Berita

Ito Sumardi/Net

Politik

Ini Duduk Perkara Konflik Rohingya Versi Dubes RI di Myanmar

MINGGU, 03 SEPTEMBER 2017 | 19:44 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Duta Besar (Dubes) RI untuk Myanmar Ito Sumardi mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak emosi menyikapi kasus yang terjadi di Rakhine. Masyarakat, sambungnya, harus cermat dalam mencari fakta-fakta obyektif.

Ia kemudian menjabarkan duduk perkara awal mula konflik di Rakhine kembali meletus. Menurutnya, situasi di Rakhine Utara yang sebagian besar dihuni masyarakat etnis Rohingya, yang berasal dari Bangladesh memanas pasca penyerangan terhadap 30 pos polisi dan 1 markas tentara secara serentak.

Penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok etnis Rohingya yang tergabung dalam militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) itu menewaskan 72 orang yang terdiri dari, 59 militan dan 12 aparat keamanan.


"Mereka membunuh beberapa polisi dan tentara, serta membakar beberapa mobil polisi, kemudian juga menyerang pemukiman penduduk yang mengakibatkan jatuhnya korban masyarakat tidak berdosa," tegasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (3/9).

Bersama masyarakat, aparat keamanan Myanmar kemudian melakukan operasi pemulihan keamanan dan mendapatkan perlawanan yang kuat dari ARSA. Aksi ini mengakibatkan terjadinya pengungsian besar-besaran etnis Rohingya yang sudah sangat lama mendiami wilayah Rakhine Utara yang menurut versi pemerintah ilegal, dan penduduk warga negara Myanmar di area tersebut.

"Permasalahan Rohingya adalah sebagian dari permasalahan domestik yang ada di Myanmar. Di Rakhine, konflik etnis tidak hanya oleh Rohingya, tapi dengan sesama agama Buddha yang ada di kelompok Arakan Independen Army dan berbatasan dengan China," terangnya.

Ito menyimpulkan bahwa yang terjadi saat ini merupakan reaksi dari pemerintah Myanmar dalam rangka memulihkan keamanan di Rakhine. Meski di satu sisi, aksi tersebut menyebabkan gelombang pengusiran hingga berujung pada pembunuhan dan pengungsian ribuan etnis rohingya.

"Ekses dari pertempuran antara aparat keamanan pemerintah Myanmar dan gerombolan bersenjata ARSA, pasti memiliki konsekuensi jatuhnya korban masyarakat di kedua belah pihak," pungkasnya. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya