Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Perjalanan Masih Panjang Untuk Kurdistan

RABU, 06 SEPTEMBER 2017 | 07:14 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KAWASAN yang secara resmi disebut sebagai Kurdistan oleh konstitusi Irak terletak di bagian utara Irak dan merupakan satu-satunya daerah otonom di negara Irak. Wilayah ini juga sering disebut Kurdistan Selatan. Masyarakat Kurdi meyakini bahwa daerah ini merupakan satu di antara empat bagian Kurdistan Raya, bersama dengan bagian tenggara Turki yang disebut sebagai Kurdistan Utara, bagian utara Suriah yang disebut Rojava atau Kurdistan Barat, dan bagian barat laut Iran yang disebut Kurdistan Timur.

Referendum
Setelah secara turun-menurun berjuang demi kemerdekaan, akhirnya kaum Kurdis di daerah Kurdistan yang kini masih masuk wilayah kekuasaan Irak akan mengambil langkah besar yaitu menyelenggarakan referendum pada tanggal 25 September 2017 mendatang. Namun berbagai pihak dengan berbagai kepentingan menganggap referendum untuk memerdekakan Kurdistan itu adalah langkah keliru sebab mengancam persatuan-kesatuan Irak dalam menghadapi angkara murka ISIS yang sedang menggerogoti Irak.

Berbagai pihak dengan berbagai kepentingan menyarankan penundaan referendum sampai waktu yang lebih kondusif, yaitu di masa ancaman ISIS sudah dapat diatasi. Namun di sisi lain, secara obyektif sebenarnya kemerdekaan merupakan langkah yang logis bagi sekitar 5 juta kaum Kurdis yang telah memperoleh status semiotonomi setelah Perang Teluk 1991. Kini setelah secara faktual ikut berperan dalam angkatan bersenjata Irak melawan ISIS, maka kaum Kurdis merasa bahwa mereka berhak untuk menyelenggarakan referendum yang telah lama dijanjikan oleh pemerintah Irak dan USA.

Berbagai pihak dengan berbagai kepentingan menyarankan penundaan referendum sampai waktu yang lebih kondusif, yaitu di masa ancaman ISIS sudah dapat diatasi. Namun di sisi lain, secara obyektif sebenarnya kemerdekaan merupakan langkah yang logis bagi sekitar 5 juta kaum Kurdis yang telah memperoleh status semiotonomi setelah Perang Teluk 1991. Kini setelah secara faktual ikut berperan dalam angkatan bersenjata Irak melawan ISIS, maka kaum Kurdis merasa bahwa mereka berhak untuk menyelenggarakan referendum yang telah lama dijanjikan oleh pemerintah Irak dan USA.

Ekonomis

Di tengah kemelut Irak, daerah istimewa Kurdistan telah menjadi sebuah kawasan yang relatif mapan. Apalagi bumi Kurdistan memiliki perbendaharaan minyak dan gas bumi sangat berlimpah yang membawa keuntungan berlimpah dari perdagangan dengan Turki dan Iran. Setelah invasi 2003, Amerika Serikat bekerja sama dengan pemerintah Irak untuk mengeluarkan konstitusi yang menjamin status semiotonomi bagi Kurdistan. Namun perdagangan minyak dan gas bumi dengan Turki membawa masalah tersendiri bagi Kurdistan.

Setelah ISIS berhasil menguasai sumber minyak bumi Kurdistan maka ISIS menjual minyak bumi kepada Turki dengan harga 50 persen dari harga pemerintah Irak. Maka sebenarnya adalah wajar apabila diam-diam secara ekonomis sebenarnya Turki lebih suka apabila ISIS menguasai Kurdistan yang jauh lebih menguntungkan dalam hal harga minyak bumi ketimbang apabila Kurdistan dikuasai Irak atau merdeka.

Masalah Internal
Di dalam daerah istimewa Kurdistan juga ada masalah internal yaitu perseteruan antara keluarga besar Barzani dengan Talabanis yang bersaing untuk menguasai peta politik sarat dengan korupsi. Akibat kemelut perpecahan politik di dalam daerah istimewa Kurdistan maka parlemen tidak pernah rapat sejak Oktober 2015 dan sang kepala daerah yatu presiden Masoud Barzani tetap berkuasa meski sebenarnya masa jabatannya sudah resmi berakhir pada tahun 2013.

Masalah ISIS yang de facto menguasai sumber minyak bumi sangat merugikan kas daerah istimewa Kurdistan. Masyarakat Kurdi penganut Islam Sunni bermazhab Syafi'i juga dianggap kerap bersikap diskriminatif negatif terhadap minoritas yang menganut Islam Shi'ah. Sementara Irak dan Turki tidak menghendaki Kurdistan merdeka akibat kekayaan Kurdistan atas minyak dan gas bumi. Maka sudah mulai terdengar desas-desus tentang wacana pembatalan referendum yang direncanakan diselenggarakan pada tanggal 25 September 2017. Perjalanan Kurdistan menuju kedaulatan bangsa, negara dan rakyatnya memang masih panjang.[***]


Penulis adalah pembelajar geopolitik dunia masa kini


Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

Kuota Internet Hangus Digugat ke Mahkamah Konstitusi

Jumat, 27 Februari 2026 | 00:01

Mantan Personel Militer Filipina Ungkap Skandal Politik Uang Pejabat Negara

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:56

Penanganan Kasus Lapangan Padel Jangan hanya Reaktif Usai Muncul Polemik

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:38

Legislator PKS Soroti Ketimpangan Politik Hukum Laut Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:22

PLN Enjiniring Raih Dua Penghargaan ITAY 2026

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:17

Tiga Syarat ‘State Capitalism’

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:04

CMNP Minta Sita Jaminan Rumah Hary Tanoe di Beverly Hills

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:47

IPK 2025 Anjlok ke 34, Rudy Darsono: Efek Jera Cuma Jualan Politik

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:37

Konektivitas Nasional di Daerah Bencana Pulih 100 Persen

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:32

BPKH Perkuat Sinergi Investasi Nasional dan Internasional Lewat Revisi UU

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:18

Selengkapnya