Berita

Zeng Wei Jian/Facebook

Politik

Perang Berdimensi Agama

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 | 14:05 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

MENURUT Eric Brahm, "In virtually every heterogeneous society, religious difference serves as source of a potential conflict".

Di Myanmar, ada 135 etnis. Di antaranya: Burma (68 persen), Shan (9 %), Karen (7 %), Rohingya (4 %). Belakangan, di sana terjadi konflik asimetrik (tidak seimbang). Central Government, yang didukung organisasi Buddha, menggempur etnik minoritas Rohingya.

Alhasil, menurut United Nations, minimal 38 ribu orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Ratusan warga sipil tewas dibunuh.


Konflik di Myanmar ditriger rancunya pola "desekularisasi politik" dan "depolitisasi agama". Adanya aktor macam Bhikkhu Ashin Wiranthu (The Face of Buddhist Terror), 969 Movement dan Ma Ba Tha (Comitte to Protect Race and Religion) membuktikan itu. Presiden Thein Sein adalah beking Wirathu. Benar kata Luc Reychler, "Power also corrupts religious organizations".  

Ashin Wirathu dan Myanmar bukan "New Kid on The Block" di soal ini. Wirathu serupa dengan Rabbi Meir Kahane (pemimpin Kach Party) yang aktif menyerang Palestina.

Bila John Paul II menyebut Protestan sebagai "rapacious wolves" di Pertemuan Domingo, Wirathu memberi label "Jackals" dan "Ular Beracun" kepada muslim.

Tidak ada sesuatu yang disebut "pure religious conflict". Namun violent conflict berdimensi elemen agama bukan barang baru. Terjadi di mana-mana. Biasanya bersifat konflik ethno-national, inter-state, dan berkaitan dengan masalah ekonomi, teritorial dan eksistensi budaya.

Desember 1992, AKUF-Kriege-Datenbank menghitung ada 24 perang dengan "religious background" pecah dalam setahun. Klasifikasinya adalah violent conflict within or between religions and central government.

Sekalipun, di antara 1763 notable wars versi Encyclopedia of Wars karya Charles Phillips dan Alan Axelrod, hanya ada 123 perang agama (7%). Sekitar 2% orang terbunuh dalam Perang Agama. Termasuk 3 juta korban selama Crusades.

Perang berdimensi agama antara lain Burma: Buddhist vs Christian (1948), Bangladesh: Buddhist vs Kristen (1973), Ethiopia (Oromo): Muslim vs Central Govt (1976), dan Mali-Tuareg Nomads: Muslim vs Central Govt (1990).

Diamnya komunitas Buddhist internasional bukan sikap yang benar. Baru HH Dalai Lama dan Lieus Sungkharisma (Tokoh Buddha Indonesia) yang mengutuk potentially genocide Burma terhadap Muslim Rohingya. Selebihnya, mereka bermain kata-kata, dengan menyatakan itu bukan Perang Agama. Malah ada biksu Thailand bernama Maha Aphichat terbuka mendukung agitasi Wirathu.

Padahal, peran bystanders bisa mempengaruhi situasi. Contohnya, ekspresi simpati atau antipati dari Kepala Cittadel del Vaticano Pius XII, sebagai representatif 500 juta Katolik, bisa mencegah eskalasi kekerasan di World World II.

Hans Kung benar saat menyimpulkan, "world peace is impossible without religious peace, and that the latter require religious dialogue".[***]

Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak) 

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya