Berita

Sri Mulyani/net

Politik

Pegiat Anti Korupsi: Alasan Sri Mulyani Tidak Pas

SELASA, 29 AGUSTUS 2017 | 16:34 WIB | LAPORAN:

Alasan Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani atas penambahan dana bantuan untuk partai politik (parpol), demi keberlangsungan  politik dinilai kurang pas. Pasalnya kebijakan tersebut justru akan membebani keuangan negara.

"Ditambah lagi, Sri Mulyani jelas-jelas mengatakan bahwa bantuan keuangan parpol ini akan mempengaruhi RAPBN 2018," kata pengamat dan pengiat anti korupsi, Adilsyah Lubis kepada wartawan, Selasa (29/8).

Menurut dia, usulan Sri Mulyani soal adanya penambahan dana parpol dengan pelibatan KPK untuk mengurangi risiko perilaku koruptif dari para pejabat dan kader partai tidak cukup.


"Penambahan tersebut tentunya harus dengan sejumlah syarat, yakni nilai bantuan harus disesuaikan dengan iuran anggota, Ada Kode etik dan Mahkamah etik di internal parpol serta perekrutan kader parpol musti dilakukan terbuka dan transparan," katanya.

Adilsyah menegaskan dana ke parpol seyogyanya tidak perlu dinaikan. Sebab parpol harus bisa menghasilkan dana sendiri yang bisa didapat misalnya dari iuran anggota atau melalui kegiatan-kegiatannya.

"Kalau seperti sekarang ini, ada kesan pemerintah memanjakan parpol dengan memberikan bantuan dana bagi kelangsungan hidup parpol," katanya.

Dulu, tambah Adilsyah, diawal-awal kemerdekaan, tidak pernah ada parpol yang mendapat dukungan dana dari pemerintah. Mereka hidup mandiri sebagai partai yang tidak bisa diatur atau dipengaruhi oleh pemerintah.

"Disini independensi parpol sangat terjamin. Lagi pula, Kelangsungan hidup parpol tidak bisa tergantung kepada belas kasihan pemerintah, dengan memberikan bantuan dana," katanya.

Dengan adanya dana bantuan yang cukup besar itu, pihaknya  khawatir nanti orang-orang berebut bikin partai demi mendapat subsidi dana dari pemerintah.  Padahal sejatinya, orang mendirikan partai bukan buat cari duit, tapi buat menyalurkan ideologi dan gagasan-gagasan politiknya.

"Tapai kalau dapat bantuan dana seperti sekarang ini, maka independensi parpol-parpol tersebut patut diragukan," demikian Adilsyah.[san]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya