Berita

Bambang Brodjonegoro/Net

Bisnis

Asyik, Pemerintah Bakal Kasih Gaji Pengangguran

RABU, 30 AGUSTUS 2017 | 08:46 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas) menseriusi rencana memberikan asuransi untuk pengangguran. Ide itu kini sedang dimatangkan.

 Rencana mau memberikan asuransi bukan sekadar wacana semata. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, pihaknya saat ini masih terus mematangkan rencana tersebut.

"Bappenas sedang meng­kaji, apakah itu bisa menjadi bagian untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan," kata Bambang dalam Seminar nasional bertema Pemanfaatan Demografi Indonesia di Sektor Kepariwisataan, Kebaharian, dan Ekonomi Kreatif di Jakarta, kemarin.


Bambang mengatakan, mem­berikan asuransi untuk pengangguran sejatinya ide bagus. Karena, bisa menjadi bantalan untuk masyarakat. Misalnya, orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa me­nyambung hidup bila belum da­pat pekerjaan. Namun demikian, rencana ini harus dikaji dengan benar agar tidak menimbulkan dampak negatif.

"Orang yang nganggur itu nanti masih bisa hidup minimal. Tapi, itu harus dikaji benar. Jangan malah membuat orang tidak tertarik mencari kerja," terang Bambang.

Untuk menampung masukan, pada akhir tahun lalu, Bappenas pernah menggelar diskusi mengundang berbagai pihak terkait membahas wacana asuransi untuk pengangguran. Namun sayang setelah acara itu, tak ter­dengar lagi kelanjutan rencana tersebut.

Sebelumnya, Bambang mengaku pernah mempela­jari pemberian asuransi untuk pengangguran di Australia. Di Negeri Kanguru, pengangguran mendapatkan dana bantalan namun dengan syarat setiap tiga bulan harus ikut daftar di bursa kerja. Namun, tidak sedikit, dari para pengangguran yang malah malas kerja karena sudah dapat benefit dari asuransi tersebut.

"Sisi positifnya, asuransi pengangguran bisa menjadi solusi keuangan tanpa harus mencairkan dana Jaminan Hari Tua (JHT)," ujarnya.

Ledakan Pengangguran

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksi, kelompok usia produktif pada 2019 akan men­capai 67 persen dari total popu­lasi penduduk nasional. Se­mentara 45 persen di antaranya berusia 15-34 tahun. Sementara 45 persen di antaranya berusia 15-34 tahun.

Bambang mengungkapkan, jumlah pengangguran di Indone­sia ke depan berpotensi mening­kat bila tak diantisipasi.

"Jumlah pengangguran saat ini mencapai 7 juta orang, ini berpotensi meningkat tajam. Apalagi dengan pertumbuhan tenaga kerja per tahun sekitar 3-4 persen," ungkapnya.

Namun demikian, lanjut Bam­bang, bonus demografi terse­but bisa membawa dampak positif terhadap perekonomian bila mampu dikelola dengan baik. Yakni, pemerintah mampu mendorong peningkatan ke­mampuan sumber daya manu­sia (SDM), keterampilan dan pendidikan.

"Peningkatan jumlah pen­duduk usia produktif menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Karena jumlah pen­duduk mampu meningkatkan konsumsi, peningkatan investasi, dan produktivitas," terangnya.

Bambang mengaku, tengah melakukan koordinasi lintas sektor dengan berbagai kemen­terian, lembaga, hingga indus­tri untuk menyiapkan potensi kelompok usia muda dalam menjawab tantangan demografi tersebut. Misalnya, dengan mengoptimalisasi fungsi dan peran Balai Latihan Kerja (BLK) dan lembaga pendidikan keju­ruan di seluruh Indonesia.

Begitu juga dengan pengem­bangan lembaga pendidikan dan pelatihan serta penyusunan standar kompetensi keahlian. Upaya tersebut tengah didorong untuk meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja muda di Indonesia.

Bambang mengakui, saat ini pemanfaatan pertumbuhan jumlah penduduk usia produk­tif masih belum optimal. Salah satunya terlihat dari Angka Partisipasi Kerja tahun 2015 yang tercatat masih sekitar 66 persen dengan kenaikan yang relatif lambat. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya