Setara Institute menyambut baik rencana Presiden Jokowi untuk membuat film baru mengenai Peristiwa 1965.
"Keinginan Presiden Jokowi agar ada film baru mengenai peristiwa 1965 bagi generasi milenial patut didukung. Film yang diharapkan akurasi sejarahnya lebih obyektif, " kata Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, Selasa (18/9).
Tidak hanya objektif, Bonar juga menilai film yang dibuat nantinya tidak semata hanya propaganda dan tertuju pada kekerasan yang terjadi pada 1 Oktober 1965. Film tersebut juga menuturkan prolog mengapa peristiwa berdarah 1965 meletus, epilog serta sequel yang berakibat tragis bagi sebagian orang Indonesia yang tidak terlibat dan menjadi korban.
"Dengan demikian film baru itu mampu menjadi refleksi bagi generasi milenial, bukan sekedar menyajikan kekerasan dan kebencian," ujarnya.
Bonar menegaskan, sejarah bukanlah semata-mata milik si pemenang tapi berdimensi sosial dan memiliki perspektif korban. Di samping itu mengandung edukasi dan imajinasi sosial bagi sebuah bangsa tentang apa yang diperlukan di masa depan. Ia berharap film Pengkhianatan G30S/PKI tidak diputar lagi dan biarkan dalam laci sejarah.
Apalagi film tersebut sarat dengan kepentingan pada masanya. Sehingga pada konteks kekinian diperlukan sejumlah hal direvisi dan diperbaharui.
Kalaupun akan diputar kembali, Bonar menyarankan hendaknya diimbangi juga dengan film-film serupa yang mengangkat seputar peristiwa 1965 agar pemahaman sejarah generasi milineal utuh dan analitis.
Hal yang serupa juga diberlakukan kepada kalangan TNI sendiri, menyaksikan film pengkhianatan G30S/PKI saja tanpa dilengkapi pandangan alternatif tidak akan mencerdaskan dan memberi pemahaman utuh kesejarahan Indonesia.
"Suatu hal yang akan merugikan TNI dalam menghadapi tantangan kompleks ke depan. Sudah saatnya kita berdamai dengan sejarah. Melihat sejarah dengan mata terbuka dan kepala dingin. Bukan memperuncing sejarah demi kepentingan politik kekuasaan," demikian Bonar.
[wid]