Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah mengingatkan aparat penegak hukum harus berhati-hati dalam menangani kasus penyebar hoax seperti kelompok Saracen dengan tidak berpihak ke siapapun.
"Dunia maya itu ada pertempuran dan pertempurannya itu ada pihak sana ada pihak sini. Jadi jangan hanya memakai label, tapi masuk ke substansinya bahwa hoax itu semuanya kriminal baik yang menyerang pemerintah maupun yang tidak menyerang pemerintah," tegas Fahri kepada wartawan di gedung Nusantara III Senayan, Jakarta, Jumat (25/8).
Makanya, lanjut Fahri, pihak kepolisian juga harus mengembangkan kasus itu secara adil, baik ke penyebar hoax pendukung pemerintah ataupun lawannya.
"Jadi jangan
hoax-nya itu sepihak gitu
loh. Karena itu bagaimanapun kan ada para pihak di dalam pertarungan ini semua yang ilegal harus dikejar," Fahri, menekanan.
Ia ingat dulu Prabowo Subianto juga pernah diserang
hoax. Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu digambarkan sosoknya seperti diktator Jerman Nazi, Adolf Hitler.
"Dulu ada tokoh besar yang menghajar Pak Prabowo dibikin pakai baju Hitler ada kumis kecil dia bilang ini calon pemimpin fasis, diktator gitu," tuturnya.
"Kenapa itu nggak jadi Saracen? Itu jahat
loh itu. Harusnya itu ditangkap juga. Dan ini kan tanpa laporan juga
nangkepnya. Kenapa yang itu nggak ditangkap tanpa laporan apalagi saya dengar orang itu diundang ke Istana. Wah itu nggak boleh
dong. Jadi keadilan itu harus tegak bagi pemerintah dan juga bagi rakyat umum," tegasnya.
Dalam melancarkan aksinya, kelompok Saracen selalu mengajukan proposal ke calon kliennya. Fahri Hamzah menegaskan bahwa bisnis seperti yang dilakukan oleh Saracen tak ubahnya
buzzer. Buzzer itu jelas dia, ada yang resmi, ada juga yang ilegal.
"Yang resminya kan banyak. Anda kira yang namanya Jasmav nggak pakai uang. Jasa-jasa
buzzer itu pakai uang. Sudah jadi konsultan murni ya, dulu kan hanya ada media orang bayar iklam di media. sekarang orang nggak bayar iklan. Orang bayar
buzzer. dan
buzzer ini ada yang robot pakai bahasa algoritma beg PT u. Dia bisa membuat
like buat persetujuan membuat blackmil. Semua bisa dijalankan pakai robot dan ini dunia baru siber ini," urainya.
Dengan kata lain, imbuh Fahri, kepolisian jangan menyederhanakan persoalan
hoax seperti menangkap kompoltan begal. Sebab, keduanya sangat berbeda
.[wid]