Berita

Lokasi Catur yang kena flare saat menonton laga persahabatan Indonesia-Fiti di Stadion Patriot/Net

Olahraga

Banyak Kabar Duka Sedikit Kabar Suka

Sepakbola Nasional
SENIN, 04 SEPTEMBER 2017 | 08:51 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kabar duka kembali datang dari dunia sepakbola kita. Seorang suporter timnas bernama Catur Juliantoro tewas setelah kepalanya dihantam kembang api saat menonton laga persahabatan Indonesia Vs Fiji di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu lalu. Dua bulan sebelumnya, seorang suporter Persib bernama Ricko Andrean tewas setelah dikeroyok suporter Persib. Sepakbola nasional kini banyak diwarnai kabar duka, hanya sedikit kabar suka.

Suasana duka masih menyelimuti di rumah duka yang berlokasi di Jalan Kampung Sumur Klender, Jakarta Timur, kemarin. Sekitar pukul, Catur pagi, keluarga memakamkan Catur di TPU Kampung Sumur, Jakarta Timur.

Keluarga mengenang Catur sebagai penggemar sepakbola. Salah satu klub idolanya adalah Persija. Meski seorang Jak Mania, Catur diketahui tidak pernah menonton secara langsung pertandingan Persija di stadion. Alasannya khawatir dengan faktor keamanan. Kekhawatiran yang justru benar-benar terjadi kepadanya. Kepergian Catur pun meninggalkan Ismi dan seorang anak laki-laki berusia 3 tahun.


Diketahui, Catur yang menonton laga Timnas Vs Fiji meninggal dunia saat dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, Bekasi Barat Sabtu malam (2/9). Dari siaran PSSI, sebuah kembang api menghantam kepala Catur yang duduk di Tribun Timur stadion. PSSI menyebut, kembang api itu meluncur dari bangku penonton di Tribun Selatan.

Insiden tersebut terjadi beberapa saat setelah wasit Spartak Danilenko asal Kyrgyzstan meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Laga persahabatan Indonesia vs. Fiji itu berakhir tanpa gol.

Bersamaan dengan pemakaman Catur, tagar #RIPCatur pun menjadi topik tren di Twitter saat para pecinta sepak bola di Indonesia berduka dan mengecam tindakan suporter yang menghilangkan nyawa suporter lain tersebut. "Jangan lagi ada darah yg tertumpah sia-sia di sepakbola kita..," tulis @orenBarat. "Atas nama eksistensi pribadi sepakbola kita kembali berduka. Mbok nek sudah dilarang itu jangan dilakuin," saran @infosuporter.

Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria menyampaikan duka yang mendalam untuk keluarga Catur. "Sepak bola kita kembali menghadapi ujian yang berat. Kami mengecam keras tindakan tidak bertanggung jawab ini. Tak cuma suporter yang menjadi korban, sepak bola Indonesia pun bisa kembali tercoreng," kata Tisha.

Tisha menegaskan PSSI akan bertanggung jawab sepenuhnya atas insiden mengenaskan tersebut dan akan mendampingi keluarga korban hingga pemakaman. "Kami bertanggung jawab sepenuhnya. Karena itu pula kami langsung menyampaikan kepada media, kejadian yang sebenarnya secara terbuka untuk melindungi roh sepak bola, yaitu jiwa besar dan sportivitas. Belajar dari peristiwa ini kami memohon dukungannya yang terbaik untuk PSSI kita," ujar Tisha.

Menurut kepala pengamanan pertandingan, Nugroho Setiawan, pelaku penyulut petasan tersebut lebih dari satu orang. Mereka telah ditangkap dan saat ini tengah menjalani pemeriksaan di Polres Metro Bekasi.

"Pelaku yang diduga sudah diamankan pihak kepolisian. Saya belum mendapatkan info namanya siapa," kata Nugroho, yang juga anggota Komite Keamanan PSSI. Tisha dan Nugroho sama-sama menyatakan bahwa PSSI telah menerapkan prosedur keamanan yang ketat untuk laga persahabatan tersebut. Bersama kepolisian setempat dan 130 petugas keamanan internal, mereka mencoba mengontrol setiap titik di stadion dengan ketat.

Sepanjang 90 menit pertandingan yang disaksikan 19.636 penonton itu, menurut Tisha, bahkan tidak terlihat nyala suar yang biasanya diselundupkan suporter ke dalam stadion. Catur bukanlah penonton pertama yang menjadi korban dalam pertandingan internasional timnas sepak bola Indonesia.

Sebelumnya, pada 21 November 2011 Reno Alvino dan Aprilianto Eko Wicaksono tewas saat penonton berebut masuk Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk menyaksikan final SEA Games 2011 antara Indonesia melawan Malaysia. Sementara korban ulah suporter dalam pertandingan liga lokal jauh lebih banyak lagi. Menurut catatan lembaga pemantau sepak bola Indonesia, Save Our Soccer (SOS), sejak Januari 1995 hingga Juli 2017 sudah 56 orang tewas akibat kekerasan yang terkait dengan laga sepak bola nasional. ***

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Haji Isam Temui Seskab Teddy, Bahas Investasi Pertambangan hingga Hilirisasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:17

Kolombia Ubah Sikap, Kini Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02

KPK Periksa 2 ASN Pemkot Bengkulu dalam Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:01

Jelang Sidang Tahunan MPR, Pemerintah Matangkan Persiapan Pidato Kenegaraan Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:56

Bitcoin Menguat Berkat Derasnya Aliran Dana ETF

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:49

Keamanan Data Pajak Jadi Prioritas Usai Kebakaran Bapenda

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45

Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:36

Kejagung Periksa 16 Saksi di Kasus BGN, 10 di Antaranya Direktur Perusahaan

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32

Greenland Tolak Aktivitas Perusahaan AS di Tengah Ancaman Aneksasi Trump

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:27

Gibran Jadi Presiden Solusi atau Petaka?

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya