Berita

Sri Mulyani Indrawati/Net

Bisnis

Bendaharawan Loyo, Ditjen Pajak Jadi Ketiban Pulung

Menkeu Sentil Minimnya Setoran PNS
KAMIS, 14 SEPTEMBER 2017 | 08:31 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Keuangan (Men­keu) Sri Mulyani Indrawati meminta agar Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) memaksimalkan pengawasan terhadap bendaharawan pemerintah. Sebab, peneri­maan pajak dari pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tergo­long kecil, kurang dari 8 persen terhadap total penerimaan perpajakan pada 2015 dan 2016 lalu.

Dalam tugasnya, Ani-panggilan akrab Sri Mulyani mengatakan, seharusnya, ben­daharawan pemerintah menyetorkan dan melaporkan Pajak Penghasilan (PPh) 21 atas gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selain itu, ada PPh 22 dan 23, juga Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari belanja barang dan belanja modal yang dikeluar­kan pemerintah. Namun, dia menduga, kinerja bendaha­rawan tidak optimal.

"Sering dalam belanja negara ini bendaharawan tidak meng­umpulkan pajak. Bahkan tidak menyetor dan itu bisa terjadi karena mungkin bendaharanya tidak tahu, tidak paham aturan dan peraturan. Juga bisa saja dia tidak patuh. Dia kumpul­kan tetapi tidak disampaikan atau tidak disetor," katanya saat membuka Rapat Kerja Nasional Sinergi Pengawasan Penerimaan Negara oleh APIP Kementerian, Lembaga dan Daerah di Jakarta.


Dalam catatannya, lanjut­nya, penerimaan dari pelak­sanaan APBN hanya Rp 84 triliun atau 7,9 persen dari total penerimaan perpajakan pada 2015. Lalu, mencapai Rp 86 triliun atau 7,8 persen dari total penerimaan perpajakan 2016. Jumlah tersebut sangat kecil.

Ani mengatakan, akibat pe­nyetoran dan pelaporan pajak terkendala di bendaharawan, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak ketiban pulung, harus berupaya keras mengumpulkan pajak terkait. Padahal, semes­tinya pengumpulan pajaknya lebih mudah sebab sesama pemerintah.

Ke depan, Ani ingin dicipta­kan sistem agar upaya aparat pajak dalam memungut pajak dari pelaksanaan APBN bisa seminimal mungkin, tapi den­gan hasil semaksimal mung­kin.

"Saya tidak ingin lagi aparat pajak katakan 'Bu, saya informasi dari bendaharawan saja nggak dapat.' Makanya pegawai (pajak) sibuk cari pajak dari APBN dan APBD, bu­kannya ekstensifikasi di luar," tuturnya.

Selain meminta meningkat­kan pengawasan, bekas Dirut Bank Dunia itu juga meminta, APIP memantau Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Sumber Daya Alam (SDA) ataupun Badan Layanan Umum (BLU).

"APIP harus bisa menga­wasi apakah tarif sesuai level pelayanan dan apakah uang yang digunakan itu kembali untuk memperbaiki pelayanan. Karena bisa jadi uang yang didapat justru untuk tambah gaji," tegasnya.

Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan Ditjen Pajak Yon Arsal mengatakan, meski belanja negara sudah meningkat, porsi penerimaan pajak dari kegiatan APBN tercatat tetap bahkan cenderung menu­run. Pada 2012 lalu, porsinya hanya 68 triliun atau sekitar 8 persen terhadap total peneri­maan pajak.

"Penerimaannya (dari kegiatan APBN) masih sama sekitar 8 persen. Stabil bahkan cenderung alami penurunan. Peranannya (belanja) semakin besar, tetapi kontribusi ke pa­jaknya seolah-olah menurun terhadap kontribusi peneri­maan nasional," katanya.

Bahkan, sekalipun transfer ke daerah dan dana desa terus meningkat secara signifikan, penerimaan pajak dari pelaksanaan APBD pun masih ke­cil. "Dulu itu sekitar 2,26 persen, sekarang hanya 3,6 persen. Tidak ada kenaikan signifikan meskipun jumlah transfer daerahnya signifi­kan," ujarnya. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya