Berita

Nazir Foead/Net

Wawancara

WAWANCARA

Nazir Foead: Soal Kebakaran Lahan Gambut, Saya Tidak Ingin Terdengar Omong Besar

SENIN, 28 AGUSTUS 2017 | 08:52 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Eks Direktur Konservasi WWF Indonesia ini menargetkan set­engah juta lahan gambut akan direstorasi hingga akhir tahun ini. Nazir mengatakan, jika diband­ingkan tahun 2015 dan tahun 2016, persentase angka keba­karan hutan di Indonesia sudah mengalami penurunan, termasuk persentase kebakaran hutan di lahan gambut. Berikut penuturan Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead kepada Rakyat Merdeka:

Hingga bulan akhir Agustus ini, sudah berapa banyak lahan gambut yang sudah direstorasi?
Ini kan kita kerjanya se-In­donesia raya. Maksudnya tidak hanya BRG, namun juga meli­batkan pemerintah, kementerian, masyarakat, NGO, TNI-Polri, kan semuanya bergerak sesuai amanat Presiden. Sebagian ada yang bergerak bersama kami, se­bagian ada yang bekerja sendiri tanpa kami karena ingin kerja cepat ya. Nah total dari tahun 2016 hingga sekarang jumlah lahan yang sudah direstorasi kurang lebih sekitar 230-240 ribu hektare.

Hingga akhir tahun ini, tar­getnya berapa lahan gambut yang dapat direstorasi?

Hingga akhir tahun ini, tar­getnya berapa lahan gambut yang dapat direstorasi?
Sampai akhir tahun ini kita harapkan angka 230-240 ribu hektare itu akan bertambah jum­lah lahan yang direstorasi lebih luas, karena dalam program kami saja itu sudah 150 ribu hek­tare yang akan ditambahkan lagi, itu di luar punya perusahaan, berarti kan angkanya akan naik terus. Kalau untuk perusahaan saja kita targetkan 250 ribu hek­tare. Mungkin nanti akan sampai setengah juta hektare ya.

Kalau untuk 2 juta lahan gambut yang direstorasi, ka­pan targetnya kan tercapai?
Itu target untuk 31 Desember 2020.

Penyebarannya dimana saja yang dilakukan restorasi itu?

Umumnya di Sumatera dan Kalimantan. Papua memang belum, kita baru sampai tahap konsultasi, konsolidasi, koor­dinasi dengan pemerintah kota maupun kabupaten, jadi tahun ini untuk di wilayah Papua be­lum kerja lapangan ya.

Tapi meski sudah banyak la­han yang direstorasi mengapa hingga kini masih banyak areal lahan gambut terbakar seperti yang terjadi di Riau, bahkan baru-baru ini terjadi di Aceh?
Saya ingin menjelaskan ini dari latar belakang terlebih dahulu, karena saya tidak ingin terdengar omong besar atau membela diri. Pertama, BRG (Badan Restorasi Gambut) ini hanya bekerja di tujuh provinsi karena mandat dari Presiden seperti itu, kita tidak boleh bekerja di Aceh.

Lho kenapa begitu?
Karena perintahnya kita hanya kerja di Riau, Sumsel, dan Jambi kalau untuk di Sumatera. Nah, tugas utama kami adalah meng­koordinasi dan memfasilitasi sesuai perintah Presiden kegiatan restorasi gambut dan perenca­naannya, walaupun kita juga eksekusi karena kita juga diberi­kan anggaran. Kemudian kalau kita lihat titik panas berdasar­kan laporan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) yang menggunakan satelit, jumlah hotspot dalam seminggu terakhir se-Indonesia yang ada di lahan gambut itu umumnya di bawah 10 persen. Seperti pada tanggal 24 Agustus 2017 itu ada 300 hotspot, lalu di lahan gambut itu ada 17, itu berarti persentasenya kecil. Dalam seminggu terakhir, dari pantauan kita cukup optimis­tis bahwa upaya pemerintah dan semuanya, hasilnya cukup baik.

Secara umum jika diband­ingkan dengan tahun lalu, jumlah kebakaran hutan dan lahan tahun ini apakah sudah jauh menurun atau masih tetap sama saja?
Jumlah kebakaran tahun 2017 cukup rendah dibandingkan dengan tahun 2016. Kemudian proporsinya di gambut juga turun agak banyak. Sehingga mengesankan kesadaran dari masyarakat dan perusahaan. Padahal di tahun 2015, persentase kebakaran di lahan gambutnya mencapai 36 persen. Kita upaya­kan angka kebakaran di tahun 2017 ini akan lebih rendah. Kita juga ingin pada tahun 2018 dan tahun selanjutnya angka keba­karan berkurang.

Lantas ke depannya langkah apa saja yang mesti dilakukan untuk menekan angka keba­karan di lahan gambut ini?
Memang di lahan gambutlah yang paling parah, yang pal­ing banyak asap, paling sulit dipadamkan tapi kan jangan sampai kita hanya fokus tidak terbakar di lahan gambut saja, namun fokus juga tidak terbakar di lahan lainnya. Kita juga ingin semuanya bisa terkontrol, sekali lagi ini kerja semuanya. Kendala untuk semuanya, yakni cuacanya semakin ekstrem. Di Amerika saja pada tahun 2017 ini sudah terbakar 1,7 juta hektare, kita masih di angka ribuan haktare. Itu karena memang kering sekali. Kedua, dengan cuaca ekstrem ini kan tentunya bahan bakar kayu-kayu kering, gambut-gambut ini kan memang banyak sekali, kita juga mengurangi insiden orang membakar. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Tidak Mengutuk Tapi Ayo Gugat Israel di PBB

Minggu, 05 April 2026 | 01:55

Energi Transisi Sulap Desa Rentan jadi Resisten

Minggu, 05 April 2026 | 01:32

1.305 Rekomendasi Audit BPK di Kementerian PU Belum Tuntas

Minggu, 05 April 2026 | 01:10

Pakistan Gratiskan Transportasi Umum Buntut Demo Kenaikan BBM

Minggu, 05 April 2026 | 00:52

Menang di Tingkat Kasasi, Natalia Rusli Fokus Kawal Perkara Pidana

Minggu, 05 April 2026 | 00:32

Pemerintah Desak DK-PBB Lindungi Pasukan Perdamaian di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 00:12

Pelni Sukses Layani 467 Ribu Penumpang Selama Arus Mudik-Balik Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 23:57

KSAD: Tiga Prajurit Gugur, Kami Sangat Kehilangan

Sabtu, 04 April 2026 | 23:32

Menlu Ungkap Ada Tiga Prajurit TNI Lagi Terluka di Lebanon

Sabtu, 04 April 2026 | 23:11

ITERA: Fenomena Langit Lampung Timur Diduga Sampah Antariksa Roket China

Sabtu, 04 April 2026 | 22:42

Selengkapnya