Berita

Foto/RMOL

Politik

Pemerintah Harus Bujuk Myanmar Izinkan TPF PBB Masuk

MINGGU, 03 SEPTEMBER 2017 | 18:21 WIB | LAPORAN:

Situasi kemanusiaan di Rakhine, Myanmar semakin memprihatinkan. Setelah terjadi eskalasi konflik antara tentara Myanmar dengan kelompok bersenjata etnis rohingya pada akhir Agustus 2017 lalu, setidaknya hal itu telah menewaskan sedikitnya 400 warga sipil.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid saat menggelar konferensi pers di kantornya, Cikini, Jakarta, Minggu (3/9).

"Amnesty International melaporkan pada 2016 bahwa aparat bersenjata Myanmar telah sengaja melakukan pembunuhan kepada warga sipil, menembak secara serampangan di desa-desa, menangkap pemuda Rohingya tanpa alasan, memperkosa perempuan Rohingya dan merusak tempat tinggal serta harta benda mereka," tukasnya.


Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah Indonesia untuk mendorong pemerintah Myanmar segera menghentikan segala bentuk serangan bersenjata kepada penduduk sipil di negara bagian Rakhine.

"Melihat gentingnya situasi kemanusiaan di Rakhine, pemerintah Indonesia selayaknya melakukan upaya diplomasi kepada pemerintah Myanmar untuk segera menghentikan kejahatan HAM yang diarahkan kepada komunitas rohingya," imbuhnya.

Selain itu, Usman Hamid juga mendorong Pemerintah Indonesia untuk segera mendesak Myanmar agar mau bekerja sama dengan Tim Pencari Fakta yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak Maret 2017 lalu.

"Pemerintah Indonesia seharusnya mendesak pemerintah Myanmar untuk mengizinkan tim pencari fakta yang dibentuk Dewan HAM PBB untuk mengungkap kebenaran, menuntut tanggung jawab para pelaku kejahatan HAM, dan menjamin keadilan bagi para korban. Tanpa upaya serius dalam penyelesaian kejahatan kemanusiaan ini hanya akan memperpanjang penderitaan yang dialami oleh para korban," jelasnya.

Hingga saat ini, pemerintahan Myanmar tidak mengizinkan TPF PBB melakukan penyelidikan dan melihat secara langsung kondisi etnis Rohingya di Myanmar. Mereka berkilah karena merasa telah memiliki TPF yang dibentuk pemerintahnya sendiri. [ian]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya