Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan, Minyak Gas Bumi dan Umum (FSP KEP) mendukung penuh aksi ribuan petani tebu seluruh Indonesia, terkait kisruh harga gula.
Ketua Umum FSP KEP Sunandar menyatakan, unjuk rasa yang dimotori Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) murni membawa kepentingan petani. Karenanya, FSP KEP turut hadir memberikan dukungan untuk menyelamatkan petani dari ancaman kerugian pasca panen.
Dia menjelaskan, para petani menuntut kebijakan pemerintah supaya berpihak kepada petani tebu. Dengan cara meningkatkan Harga Eceran Tertinggi (HET) gula dari Rp 12.500 per kilogram menjadi Rp 14 ribu per kilogram. Sementara, Harga Pokok Pembelian (HPP) dari Rp 9.100 per kilogram menjadi Rp 11 ribu per kilogram.
"Kami memberikan apresiasi pada pemerintah dan APTRI yang sudah membuat kesepakatan. Kita mendorong keduanya untuk bisa merealisasikan harapan petani secepatnya, khususnya soal harga gula," kata Sunandar kepada redaksi, Senin (28/8).
Sunandar melihat bahwa aksi yang dilakukan petani merupakan wujud langkah advokasi di Indonesia. Dalam kondisi saat ini, petani terancam mengalami kerugian pasca panen dengan rendahnya harga gula, belum lagi serbuan gula impor juga mengancam gula petani yang tak terbeli.
"Sunandar sangat berharap bagaimana gula impor tidak beredar di pasaran konsumsi dan mewujudkan revitalisasi pabrik gula BUMN dan tidak menutup pabrik gula yang ada sebelum pemerintah membuat pabrik gula baru. Serta merealisasikan rendemen 8,5 persen di tahun 2017 sesuai yang telah dijanjikan," imbuhnya.
[wah]