Berita

Hamdhani/Net

Politik

Hamdhani Nasdem: Ironi Indonesia Alami Kelangkaan Garam

RABU, 06 SEPTEMBER 2017 | 01:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Krisis produksi garam tidak saja berdampak kepada masyarakat pengguna dan industri tetapi juga berimbas kepada para nelayan.

Demikian disampaikan Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Nasdem, Hamdhani dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan PT. Garam terkait kelangkaan dan riset pengelolaan garam, di Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (5/9).

"Nelayan-nelayan di dapil kami pada membuang ikan hasil tangkapannya karena tidak ada ketercukupan garam," kata Hamdhani dalam keteranganya.


Padahal, lanjutnya, garam ini sangat berguna bagi nelayan dalam mengawetkan hasil tangkapan. Dengan cara itu, ikan-ikan yang akan dijual ke pasar akan selalu segar dan tahan lama.

Hamdhani berharap kondisi kekurangan produksi garam di Indonesia bisa segera ditangani. Menurutnya, adalah ironi bagi negara yang memiliki bentangan pantai dan lautan yang mendominasi luas wilayahnya, namun masih mengalami kelangkaan garam.

"Kita sangat prihatin selama enam tahun belakangan ini produksi garam di Indonesia mengalami penurunan dan tidak jarang diberitakan mengalami kelangkaan di beberapa daerah," tutur Legislator dapil Kalimantan Tengah tersebut.

Apalagi, sambungnya, produksi garam yang dihasilkan masih jauh dari target. PT Garam hingga Agustus 2017 baru bisa menghasilkan 37 ribu ton dari 225.000 ton yang diproyeksikan hingga akhir Desember 2017.

Melihat kondisi tersebut, Hamdhani berpandangan, pemerintah dan pihak-pihak terkait harus segera melakukan formulasi riset pengelolaan garam serta memaksimalkan daerah produksi dan kelompok penambak garam.

"Sudah banyak negara yang menggunakan teknologi untuk mengelola garam ini. Paling terpenting, kita juga harus memaksimalkan daerah potensi termasuk di dalamnya memberdayakan kelompok penambak garam. Karena saya kira banyak spot titik-titik daerah yang bisa dimaksimalkan," pungkasnya. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Diburu Kolektor, BI Cetak Lagi Rupiah Tanda Tangan Purbaya

Jumat, 25 September 2026 | 00:17

DPRD DKI: Perkuat Fungsi Edukasi dan Kebudayaan di TIM

Jumat, 25 September 2026 | 00:04

Pelunasan BLBI Jadi Tonggak Penyelesaian Krisis 1997-1998

Kamis, 24 September 2026 | 23:37

Tim Hukum: Tak Ada Saksi Sebut Heri Susanto Terima Suap

Kamis, 24 September 2026 | 23:19

Sufmi Dasco akan Kukuhkan Pengurus APKLI Merah Putih

Kamis, 24 September 2026 | 23:00

Tagihan Cicilan Kopdes Merah Putih Rp37,7 Triliun Jatuh Tempo Besok

Kamis, 24 September 2026 | 22:59

Warisan Kwik Kian Gie untuk Indonesia

Kamis, 24 September 2026 | 22:48

DPR Minta Basarnas Lanjutkan Pencarian Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 24 September 2026 | 22:26

Tokoh Adat Papua Kecam Penembakan Tiga Warga Sipil di Muliama

Kamis, 24 September 2026 | 22:23

Menko Yusril Pastikan Media Bebas Meliput di Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 | 22:11

Selengkapnya