Berita

Megawati Soekarnoputri/net

Politik

Masinton: Megawati Realistis Soal KPK

JUMAT, 25 AGUSTUS 2017 | 16:48 WIB | LAPORAN:

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, tidak keberatan bila Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dibentuknya saat menjabat sebagai Presiden ke-5 RI "diobrak-abrik" oleh Panitia Khusus DPR RI.

"Dia (Megawati) realistis," kata Wakil Ketua Pansus KPK dari Fraksi PDI Perjuangan, Masinton Pasaribu, saat ditemui di Gedung Nusantara III, Jakarta, Jumat (25/8).

Dikatakan Masinton, KPK sudah melenceng dari tujuan awal pembentukannya ketika pemerintahan Megawati mendirikannya 15 tahun silam. Megawati sendiri menyadari kenyataan tersebut.


"Yang lain saja sudah menyadari. Ukurannya sudah 15 tahun, indeks korupsi kita begini-begini saja, jauh di bawah Malaysia, rangking kita begitu-begitu saja, 90-100. Sudah 15 tahun loh," tambahnya.

Masinton membandingkan KPK dengan komisi  serupa yang dimiliki Hong Kong. Lembaga itu dibentuk pada 1974, memperbaiki sistem pemberantasan korupsi sampai sistem itu benar-benar kokoh.

"Institusi-institusi yang korup itu (di Hong Kong) dibersihkan. Dia fokus, KPK-nya Hong Kong fokus," imbuh Masinton.

Masinton mempertanyakan KPK RI yang seakan hanya mau mengusut kasus-kasus korupsi bidang tertentu.

"Apa pernah KPK masuk ke sektor pengelolaan tambang, migas, yang banyak potensi kebocoran keuangan negara? Di sana potensi kerugian negara mencapai Rp15 ribu triliun, itu hilang dari pajak dan royalti hasil dari pengelolaan tambang dan SDA. KPK pernah masuk ke sana untuk mencegah kebocoran itu? Enggak pernah," sesalnya.

Masinton menilai KPK telah gagal dalam membangun sistem anti korupsi. Pada dasarnya, KPK dibentuk untuk meningkatkan daya guna dan hasil pemeberantasan korupsi.

"Mendayagunakan itu adalah kepolisian dan kejaksaan yang sudah lebih dulu ada dan bisa memberantas korupsi. Meningkatkan hasil guna, mampu membangun sistem antikorupsi sehingga kebocoran negara bisa diminimalisir dan penerimaan negara mampu dioptimalkan," demikian Masinton. [ald]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya