Sekuritas dan juga para profesi penunjang untuk mengupayakan pendala­man investasi melalui penerbitan instrumen pendanaan baru ber­basis piutang di pasar modal.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasu­tion menilai, KIK EBA DIPP1 menarik lantaran produk terse­but memiliki banyak kelebi­han seperti tidak dikenakan pajak. "Kelebihan kedua bunganya 8,25 persen. Ini kalau banknya efisien cost of fund-nya paling 4 persen, ya menarik. Ke­napa meledak jumlahnya karena itu," tuturnya.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menyambut positif pencatatan tersebut. Masih ada banyak aset BUMN yang bisa disekuritisasi dan akhirnya ber­guna untuk mendanai proyek infrastruktur. "Bu Rini Soemarno (Menteri BUMN) masih punya banyak stok lagi. Tapi jangan lupa go public juga sahamnya ya," kata Tito. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya