Berita

Pyongyang

Dunia

Melihat Rudal Korea Utara Dengan Cara Yang Lebih Adil

SELASA, 29 AGUSTUS 2017 | 16:19 WIB | OLEH: ALDI GULTOM

Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, tengah menyorot tajam sambil merasa was-was atas situasi terkini Semenanjung Korea.

Pemerintah Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara dilaporkan menembakkan rudal balistik melewati Pulau Hokaido, Jepang, yang akhirnya jatuh di Samudera Pasifik, Selasa (29/8).

Peluncuran diduga dilakukan dari sebuah lokasi di dekat ibu kota negara sosialis itu, Pyongyang, pukul 06.00 waktu setempat. Rudal itu disebut pecah menjadi tiga bagian dan jatuh di sisi timur laut Hokkaido di Samudera Pasifik.


Tak mengejutkan jika Korut kembali meluncurkan rudalnya. Rudal itu diluncurkan hampir dua pekan pekan setelah pertemuan yang dipimpin Ketua Solidaritas Korea dengan Rakyat Dunia, Kim Jong Suk, dan dihadiri delegasi dari puluhan negara.

Dalam pertemuan itu dibacakan sebuah seruan yang mengecam tindakan Amerika Serikat dan sekutunya mengisolasi Korea Utara dan menempatkan sistem persenjataan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Semenanjung Korea.

AS menambah parah situasi dengan melanjutkan rencananya menggelar kembali latihan militer bersama Korea Selatan pada Senin (21/8) di tengah ketegangan Semenanjung Korea yang terus meningkat.

Tindakan sepihak AS dan sekutunya tidak pernah mendapat porsi sorotan yang adil dari masyarakat dan media internasional terutama dunia Barat. Yang terjadi malah rentetan sanksi dalam sepuluh tahun terakhir, sejak 2006, yang dijatuhkan oleh PBB. Di 2017, setidaknya ada tujuh sanksi yang dijatuhkan PBB untuk Korea Utara. Semua sanksi terkait dengan uji coba persenjataan.

Bukan melemah, tekanan dari Amerika Serikat, Korea Selatan dan Jepang, bahkan Uni Eropa, malah seakan "memancing" Korea Utara untuk lebih memperlihatkan kemampuan militer mereka.

Fakta ini sejalan dengan pernyataan Dutabesar Korea Utara untuk RI, An Kwang Il, pada bulan Juni lalu ketika ia berkunjung ke kediaman pendiri Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea, Rachmawati Soekarnoputri.

“Mereka kira dengan menjatuhkan berbagai sanksi kami akan lemah. Justru sebaliknya, sanksi-sanksi itu lah yang membuat kami semakin kuat,” ujar Dubes An.

Selain itu, Korea Utara berkali-kali menyerukan bahwa pepecahan di Semenanjung Korea adalah produk Perang Dingin (Barat Vs Uni Soviet) yang diperburuk oleh intervensi kekuatan asing.

Termasuk disuarakan dalam Pertemuan Solidaritas dengan Rakyat Korea di Istana Kebudayaan Rakyat, Pyongyang, Rabu (16/8).

"AS yang bertanggung jawab langsung atas perpecahan di Korea, menjawab tawaran yang disampaikan RRDK untuk menggantikan perjanjian gencatan senjata dengan perjanjian damai, dengan latihan militer yang melibatkan kekuatan persenjataan dalam ukuran besar," begitu antara lain tertulis dalam surat itu.

Sukar untuk berharap masyarakat dunia mengubah paradigmanya, dan menyadari bahwa uji coba persenjataan dan peluncuran rudal Korea Utara adalah ekspresi membela harga diri dan martabat mereka sebagai bangsa yang dipecah belah dan dikepung sistem persenjataan asing di kawasan mereka sendiri.

Perlu diketahui juga, di bawah Kom Jong Un, Korea Utara tidak hanya memberikan tekanan pada pembangunan sektor militer dan pertahanan sebagai respons terhadap agresivitas internasional tetapi juga diimbangi dengan pembangunan ekonomi, atau dinamakan kebijakan byungjin.

Pemahaman yang lebih jernih mengenai persoalan ini didapatkan oleh diri saya sendiri ketika berkunjung ke Pyongyang sepanjang 13-18 Agustus lalu.

Melihat Pyongyang dari dekat dan berdialog langsung dengan warga Korea Utara tanpa tendensi negatif memang membutuhkan upaya tak mudah. Namun, setidaknya akan melahirkan paradigma yang lebih adil dan komprehensif dalam menilai konflik Semenanjung Korea dan menanggapi langkah militer Korea Utara.

Di sana, saya yang mendampingi Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea, Teguh Santosa, sempat mengabadikan dalam kamera maupun ingatan saya betapa bersahaja dan wajarnya warga Pyongyang menjalani hari-hari mereka di tengah tekanan militer maupun ekonomi dari AS serta sekutunya dan PBB. Kota itu dikelola dengan apik dengan melibatkan partisipasi warganya secara langsung.

Dan dari pembicaraan ringan dengan beberapa warga Korea Utara yang saya temui sejak di kereta dari Beijing dan di Pyongyang, saya mendapat benang merah bahwa sanksi PBB tidak berpengaruh banyak pada rakyat di negeri itu.

Sejak lama, Korea Utara selalu ditekan embargo dan diancam oleh sistem senjata yang ditempatkan AS di kawasan. Pada akhirnya Korea Utara pun merasa berhak melakukan apa yang mereka anggap "serangan preemtif". [ald]

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Korea Selatan Diisukan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz

Jumat, 04 September 2026 | 14:18

Purbaya Pamer Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen Tanpa Naikkan Tarif

Jumat, 04 September 2026 | 13:59

Target Lifting 2027 Diproyeksi Tercapai, Sumur Rakyat Jadi Penopang

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Prabowo Tawarkan 138 Blok Energi Indonesia kepada Investor Rusia

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Gus Kikin Mulai Susun Kepengurusan PBNU di Hari Perdana Ngantor

Jumat, 04 September 2026 | 13:31

Label “No Pork, No Lard” Tak Otomatis Berarti Halal

Jumat, 04 September 2026 | 13:20

Kenaikan Tarif Masuk Ragunan Masih Ramah di Kantong

Jumat, 04 September 2026 | 13:12

Legislator Soroti Anggaran Pemulihan Kantor DPRD NTB-Sulsel Pasca Demo Agustus 2025

Jumat, 04 September 2026 | 13:08

Pembangunan Dapur MBG Pakai APBN Jangan Jadi Beban Negara

Jumat, 04 September 2026 | 13:06

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga Eceran Tertinggi Beras

Jumat, 04 September 2026 | 13:01

Selengkapnya