Berita

Jusuf Kalla/Net

Politik

JK Capreskan Siapa Ya?

Nolak Jadi Tim Sukses Jokowi
KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 | 09:41 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Wapres JK menolak jadi tim sukses Jokowi di Pilpres 2019. Alasannya, JKmengaku ingin fokus ngurusin pemerintahan. Pak JK beneran nolak apa karena sudah punya calon lain ya?
 
Penolakan ini disampaikan Jubir Wapres Husain Abdullah di Kantor Wapres, Jakarta, kemarin. Sehari sebelumnya, di Istana, Mendagri Tjahjo Kumolo mengusulkan agar JK menjadi ketua timses Jokowi di Pilpres nanti.

Husain bilang, ada beberapa alasan kenapa JK menolak tawaran Menteri Tjahjo. Pertama, tidak elok jika Wapres terlibat terlalu jauh dalam urusan kampanye. Apalagi menjabat sebagai ketua tim. Alasan lain, JK ingin mensukseskan pemerintahan hingga akhir periode yaitu di 2019, sehingga tidak mungkin menjabat ketua timses.


Apalagi, menurut dia, menjelang pilpres intensitas kegiatan politik akan semakin tinggi. Presiden Jokowi pun akan lebih sibuk mengurusi kegiatan kampanye. "Pada kondisi tersebut, sebagai Wakil Presiden, tentu harus in-charge (siap) bertugas untuk tetap membantu menyukseskan pemerintahan," kata pria yang akrab disapa Uceng ini.

Husain menambahkan, jika JK masuk dalam timses Jokowi, akan menimbulkan sentimen negatif di masyarakat. Karena kedua pemimpin pemerintahan sibuk berkampanye. "Jadi penegasannya, menurut saya, tidak mungkin. Karena Pak JK harus tetap mem-back up (membantu) tugas-tugas dari Pak Jokowi sampai akhir masa pemerintahannya, malah kalau Bapak masuk di situ (Timses) tidak mengenakkan bagi Pak Jokowi di mata publik," ungkapnya.

Meski demikian, Husein menilai usulan Tjahjo merupakan bentuk penghormatan terhadap JK. "Ini yang harus dipahami oleh Pak Tjahjo dalam konteks itu, dan Pak JK kan negarawan, jadi saya kira antara bapak (JK) dan Jokowi pasti ingin melihat pemerintahan ini sukses," tuntasnya.

Pengamat politik dari Universitas Parahyangan Prof Asep Warlan Yusuf mengatakan, penolakan yang disampaikan JK itu sangat wajar. Di usia yang sudah sepuh dan karier politiknya yang sudah mentok, sangat wajar JK ingin mengakhiri karier politiknya dengan baik dan mulus. Menurutnya, tak ada agenda politik yang disembunyikan apalagi rekayasa dalam penolakan tersebut. "Ujung karir politik JK sampai di sini. Sulit sekali menggambarkan JK ingin mengisi karir politik lain," kata Asep, saat dikontak Rakyat Merdeka, tadi malam.

Bukan karena Pak JK punya capres lain? Asep menilai di Pilpres 2019 nanti pun JK tak akan banyak ikut-ikutan. Posisi JK nanti tidak akan seperti Prabowo Subianto, SBY atau Megawati Soekarnoputri. Prabowo akan sangat mungkin kembali maju di pilpres. Selain karena ada peluang dukungan dari partai dan tokoh-tokoh pun ada. SBY juga begitu. Meski tak akan maju, tapi SBY masih punya kepentingan untuk memajukan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono untuk menjadi orang penting, atau pimpinan partai. Menurut Asep, posisi JK nantinya akan pandita. Pensiun. Apalagi melihat kiprah JK sekarang yang seperti kurang terobosan. Datar dan hanya mengalir begitu saja. pertanda tidak ada ambisi.

Asep menilai, dalam itung-itungan politik pun akan lebih baik JK menempatkan diri pada posisi netral. Sebagai guru bangsa seperti posisi BJ Habibie yang bisa diterima oleh banyak pihak dan kalangan. Jika JK mendukung atau meng-endorse capres lain, besar kemungkinan akan membuat hubungan JK dengan Jokowi memburuk. "Tentu ini akan membuat ujung karir Pak JK berakhir buruk," tuntasnya.

Analisa berbeda disampaikan pengamat komunikasi politik dari UIN Jakarta Prof Andi Faisal. Menurut dia, JK adalah seorang politikus kawakan. Apa yang disampaikannya adalah bagian dari komunikasi politik. Dia memprediksi, JK memang tak maju di Pilpres, tapi posisi JK akan menjadi seorang king maker. Sangat besar kemungkinan JK akan mendukung capres lain. Ke mana arah politik JK di Pilpres nanti? Kata dia, sangat mungkin merapat ke mana pun. Pasalnya, JK adalah tokoh yang bisa merangkul banyak pihak. Bisa masih mendukung Jokowi, atau berbalik mendukung Prabowo atau ke yang lain.  ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya