Berita

Kapolri Jenderal Tito Karnavian/Net

Politik

Tito Buru Kelompok Yang Ingin Serang Pemerintah

Isu Rohingya Digoreng
JUMAT, 08 SEPTEMBER 2017 | 10:12 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengimbau masyarakat berhati-hati dalam menyingkapi isu tragedi kemanusiaan Rohingya di Myanmar, yang mulai banyak bertebaran di Media Sosial (Medsos). Pasalnya, saat ini diduga ada kelompok yang sengaja menggoreng isu tersebut, untuk memfitnah pemerintah dan semata-mata untuk kepentingan golongan mereka.

Hal tersebut diungkap Tito usai menjadi pembicara pa­da acara International Conference on Contemporary Social and Political Science Affair (ICoCSPA) yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya, di Hotel Garden Palace, Surabaya, kemarin.

"Masyarakat harus betul-betul paham bahwa ada dua kemung­kinan terkait isu Rohingya. Pertama, ada pihak yang me­mang solider dengan menyuara­kan isu Rohingya dalam rangka kemanusiaan. Kedua, ada kelom­pok yang ingin mendelegitimasi pemerintah Indonesia dengan memanfaatkan isu Rohingya," katanya.


Mantan Kapolda Metro Jaya ini mengaku, sebagai sesama umat Islam, dirinya sangat mendu­kung sikap kelompok manapun yang menyuarakan solidaritasnya atas nasib yang menimpa kaum Rohingya di Myanmar.

Hanya saja, Tito mengingatkan, masyarakat harus betul-betul paham dengan isu Rohingya agar tidak terjebak dalam isu yang sengaja dibuat kelompok tertentu untuk membenci pemerintah. Padahal, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menghentikan konflik di Myanmar.

"Tapi sampai saat ini masih banyak berita fitnah di medsos yang sengaja disebar kelompok tertentu agar masyatakat benci terhadap pemerintah karena di­anggap belum melakukan lang­kah-langkah strategi dalam me­nyikapi masalah Rohingya. Baik itu di Twitter, dan Facebook, dan tujuan kelompok ini asalah melegistimasi pemerintah, dan semata-mata untuk kepentingan kelompok tersebut," ujarnya.

Tito kemudian menegaskan, apa yang disampaikan ini semua berdasarkan fakta yang ditemu­kan di lapangan, yang mengacu pada temuan Ismail Fahmi den­gan menggunakan software Analysis Opinion di Twitter.

"Dari analisis itu ditemu­kan isu Rohingya dominan dikaitkan dengan pemerintah Indonesia, dikaitkan dengan Presiden Jokowi, dikaitkan dengan Myanmar, dengan Aung San Suu Kyi, dan seterusnya. Artinya, banyak orang yang solider den­gan warga muslim Rohingya di Myanmar. Tapi, ada juga yang pihak yang ingin memanfaatkan isu untuk kepentingan lokal di sini, dalam rangka membangun solidaritas untuk isu menekan pemerintah, bukan kepentingan Rohingya," terangnya.

Tito melanjutkan, bahwa saat saat ini, masih ada warga Myanmar yang memberikan rasa empati kepada etnis muslim Rohingya dan tidak mendukung tragedi pembunuhan massal terhadap etnis tersebut. "Sebenarnya masih ada masyarakat Myanmar yang solider dengan keluarga muslim di Rohingya," katanya.

Sekedar informasi, terkait konflik Rakhine, Indonesia telah mengirim bantuan kema­nusiaan, di antaranya pemban­gunan rumah sakit dan program Bantuan Kemanusiaan untuk Komunitas yang Berkelanjutan (HASCO) yang diprakarsai Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) un­tuk masyarakat negara bagian Rakhine.

Bantuan kemanusiaan sejumlah 2 juta dolar AS yang berasal dari donasi masyarakat Indonesia akan disalurkan dalam program-program sosial selama dua tahun dengan empat fokus yakni pendidikan, kesehatan, mata pencaharian, dan pemuli­han pascakonflik.

Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi juga telah men­gusulkan kepada pemerintah Myanmar formula 4+1 sebagai solusi untuk krisis kemanusiaan yang menimpa orang Rohingya di Rakhine. Di antara mengem­balikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kek­erasan, memberikan perlindun­gan kepada semua orang yang berada di Rakhine State tanpa memandang suku dan agama, dan segera membuka akses un­tuk bantuan kemanusiaan.

"Sementara untuk satu ele­men lainnya adalah upaya men­jalankan rekomendasi Komisi Penasehat untuk Rakhine State yang dipimpin oleh Kofi Annan," ujarnya. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya