Berita

Foto/Net

On The Spot

Korban Kebakaran Kebayoran Mengungsi Di Masjid-masjid

Hampir Semua Harta Bendanya Hangus
SELASA, 22 AGUSTUS 2017 | 08:26 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kebakaran hebat melanda kawasan padat penduduk di Jalan Kangkung, RT 15, RW 006, Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (20/8). Akibatnya, puluhan bangunan hangus terbakar dan 120 orang mengungsi di tenda darurat.

Sehari pasca kebakaran, asap putih masih membumbung di antara puing-puing bangunan yang terbakar. Bau gosong bekas kayu terbakar cukup menyengat di sekitar lokasi. Akibatnya, beberapa warga yang lalu lalang di sekitar lokasi kebakaran menu­tup hidung.

Sementara, beberapa warga memilih mengais-ngais barang yang tersisa di antara tumpukan puing-puing. "TV saja yang selamat. Laptop, kulkas, mesin cuci dan cd player hangus," ujar Hardi, salah satu warga korban kebakaran, kemarin.


Mayoritas bangunan yang hangus berukuran kecil dan mudah terbakar karena dari bahan triplek dan kayu. Hal itu ditambah banyaknya toko kel­ontong di lokasi kebakaran yang menjual gas elpiji, sehingga api cepat membesar dan sulit dipad­amkan. Agar tidak membahaya­kan warga, di sekeliling lokasi kebakaran dipasang police line. "Api gede banget. Kayak pesta kembang api, soalnya tabung gas banyak yang meletus saat keba­karan," ujar Hardi kembali.

Pria 50 tahun ini lantas men­ceritakan kronologi terbakara­nya kebakaran di wilayahnya. Dirinya pertama kali melihat api di rumah seorang warga yang berada di tengah-tengah pemuki­man ini pada pukul 17.30 WIB. Api diduga berasal dari korslet­ing listrik. Sesaat kemudian, api cepat sekali merambat dari ru­mah warga satu ke rumah warga lainnya. "Rumah warga banyak dari papan, sehingga api sulit dipadamkan," sebut Hardi.

Setelah itu teriakan warga saling bersahutan. Orang-orang pun berlarian melalui sebuah gang kecil untuk menyelamatkan diri ke tempat aman. Beberapa warga sempat berusaha mem­adamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, usaha warga tak banyak membuahkan hasil dan api semakin besar. Hingga akhirnya, puluhan mobil pem­adam kebakaran datang. "Api baru berhasih dipadamkan jam 11 malam," ingatnya.

Akibat rumahnya terbakar, Hardi mengaku mengalami keru­gian puluhan juta rupiah karena beberapa barang berharganya hangus terbakar. "Pakaian ganti pun tidak sempat saya bawa karena panik. Hanya tersisa pakaian yang dipakai," ucapnya.

Kendati demikian, istri dan dua anaknya selamat dan tidak terluka sedikit pun. Saat ini se­luruh keluarganya masih mengungsi di tempat penampungan sementara. "Alhamdulilah, makanan dan pakaian bekas sudah tersedia di pengungsian. Pemerintah cukup sigap mem­bantu pengungsi," kata pria yang sudah tinggal di lokasi ini sejak tahun 1983.

Hardi berharap, pemerintah bisa memberikan bantuan uang agar korban kebakaran bisa kem­bali membangun rumahnya yang kini tinggal puing-puing. "Kalau tak ada bantuan uang, kami bin­gung mau tinggal dimana lagi," tuturnya.

Senada, korban lainnya, Rianto juga mengaku seluruh harta bendanya ludes terbakar. "Yang bisa diselamatkan hanya motor karena kebetulan di luar rumah. Istri dan anak selamat," ujar pria 60 tahun ini.

Sekarang, lanjut Rianto, se­luruh keluarganya mengungsi sementara ke rumah warga yang tidak terbakar, tidak jauh dari tempat ini. Juga, lanjut dia, se­bagian keluarganya mengungsi ke beberapa masjid di sekitar lokasi. "Kami tidak tahu sampai kapan di tempat pengungsian. Yang pasti, paling lambat dua minggu, soalnya lapangan akan dipakai untuk sholat Idul Adha," ujarnya.

Karena banyak barang warga yang habis terbakar, dia berharap ada bantuan bagi warga yang mengungsi, seperti kebutuhan pokok untuk seminggu ke depan. "Soalnya, warga yang mengungsi, semua barangnya habis ter­bakar dan tidak ada simpanan lagi," tuturnya.

Mrnurut Kapolsek Kebayoran Lama Kompol Kurniawan, ke­bakaran ini mengakibatkan 90 rumah hangus. "Ada beberapa korban luka karena menyela­matkan barang berharga, tapi tidak ada korban jiwa," ujar Kurniawan.

Menurut Kurniawan, kebakaran terjadi sekitar pukul 18.00 WIB yang diketahui oleh saksi bernama Bustomi dan Riyanto. Saat itu, Bustomi sedang berjalan kaki di dekat lokasi kejadian. Saat bersamaan, dia melihat ada api di rumah warga bernama Jaja. Tak hanya Bustomi, Riyanto juga melihat api dari rumah Jaja. "Kemudian, api membesar dan merambat, membakar rumah lainnya," ujar Kurniawan.

Lebih lanjut, kata dia, api membakar beberapa rumah dalam hitungan jam. Api da­pat dipadamkan setelah 30 unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian. "Kerugian ditaksir ratusan juta rupiah," sebutnya.

Hingga saat ini, sambung Kurniawan, polisi masih melakukan pemeriksaan untuk me­nyelidiki penyebab kebakaran tersebut.  

Latar Belakang
Hawa Panas Dan Angin Kencang Membuat Api Cepat Sekali Merambat


Kebakaran besar terus melanda kawasan pemukiman padat penduduk di Jakarta. Minggu lalu, giliran puluhan rumah di Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan yang terbakar. Akibatnya, sekitar 120 keluarga kehilangan tempat tinggal.

Diduga, api bermula dari hubungan arus pendek listrik di rumah seorang warga ber­nama Jaja. Kebakaran yang terjadi pada pukul 17.50 WIB ini, baru bisa dipadamkan menjelang pukul 22.00 WIB.

Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kota Jakarta Selatan, Irwan mengatakan, pihaknya mengerahkan 27 unit mobil pemadam kebakaran untuk mengatasi kebakaran di Kelurahan Grogol Selatan. "Informasi dari warga, per­cikan api berasal dari salah satu rumah. Tapi, penyebab pastinya belum diketahui," ujar Irwan.

Menurut Irwan, kebakaran tersebut mengakibatkan lebih dari 90 kepala keluarga kehil­angan tempat tinggalnya. Api berhasil dipadamkan setelah empat jam sejak kebakaran terjadi. Akibat kebakaran itu, satu warga terluka ringan saat membantu memadamkan api. "Sudah dibawa ke puskesmas. Saat ini sudah padam, penye­lidikan penyebabnya masih berlangsung," ujarnya.

Selama proses pemada­man, kata dia, petugas sempat mengalami kesulitan karena angin yang cukup kencang. "Kalau hawa panas ditambah angin, cepat merambat," tan­das Irwan.

Menurut Lurah Grogol Selatan Agung Wibobo, seban­yak lebih dari 90 keluarga mengungsi di tenda-tenda darurat. ***

Populer

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Miliki Segudang Prestasi, Banu Laksmana Kini Jabat Kajari Cimahi

Jumat, 26 Desember 2025 | 05:22

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

UPDATE

Lima Penyidik Dipromosikan Jadi Kapolres, Ini Kata KPK

Senin, 05 Januari 2026 | 12:14

RI Hadapi Tantangan Ekonomi, Energi, dan Ekologis

Senin, 05 Januari 2026 | 12:07

Pendiri Synergy Policies: AS Langgar Kedaulatan Venezuela Tanpa Dasar Hukum

Senin, 05 Januari 2026 | 12:04

Pandji Pragiwaksono Pecah

Senin, 05 Januari 2026 | 12:00

Tokoh Publik Ikut Hadiri Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:58

Tak Berani Sebut AS, Dino Patti Djalal Kritik Sikap Kemlu dan Sugiono soal Venezuela

Senin, 05 Januari 2026 | 11:56

Asosiasi Ojol Tuntut Penerbitan Perpres Skema Tarif 90 Persen untuk Pengemudi

Senin, 05 Januari 2026 | 11:48

Hakim Soroti Peralihan KUHAP Baru di Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:44

Akhir Petrodolar

Senin, 05 Januari 2026 | 11:32

Kuba Siap Berjuang untuk Venezuela, Menolak Tunduk Pada AS

Senin, 05 Januari 2026 | 11:28

Selengkapnya