Berita

Aung San Suu Kyi/Net

Politik

Gagal Lindungi Rohingya, Muhammadiyah Minta Nobel Suu Kyi Dicabut

SABTU, 02 SEPTEMBER 2017 | 00:17 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Sejak 1982, etnis Rohingya di Myanmar telah mengalami persekusi dan pengusiran berulang kali. Terakhir, sepanjang minggu ini, sebanyak 3 ribu orang melarikan diri ke perbatasan Bangladesh karena kebrutalan militer Myanmar.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyatakan keprihatinan atas kasus yang telah merenggut hampir 800 orang, termasuk perempuan dan anak-anak tersebut. PP Muhammadiyah secara tegas menyatakan sikap untuk mendesak PBB mengambil alih pernyelasian tragedi kemanusiaan itu.

"Sudah terbukti secara meyakinkan pemerintah Myanmar tidak bersedia menghentikan praktik genosida terhadap etnis Rohingya," tulis pernyataan sikap PP Muhammadiyah, Jumat (1/9).


Muhamadiyah juga mendesak negara-negara ASEAN untuk menekan Myanmar supaya menghentikan praktik genosida. Jika Myanmar tidak sanggup melakukannya sesuai tenggat yang ditentukan, maka ASEAN patut mempertimbangkan pembekuan keanggotaan negara Myanmar di ASEAN.

"Karena besarnya jumlah korban, ASEAN perlu untuk tidak mengedepankan prinsip nonintervensi dan menggantinya dengan keharusan untuk ikut bertanggung jawab atas nasib dan melindungi etnis Rohingya," tulis pernyataan yang dibubuhi tanda tangan Ketua PP Muhammadiyah, Bahtiar Effendy itu.

Secara khusus, Muhammadiyah meminta kepada komite hadiah Nobel uncuk mencabut penghargaan Nobel Perdamaian yang pernah disematkan kepada salah satu pemimpin terkemuka Myanmar, Aung San Suu Kyi. Suu Kyi dianggap gagal dalam memperjuangkan hak asasi etnis Rohingya.

"Alih-alih menunjukkan kesungguhan untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan di Myanmar, (Suu Kyi) justru memperburuk keadaan," pungkas pernyataan sikap tersebut. [ian]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya