Berita

Net

Politik

Idul Adha Refleksi Calon Pemimpin Untuk Rela Berkorban

MINGGU, 03 SEPTEMBER 2017 | 22:10 WIB | LAPORAN:

Peringatan Idul Adha 1438 Hijriah harus menjadi refleksi bagi para calon kepala daerah untuk bisa menjadi pemimpin yang rela berkorban.

"Apakah calon kepala daerah yang akan maju dalam Pilkada 2018 mampu berkorban untuk rakyat yang makin hari hidupnya makin melarat, susah dan menderita atau malah sebaliknya justru rakyatlah yang ia korbankan untuk kepentingan elite dan kekuasaan," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin kepada wartawan di Jakarta (Minggu, 3/9).

Menurutnya, seyogyanya pemimpin adalah pelayan masyarakat. Artinya, jika seseorang diamanahi untuk menjadi pemimpin maka tugasnya adalah berkorban dan melayani rakyat yang dipimpin.


"Kita agaknya belum menemukan itu dan masih mencari pemimpin yang mau dan mampu berjuang, berkorban, dan melayani rakyatnya. Bukan pemimpin yang memperkaya diri, keluarga, kelompok, bahkan partainya. Pemimpin yang siddiq, amanah, tabligh, dan fatonah. Pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyatnya dan mampu mengangkat harkat dan martabat bangsanya," jelas Ujang.

Menurut pengamat politik Universitas Al Azhar itu, jika ingin menguji kepemimpinan seseorang maka berilah jabatan kepada orang tersebut dan kemudian lihat hasilnya.

"Jika dengan jabatan tidak berubah sikap dan karakternya maka dia termasuk pemimpin hebat. Namun jika yang terjadi sebaliknya, dengan jabatan yang disandang dia berubah dari yang baik menjadi sombong, menindas, semena-mena, berlaku kasar dan dzolim maka sesungguhnya dia bukan pemimpin yang baik," papar Ujang.

Ujang mencontohkan, kepemimpinan yang baik telah diajarkan oleh nabi, sahabat, khalifah dan orang-orang terdahulu. Bagaimana Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima anaknya di istana dengan tanpa lampu penerang, lantaran sang anak datang untuk kepentingan pribadi dan keluarga sedangkan lampu penerang dibiayai oleh negara. Sebab itu, Umar bin Abdul Aziz mematikan lampunya.

"Adakah pemimpin kita yang bersikap seperti itu. Tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, keluarga kelompok, bahkan partainya. Momentum Pilkada Serentak 2018 harus dijadikan untuk mencari dan memilih pemimpin daerah yang mau berkorban. Bukan pemimpin yang hanya mengandalkan popularitas dan elektabilitas bahkan hanya mementingkan pencitraan. Memilih pemimpin daerah yang mampu bekerja nyata untuk perbaikan nasib rakyatnya," demikian Ujang. [wah]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya