Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (49)

Mendalami ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab: Bersatu Dalam Kebhinnekaan

SELASA, 19 SEPTEMBER 2017 | 09:48 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

PERSATUAN Indonesia dalam sila ketiga sesungguhnya mempertemukan antara Bhin­neka (bercerai berai) dengan Tunggal Ika (Menjadi tetap satu). Sederhana dalam uca­pan tetapi tentu tidak mudah mewujudkannya menjadi satu kenyataan. Kenyataan bang­sa Indonesia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, serta dipisah-pisah­kan oleh laut dan kondisi objektif alam membuat ke-bhinneka-an ini menjadi sulit di-tunggal ika-kan. Diperlukan kebesaran jiwa dan kejernihan pikiran serta kearifan para tokoh untuk menguntai kebhin­nekaan itu menjadi satu kesatuan yang utuh (tung­gal ika).

Empu Tantular, seorang arif yang pertama kali memopulerkan istilah Bhinneka Tunggal Ika di dalam karya monumentalnya 'Hutasoma'. Mung­kin ia tidak pernah membayangkan istilah yang dirumuskannya itu akan menjadi simbol pemer­satu bangsa dan negara yang amat dahsyat di kemudian hari. Para founding fathers bangsa ini memungut istilah ini sebagai ungkapan untuk mewadahi keberadaan bangsa Indonesia yang sedemikian heterogen dan plural menjadi sebuah negara ideal, Negara Kesatuan Republik Indo­nesia (NKRI). Kalimat ini tergores di dalam pita yang dicengkeram burung garuda. Hingga saat ini menururut bacaan penulis belum pernah se­orang pun mempersoalkan kalimat tersebut. Kata "Ketuhanan Yang Maha Esa" masih ada yang mempersoalkannya tetapi kata ini seolah bebas dari cela untuk dikritisi. Hal ini bisa dimaklumi kar­ena semua agama dan kepercayaan serta adat istiadat sepertinya sepakat menganggap istilah itu penuh kearifan.

Al-Qur'an sendiri sesungguhnya mempunyai semangat yang sama dengan istilah tersebut. Al-Qur'an menegaskan bahwa perbedaan, het­erogenitas, dan pluralitas adalah sunnatullah. Menolak keragaman berarti menolak sunnatullah. Dalam Al-Qur'an ditegaskan: Wa lau sya'a Rabbu­ka laja’alnakum ummatan wahidah (Jika Tuhan-Mu menghendaki niscaya ia menjadikan kalian suatu umat/(Q.S. al-Maidah/5:48). Dalam ayat tersebut Al­lah Swt menggunakan kata lau, bukannya in atau idza. Dalam kaedah Tafsir dijelaskan, apabila Allah menggunakan kata lau (jika) maka sesungguhnya hampir mustahil kenyataan itu tidak akan pernah ter­jadi. Kalau kata in (jika) kemungkinan kenyataan itu bisa terjadi bisa juga tidak, dan kalau kata idza (jika) pasti kenyataan yang digambarkan itu akan terjadi. Masalahnya sekarang kamus bahasa Indoneseia kita tidak memiliki kosa kata sepadan dengan baha­sa Arab, sehingga keseluruhannya diartikan dengan jika (if). Al-Qur’an mempersilakan manusia berbeda-beda tetapi jika terjadi konflik Al-Qur'an mengajak para pihak untuk kembali kepada prinsip kesamaan (kalimah sawa'/common platform).


Ketegangan antara golongan atau kelompok di dalam masyarakat Indonesia sesungguhnya lebih banyak dipicu oleh pengingkaran kalimat luhur "Bhinneka Tunggal Ika". Munculnya istilah kelompok "sesat" yang dituduhkan oleh suatu kelompok atau perorangan kepada kelompok lain, sesungguhnya bisa menjadi bukti masih lemahnya pemahaman dan kesadaran di dalam berbangsa dan bernegara, terutama jika diser­tai dengan tindakan-tindakan kekerasan. Adan­ya tuduhan pengkafiran atau pemusyrikan dari satu kelompok ke kelompok lain, bahkan saling usir-mengusir dan bunuh-membunuh lantaran di­picu penafsiran sumber ajaran agama. Tentu saja kenyataan ini sangat disesalkan karena mereka sama-sama berpegang kepada kitab suci yang sama tetapi mereka saling bermusuhan satu sama lain. Indonesia yang menghayati motto: Bhinneka Tunggal Ika, seharusnya konflik hori­zontal tidak perlu terjadi. Meskipun suku, etnik, agama dengan berbagai aliran dan mazhabnya berbeda-beda namun persamaan historis seba­gai satu bangsa yang pernah mengalami pahit getirnya perjuangan melawan penjajah membuat perbedaan-perbedaan tersebut ibarat sebuah lukisan yang berwarna-warni membuat lukisan itu menjadi lebih indah.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya