Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Komnas Perempuan: Myanmar Harus Tindak Lanjuti Rekomendasi Advisory Commission on Rakhine State

RABU, 06 SEPTEMBER 2017 | 07:19 WIB | LAPORAN:

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyesalkan tindakan kekerasan terhadap warga sipil rohingya, dalam konflik bersenjata di Rakhine State, Myanmar, yang semakin memburuk sejak Agustus 2017.

"Pemerintah Myanmar harus segera menghentikan tindak kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut dan melindungi seluruh warga sipil dari konflik bersenjata yang sedang berlangsung," tegas komisioner Komnas Perempuan, Khariroh Ali melalui siaran persnya.

Lebih lanjut Khariroh menyampaikan kekuatiran Komnas Perempuan terhadap perlindungan dan keamanan perempuan-perempuan etnis rohingya dalam konflik bersenjata ini karena kerentanan mereka menjadi korban kekerasan seksual dan target antara pihak-pihak berkonflik.


Hingga saat ini ratusan ribu warga sipil rohingya mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Bangladesh, Thailand, Malaysia, dan Indonesia untuk mencari perlindungan.

Khorirah memaparkan, dari pemantauan yang dilakukan Komnas Perempuan di kamp pengungsian warga sipil rohingya di Aceh, pada bulan Juli sampai dengan September 2015, ditemukan kerentanan pengungsi menjadi korban sindikasi trafficking dan people smuggling, baik dalam perjalanan mencari perlindungan maupun ketika mereka sudah berada di lokasi pengungsian.  Selain itu, mereka juga terpapar dengan sejumlah persoalan baru terkait relasi dengan warga setempat di daerah pengungsian.

Tindak kekerasan seksual dan KDRT dari sesama pengungsi, juga dialami di lokasi pengungsian.

Untuk menangani krisis kemanusiaan di Rakhine State ini, menurut Khorirah, pemerintah Myanmar seharusnya dapat segera menindaklanjuti rekomendasi dari Advisory Commission on Rakhine State (Maret 2017) terkait dengan akses bantuan kemanusiaan, akses buat jurnalis dan media (lokal dan internasional), penegakan hukum dan memutus impunitas, kerjasama dengan negara-negara yang berbatasan seperti Bangladesh, kewarganegaraan dan kebebasan bermobilitas bagi orang-orang Rohingya, serta memperbanyak ruang-ruang dialog komunal.

"Dalam situasi seperti sekarang, menjalankan rekomendasi Advisory Commission on Rakhine State adalah sebuah langkah yang kondusif untuk menyelesaikan konflik yang berlarut-larut," terangnya.

Hal ini penting untuk mencegah terjadinya genosida dan kemungkinan pembersihan etnis terhadap warga sipil Rohingya.

Kepada negara-negara Anggota ASEAN, Komnas Perempuan mengajak untuk membuka diri menerima warga sipil rohingya yang mengungsi serta memberikan perlindungan komprehensif. Selain itu, segera dicarikan solusi terbaik untuk krisis rohingya dan menjalankan Rencana Aksi Regional untuk menangani VAWG (Violence Against Women and Girls).

Menurut Khorirah, AICHR dan ACWC dapat memainkan peran strategisnya sebagai mekanisme HAM ASEAN, dalam hal ini aktif menyuarakan hak-hak etnis rohingya dan membuat penyikapan publik.

Pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah serta tokoh agama dan tokoh masyarakat, juga diingatkan Komnas Perempuan agar dapat mengambil langkah cepat dan kondusif untuk mencegah terjadinya konflik horizontal antar umat beragama di Indonesia, akibat politisasi isu rohingya.

Sementara kepada masyarakat Indonesia, Komnas HAM mengimbau agar dalam menyampaikan aksi solidaritasnya terhadap warga sipil rohingya, tidak dengan cara mereplikasi kekerasan, represi dan diskriminasi pada kelompok minoritas, khususnya dalam hal ini umat Buddha di Indonesia.[wid]



Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya